weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Kisah Batu Amparan Gading - Cerita Rakyat Bengkulu

Kisah Batu Amparan Gading - Cerita Rakyat Bengkulu

·

Oleh :
Naqiyyah Syam,
tinggal di Lampung Timur

ZAMAN dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Raja Muda dan permaisurinya Putri Gadi. Mereka dikaruniai dua orang anak, putra dan putri. Kehidupan mereka bahagia, tenteram dan damai di sebuah kerajaan yang indah. Sayang, takdir telah mengariskan, permaisuri sakit keras dan meninggal dunia. Semua berduka dan bersedih karena tak bisa lagi bermain dan berkumpul di atas Batu Amparan Gading.

Selang beberapa bulan. Raja Muda menikah lagi. Keceriaan hadir kembali. Kedua anak Raja Muda turut bahagia karena ibu tiri mereka cukup perhatian. Namun sayang, cinta dan perhatian ibu tiri tak kekal. Ibu tiri hanya baik hati jika di hadapan Raja Muda, selebihnya ibu tiri sering marah.

Mereka kembali bersedih, kasih sayang seorang ibu yang mereka impikan pudar sudah. Dulu, mereka dapat berkumpul bersenda gurau di atas Batu Amparan Gading, tapi kini tak dapat dirasakan lagi.

Suatu hari, ibu tiri mereka keluar istana. Ayah mereka pun tugas di luar istana. Keduanya merasa sangat lapar, tapi makanan belum tersedia, karena ibu tiri melarang makan tanpa persetujuannya.

Untuk menghilangkan rasa lapar, mereka terus bermain. Tapi perut mereka berteriak minta diisi.

"Dik, tunggulah di sini, akan kucarikan makanan untukmu," ujar sang pangeran menghibur hati adiknya.

"Baiklah, Kak, pergilah."

Sambil membawa seruas bumbung, sang kakak pergi mencari makanan. Tak jauh dari sana, sampailah ia ke tempat orang menumbuk padi.

"Ibu, bolehkah saya meminta melukut (serpihan beras) sedikit untuk makan ayam saya?" tanya pangeran sedikit berbohong. Ia tak ingin si Ibu curiga padanya.

"Boleh, Nak, ambillah," kata ibu itu sambil tersenyum. Pangeran lega. Dengan gembira ia berjalan menuju tempat adiknya menunggu.

Tiba-tiba, ibu tiri mereka pulang dan sangat murka setelah melihat bekas permainan mereka yang berserakan di atas Batu Amparan Gading. Apalagi melihat remah-remah bekas makanan di antara mainan. Ibu tiri semakin naik pitam, ia melihat biji puar (sejenis tumbuhan hutan). Biji puar itu dikiranya nasi karena memang sangat mirip dan bunga dadap yang berwarna merah disangkanya sisik ikan. Ia mengira kedua anak tirinya telah mencuri makanan.

Tanpa ampun, ibu tiri memarahi kedua kakak-beradik itu. Ia mencerca, menghardik, dan memukulnya. Suara tangis dan jerit kesakitan serta minta ampun kedua anak tirinya tak dihiraukannya. Setelah puas, ia pergi ke istana dan meninggalkan keduanya.

Pangeran dan putri langsung berpelukan. Mereka menangis di atas Batu Amparan Gading. Badan mereka terasa sakit dan letih karena kelelahan akhirnya mereka tertidur. Beberapa saat kemudian pangeran terbangun dari tidurnya. Air matanya kembali mengalir deras mengingat kekejaman ibu tiri mereka. Sambil memandang adiknya yang masih tertidur, ia meratapi nasibnya yang malang. Ingin rasanya ia pergi jauh, berharap penderitaan segera berakhir. Bersama air mata yang terus mengalir, ia mengucapkan kata-kata :

Entak-entak bumbung seruas

Meninggilah Batu Amparan Gading

Mak dan Bapak buruk makan

Kami Hendak pulang ke pintu langit

Biji puar di sangka nasi

Bunga dadap di sangka ikan

Kami dituduh maling makan

Tiba-tiba Batu Amparan Gading yang mereka duduki meninggi. Penuh heran keduanya mengulangi dan menugucapkan kata-kata tadi. Namun Batu Amparan Gading semakin meninggi.

Sementara di istana gempar. Raja yang baru pulang dari perjalanan, marah besar ketika mengetahui kedua anaknya tidak ada di dalam istana. Segera ia mencari ke halaman istana. Di sana dilihatnya Batu Amparan Gading telah meninggi jauh dari atap istana. Raja sangat heran melihatnya, tapi ia juga sangat kuatir bila kedua anaknya terjatuh. Ia pun segara memerintahkan orang-orang di sekitarnya untuk menurunkan kedua anaknya.

Orang-orang pun berdatangan, mereka berusaha memberikan pertolongan. Berbagai cara telah dilakukan. Ada yang berusaha menghancurkan pangkal batu dengan alat penokok (pemukul), ada yang berusaha mendorong batu untuk merobohkannya, bahkan ada yang memanjatnya. Tapi semua sia-sia belaka. Batu Amparan Gading semakin meninggi. Akhirnya mereka pasrah.

Raja tertunduk diam. Ia berduka atas kepergian kedua anaknya. Teringat kembali akan kesalahannya selama ini yang telah menelantarkan kedua anaknya. Adapun kedua anaknya, mereka telah semakin tinggi, bahkan hampir ke pintu langit. Mereka berusaha ingin masuk, tapi pintu langit sudah tutup. Mereka terus mencoba tanpa putus asa, berharap mendapat tempat yang tentram. Saat mereka terus berusaha, melintaslah seekor Burung Garuda. Keduanya meminta pertolongan Burung Garuda membantu membuka pintu langit.

Dengan paruhnya yang besar dan tajam akhirnya pintu langit terbuka. Kakak-beradik itu langsung masuk menuju tempat kedamaian dan ketentraman yang mereka impikan. Secara tiba-tiba pula Batu Amparan Gading semakin merendah kembali seperti sedia kala.

Kini, tinggallah Raja Muda yang bersedih hati dan istrinya yang jahat dan tamak. Batu Amparan Gading yang telah kembali seperti sedia kala menjadi saksi bisu atas tuduhan kejam si ibu tiri dan kesedihan kakak-beradik itu. ***



0 comments:

Rejang Land Pal

Support by