weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Remidu, Remayu, dan Penyamun - Dongeng dari Bengkulu

Remidu, Remayu, dan Penyamun - Dongeng dari Bengkulu

·

Diceritakan kembali oleh:
Naqiyyah Syam dan Sri Rahayu, S.Hut.
(Guru SDIT Baitul Muslim dan Ketua FLP Cabang Lampung Timur)


DI zaman dahulu kala hiduplah dua gadis kakak beradik yang cantik jelita. Mereka adalah Remidu dan Remayu. Mereka tinggal di sebuah dusun di hulu sebuah sungai. Dusun itu baik sekali letaknya. Penduduknya kaya raya, hasil pertaniannya melimpah. Tak heran bila semua penduduknya hidup sejahtera, aman, damai dan ramah-tamah.

Remidu dan Remayu tak hanya cantik. Mereka memiliki budi yang baik, yakni santun bertutur kata dan rajin bekerja. Tak cuma itu, mereka juga pandai berdendang (bernyanyi). Suara keduanya sangat merdu tak ada bandingannya. Rambut keduanya panjang hitam tergerai, kulit kuning langsat, gigi putih berseri, bila tersenyum sangat manis dari kedua bibir yang merah delima itu.


Keduanya menjadi idola dan idaman setiap pemuda kala itu. Semua ingin sekali mempersunting mereka menjadi istri. Mereka berpikir alangkah bahagianya seandainya memiliki istri yang cantik jelita, pasti anak-anak yang akan dilahirkan kelak juga akan cantik atau tampan seperti ibunya. Maka setiap pemuda berlomba-lomba merebut perhatian Remidu dan Remayu.

Setiap pagi dan senja hari, gadis-gadis dusun itu pergi bersama untuk mandi di sungai. Waktu pulang mereka akan bernyanyi bersama. Saling bersenda gurau, memuji keindahan alam dusunnya. Mereka bernyanyi dengan suara yang merdu dan menawan hati bagi para pendengarnya. Kecantikan mereka terkenal ke mana-mana. Hampir di setiap daerah. Semua membicarakan Remidu dan Remayu. Keduanya menjadi buah bibir. Tak hanya mengagumi kecantikannya, mereka juga menyukai budi pekertinya juga kemerduan suaranya yang membuat orang terpukau mendengarnya. Termashyurlah nama kedua gadis itu sampai ke pelosok negeri.

Di sebuah dusun lain. Daerah yang jauh dari dusun Remidu dan Remayu, tinggallah beberapa orang penyamun (perampok). Penyamun mendengar kabar kecantikan Remidu dan Remayu, juga mengenai kekayaan penduduk dusun itu yang hasil pertaniannya melimpah. Mendengar kabar itu, para penyamun mengatur siasat. Mereka mengatur rencana mencari letak di mana dusun Remidu dan Remayu. Mereka berembuk (rapat) mengatur rencana jahat, yakni merampok semua harta benda penduduk dan akan melarikan gadis yang cantik, Remidu dan Remayu.

Pada suatu malam. Ditemani sinar rembulan. Para penyamun melaksanakan rencana mereka. Dengan pikiran yang jahat mereka terus berjalan mencari dusun yang mereka tuju. Setelah menempuh hutan rimba dan melalui beberapa dusun, dan bertanya kesana-kemari. Akhirnya sampailah para penyamun tadi ke dusun yang mereka cari. Mereka tak langsung memasuki dusun itu, tapi mereka mengatur siasat terlebih dahulu.

Beberapa di antara mereka secara diam-diam memasuki dusun itu untuk mengetahui keadaan dusun. Mereka sangat berhati-hati agar tidak ketahuan maksud jahatnya. Setelah yakin telah menguasai keadaan dusun itu, di mana tempat penyimpanan barang-barang berharga. Setelah persiapan matang, dicarilah waktu yang tepat untuk memasuki dusun itu secara serentak.

Setelah berembuk, maka mereka memilih waktu senja (ketika matahari terbenam). Di senja yang redup, menjelang malam yang kelabu bagi penduduk dusun itu, di kala para gadis bercanda dengan kedua orang tua mereka di rumah masing-masing, tiba-tiba datanglah para penyamun itu dengan bengis. Rombongan penyamun memasuki dusun secara serentak. Penduduk menjadi panik. Suasana jadi tak menentu, semua orang ingin menyelamatkan diri mereka masing-masing. Dusun ditinggalkan begitu saja. Harta benda berhamburan. Mereka lari masuk hutan menyelamatkan dirinya. Dusun porak poranda dikuasai penyamun, penduduk telah hilang karena ketakutan.

Remindu dan Remayu tidak lari bersama penduduk lainnya, tetapi tetap berada di dusun itu. Mereka membuat rencana sendiri. Keduanya menyambut penyamun tadi. Mereka menyuguhkan tarian dan nyanyian yang merdu. Rombongan penyamun sangat gembira. Mereka berkumpul mengelilingi Remidu dan Remayu mengagumi kecantikan dan gemulainya tarian mereka. Para penyamun lupa dengan tujuan mereka ke dusun itu. Berjam-jam lamanya para penyamun mengelilingi Remidu dan Remayu terus menyanyi dan menari. Di dusun yang telah porak poranda itu hanya ada Remidu dan Remayu karena penduduk lainnya lari menyelamatkan diri ke hutan.

Akhirnya malam pun tiba. Remidu dan Remayu tak henti menyanyi dan menari. Para penyamun gembira alang kepalang di kelilingi kedua gadis pujaan. Sampai larut malam mareka terus menyanyi dan menari. Tiba-tiba secara gaib kedua gadis itu menghilang dari pandangan para penyamun. Tinggallah suaranya saja yang terdengar, makin lama menghilang pula. Lenyaplah gadis Remidu dan Remayu.

Bersamaan dengan menghilangnya gadis tadi, dusun-dusun yang ditinggal tadi berubah menjadi hutan belantara. Dusun itu hilang tanpa jejak, seperti halnya Remidu dan Remayu. Para penyamun terjebak di dalam hutan yang tidak bertepi. Di malam yang gelap gulita di tengah rimba raya, rombongan penyamun tersebut terkurung tidak tahu jalan keluarnya. Mereka tersesat dan kelaparan. Akhirnya sekarang daerah tersebut dikenal dengan hutan Remidu dan Remayu.


0 comments:

Rejang Land Pal

Support by