weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Folk ceremony : Upacara Adat Mandi Kasai 3

Folk ceremony : Upacara Adat Mandi Kasai 3

·

Upacara Adat Mandi Kasai
Lubuk Linggau Sumatra Selatan

Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3


Mandi Kasai





Tiba di tepian sungai para penoyan dan tua gadis membantu pengantin perempuan berganti pakaian mandi, tua bujang dan teman-teman membantu pengantin laki-laki. Anak-anak dan bujang dere lainnya yang akan ikut mandi bersama juga telah siap dengan pakaian mandinya masing-masing.

Seusai memakai telesan mandi pengantin, tua bujang dan tua dere membimbing pengantin untuk duduk bersanding bersimpuh di atas selembar tikar purun yang telah dibentangkan oleh pembawanya.

Kedua pengantin akan dilanger oleh pelara laki-laki dengan tujuan agar pasangan pengantin merasa mantap dan ikhlas meninggalkan masa remaja mereka dan siap menjalankan tugas untuk hidup berumah tangga.

Kedua pengantin duduk bersimpuh menghadap pelara yang berdiri dihadapannya. Sebelum melanger, sambil memegang mangkok dan air langer, pelara akan membaca mantera:

Bismillahirrohmanuirrohin
Bujang empat puluh lah kompol
Gadis empat puluh lata undak
Lepaslah penguluh bujang
Lepaslah penguluh gadis
Die seaggok tunggal kate
Die sekate tunggal bese

Setelah membaca mantera, pelara melanger pengantin dengan cara memeras air jeruk nipis secara bergantian ke atas kepala kedua pengantin.

Pelangiran ini dilakukan secara bergantian sehingga pengantin masing-masing mendapat tiga atau lima atau tujuh kali perasan air jeruk nipis secara bergantian ke atas kepala kedua pengantin.

Setelah melanger, pelara mengajak penonton untuk bersorak “Sorak Benyoan Oi ...” Yang berarti upacara langiran telah selesai. Setelah itu para penoyak menarik pengantin ke tepi sungai dan mendorongnya ke air sambil bersorak-sorak.

Kemudian penoyan yang juga tercebur lalu menyiram-nyiramkan air ke darat sehingga mengenai para penonton yang berdiri di tepi sungai.

Penonton yang basah duluan juga menyiramkan/menceburkan teman-temannya sehingga terjadilah siram-siraman. Acara inilah yang dikenal dengan istilah mandi simburan.

Setelah mandi, pengantin dibimbing ke tepian untuk berganti pakaian. Pengantin laki-laki dibantu oleh tua bujang dan teman-temannya memakai pakaian pengantin yang telah disiapkan.



Cara memakai pakaian pengantin :
Pengantin laki-laki

berkain songket/tajung diikat dengan badong, selendang rebang dililitkan di pinggang terlebih dahulu. Kemudian diselempangkan ke dada, kepala memakai deda. Keris disisipkan di pinggang dan memakai sandal pengantin.

Pengantin perempuan
dibantu oleh tua dere dan teman-temannya mengenakan pakaian pengantin.
Cara pemakaian:
berkain gantung songket/lasem, memakai pending, berselendang rebang untuk menutupkan dada, rambut disanggul dan dipakaikan pilis serta tapung.

Pengantin kembali duduk bersanding dengan bersimpuh di atas tikar purun untuk mengadakan acara makan sirih dan pemasangan sumping.

Kepada kedua mempelai disodorkan peliman sirih yang telah disiap kan dan secara bersamaan mereka mengambil satu lipatan sirih lalu saling suap, sisa sirih yang tidak habis dimasukkan kembali ke dalam peliman.



Sebelum memasang sumping yang terbuat dari dedaunan sedengen, setati dan beringin diikat dengan benang tiga warna, pelara terlebih dahulu akan membaca mantera berikut:

Payuh kundu merelah naek
Soring endak numtai dendam rindu
Ndak renjik di sie depa
Ndak mantap di kandung ibu
Jangan nga ilang di tenga malam
Jangan nga ilang di tenga duka
Kor hamangat nga anakku
Setelah pelara selesai memasang sumping ke telinga kedua pengantin, pelara akan berseru: “Sorak Benyoan Oi ...” Teriakan ini diikuti oleh penonton yang hadir pada acara tersebut. (aminuddin)

Note :
Menurut beberapa sumber yang admin baca, tradisi ini hanya dilakukan di Sungai Kelingi sebagai tempat pemandiannya.(Tun Jang)


KategoriUpacara Adat
GenreSuku di Lubuk Linggau
Sub GenreMandi Pengantin
Penulis:Aminuddin
AuthorSriwijaya Post 150211
EditorTun Jang
PhotoDispudbar, Lubuk Linggau 2011

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by