weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: 9. Tambo Kejai : Kejai

9. Tambo Kejai : Kejai

·

9. Kejai





Klik
Kembali ke Bag.8


Mengingat segala bahan telah terkumpul, Rajo Magek mengumumkan bahwa bimbang gedang akan dimulai pada malam purnama bulan depan.

"Raden, bagaimanakah bentuk dan corak perhelatan yang akan kita laksanakan ini? Adakah Raden mempunyai suatu rencana?", kata Rajo Magek ketika mereka sedang berunding untuk merencanakan acara perhelatan.

"Kejai", jawab Raden Cetang dengan singkat.
"Apakah Kejai itu dan bagaimana pula cara caranya?"
"Adat dan cara Kejai ada di Wingin culo waktu, dak peak sembilan tambun, penan diwo bercelunok, duwate becelutau, nak Padang Gersik Bulan", jawab Raden Cetang menjelaskan.

"Kalau begitu, baiklah kita jemput adat dan cara kejai itu. Akan saya perintahkan ananda Setio Mengar untuk mengambilnya. Tak baik ananda Raden pergi jauh. Banyak nahas kalau sedang jadi penganten".

Demikian, Setio Megar diutus ke seberang laut untuk mengambil adat dan cara kejai. Setio Megar adalah anak laki laki kedua Rajo Magek dengan Siti Rahma.

Tiba di Wingin culo watu, para dewa mengatakan bahwa adat dan cara kejai untuk Bermani telah di bawa ke Mojopahit. Di Mojopahit didapatinya penjelasan bahwa adat dan cara kejai untuk Bermani telah dibawa oleh Raden Cetang ke seberang laut. Entah di mana ia sekarang mereka tak tahu.

Mendengar penjelasan ini, kembalilah Setio Megar ke Kutai Ukem dekat Muara Santan. Langsung dilaporkannya kepada ayahnya bahwa adat dan cara kejai telah dibawa dan disimpan oleh adinda pengantin. (Raden Cetang).

Rajo Magek menyampaikan berita ini kepada Raden Cetang dan memohon agar adat dan cara kejai itu dikeluarkan.

"Jangankan Raden hendak menyusahkan kami juga. Bukankah perhelatan kita sudah dekat waktunya?"

"Kalau begitu, baiklah", kata Raden Cetang sambil menggores pusatnya yang selebar gendang itu dengan ujung kerisnya. Keluarlah dari dalam pusat selebar gendang itu segala macam/bentuk adat istiadat. seperti adat semendo, adat beleket, adat caro bekutai natet dan cara cara kejai.

Adat semendo adalah peraturan peraturan tentang tata cara kedudukan/status seorang laki laki terhadap mertua. Ada beberapa macam adat semendo, yaitu semendo rajo-rajo, semendo an (lama), semendo menangkap burung terbang semendo bubung ke bubungan.

Kalau seseorang berstatus semendo rajo-rajo misalnya, maka laki laki itu akan tinggal di rumah mertuanya sebagai seorang raja.

Segala hasil pencahariannya mutlak menjadi miliknya. Kalau ia meninggalkan rumah mertua, semua hak miliknya itu boleh dibawanya.

Lain halnya dengan semendo menangkap burung terbang. Selagi lelaki itu masih di rumah mertuanya, boleh ia menikmati hasil pencahariannya. Tetapi bila ia hendak turun dari rumah itu (pulang ke rumah orang tuanya) atau dengan perkataan lain tidak akan tinggal bersama mertuanya lagi, maka ia harus turun dari rumah itu seperti halnya datang dulu. Ia tidak berhak membawa segala hak milik yang diperolehnya selama di rumah mertuanya itu.

Adat beleket ialah seorang perempuan setelah kawin harus mengikuti suaminya. Pelaksanaannya seolah olah sang perempuan dijual oleh saudaranya yang laki-laki. Jangankan pulang, menghadap muka ke rumah orang tuanya pun tidak boleh. Perempuan itu tidak berhak lagi menerima hak waris dari pihak orang tuanya.

Dengan lahirnya adat dan cara kejai itu, resmilah permulaan dan pembukaan kejai pertama dalam daerah suku Rejang. Menurut cara yang ditetapkan, kesenian kejai diiringi dengan gong kelintang dan dep. Penari lelaki dan perempuan tidak boleh semarga. Satu marga berarti satu keturunan biku.

Di daerah Lebong umpamanya, dibagi atas empat marga. Tapi untuk adat kejai yang diakui hanya tiga bahagian marga. yaitu :
  1. Marga bermani Juru Kalang, yang asalnya dulu dari dua biku
  2. Marga VIII/suku IX
  3. Marga selupuh Lebong.
Namun demikian, kalau ada tamu yang akan menari datang dari luar daerah Lebong ini, maka marga yang ketiga itu tidak boleh saling berhadapan lagi.

Jumlah penari tidak terbatas. Bergantung kepada luasnya balai. Jumlah penari lelaki dan perempuan tidak harus sama banyaknya. Posisi penari berbaris lurus, berhadap hadapan, dibatasi dengan kayu penyukung (garis tengah balai), sebuah tiang tengah balai.

Pada tiang tengah balai itu diikatkan bermacam macam benda upacara, seperti tombak betepang, keris pendok, pedang, sirih pinang dengan gagangnya, tebu dan lain lain.

Sebelum menari, penari lelaki minta izin kepada tua bujang, penari perempuan kepada tua gadis, dan menanyakan apakah ia boleh menari atau tidak. Kalau tidak ada hubungan keturunan tentu dibolehkan. Setelah diberi izin masuklah mereka ke balai dan mulailah mereka menari.

Gerakan yang pertama adalah menyembah kepada inang bati. Kemudian diteruskan dengan menari. Penari lelaki mengayunkan tangan dari samping kanan, kemudian menyusun jari didepan perut sebelah kiri. Sedangkan penari perempuan memegang setang, yaitu selendang yang diampaikan di punggung.

Ketika penari lelaki mengayunkan (menadah tangan) setinggi bahu, penari perempuan mengikutinya dan tak lama kemudian kembali memegang setang.

Setelah beberapa lama mundur maju, lalu bertukar tempat. Ketika melewati sukung, masing masing penari mematah dayung.

Pada pertengahan menari, hampir pada pertukaran tempat yang kedua, tiba tiba semua alat bunyi bunyian dihentikan, penaripun duduk bersimpuh karena akan diadakan sambei andak, yaitu semacam pantun yang bersahut-sahutan. Isi sambei menceritakan suka duka penghidupan di dunia.

Setelah bersahut-sahutan kira kira dua atau tiga kali, gong kelintang berbunyi lagi dan menaripun di teruskan.

Tidak setiap menari diadakan sambei andak. Biasanya apabila akan dilaksanakan sambei andak ini lebih dahulu ada persetujuan antara kedua pihak penari. Sebelum menari diumumkan bahwa dalam tarian yang akan berlangsung itu ada sambei andak.

Maka bersiap siaplah para petugas peralatan menyediakan tikar, pesanggen (sebangsa baki buah buahan), lengkap dengan sirih sekapurnya, dan sebuah kipas untuk tiap pasangan yang akan digunakan untuk penutup muka ketika menyambei nanti.

Kadang kadang sambei itu dilanjutkan dengan serambak, yang isinya tentang tambo atau silsilah. Acara serambak ini sering mengakibatkan salah satu pihak tidak dapat menjawab. Hal yang demikian itu dianggap kalah.

Pada hari ketiga atau keempat, turunlah anok sangai. Menurunkan anok sangai dari rumah kediamannya ke balai diiringi dengan kelintang acak, yaitu gong kelintang yang dibunyikan sambil berjalan. Arakan ini dikawali oleh beberapa orang pengawal dengan bersenjata pedang dan keris terhunus.

Jalan yang akan dilalui oleh anok sangai harus ditutup dengan tikar permadani atau sejenis dengan itu. Anok sangai akan berhadapan menari dengan salah seorang tamu yang dianggap sepadan, umpamanya anak pangeran, atau anak orang ternama lainnya.

Anok sangai boleh diartikan anak yang disayangi (mungkin inilah asal katanya). Sebab dikatakan demikian, karena pelayanan terhadap anok sangai sangat diutamakan. Apalagi anok sangai yang datang dari marga lain (tamu). Anok sangai beserta inang batin, tua bujang dan tua gadisnya dijamin oleh pelaksana kejai baik makanan maupun keselamatannya.

Apabila para tamu menginap di suatu rumah penduduk, maka tamu itu dijemput oleh bujang gadis, dari dusun yang mengadakan kejai. Pejemputan itu lengkap dengan sirih pinangnya (iben penaok = sirih penyapa).

Penjemput mengunjukkan sirih penyapa dan mulailah menyerambak :


Klik
Menuju Bag.10

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by