weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Desa Batu Belarik, Kepahiang, Tanah Rejang

Desa Batu Belarik, Kepahiang, Tanah Rejang

·

Oleh: Erwin S Basrin


Batu Belarik adalah salah satu Desa Tua yang masuk ke dalam sistem kelembagaan Marga Bermani Ilir, dan secara Administratif berada di Kecamatan Bermani Ilir Kabupaten Kepahiang untuk mencapai Desa Batu Belarik ini membutuhkan perjalanan selama 1 jam dari Ibu Kota Kabupaten Kepahiang dan 10 Menit dari Ibu Kota Kecamatan Bermani Ilir yang berada di Desa Kaban Agung. Sebagai bagian komunitas Suku Rejang sistem kekerabatan di Batu Belarik masih menganut sistem Patrilinial yang eksogami.

Baru Belarik diambil dari Nama Situs batu yang berada di Desa ini diperkirakan peningalan zaman Megalitikum, dari cerita ninik Mamak yang ada di Batu Belarik, Konon batu ini adalah ‘ jelmaan dari deretan orang-orang yang sedang mencari kutu ketika si Pahit Lidah lewat dan kemudian disumpah menjadi batu’.
Sampai saat ini dimana situs ini berada masih dipercayai mempunyai kekuatan magis, “dulu pesawat saya tidak bisa melintasi pas diata batu ini, dan pasti pesawat ini berbelok” cerita Cik Nanang tokoh masyarakat Desa Batu Belarik. Situs ini sengaja tidak dipelihara karena akan mengungundang orang-orang yang berbuat sirik dan mempercayai benda-benda tertentu yang kemudian mensekutukan tuhan, ditambah Cik Nanang.

Situ Batu Belarik ini berada tepat di pinggir desa Batu Belarik yang berpenduduk sekitar 800 jiwa ini, sebagian besar penduduknya adalah petani dengan komoditas utamanya adalah Kopi dan Lada, dengan kondisi wilayah berada di lereng Bukit Kemenyan membuat kita betah berlama-lama di desa yang ketika kita memasuki desa pastinya kita akan temui beraneka ragam tanaman bunga, dimana tiap-tiap rumah penduduk diwajibkan untuk menanam bunga. Penduduk masyarakat Desa Batu Belarik beragama Islam yang taat dan Batu Belarik adalah salah satu Desa yang ada dilingkup Kabupaten Kepahiang yang mempunyai 2 buah masjid meski ada beberapa perbedaan keyakinan yang tidak substantif namun masyarakatnya masi saling menghormati antar mereka.

Sebagai Komunitas masyarakat adat, masyarakatnya masih teguh memengan sistem adat Rejang hampir setiap acara pernikahan pasti digelar berbagai kesenian dan ritual adat, dan pastinya nilai-nilai lokal dalam mengatur hubungan antar mereka terpelihara dengan baik demikian juga dengan kearifan lokal dalam menjaga alam sebutan Rajo Penjago Kutai Nated masih sering kita dengar untuk menyebutkan posisi Kepala Desa yang juga dianggap sebagai Kepala Adat, salah satu dari kearifan lokal yang nyata adalah aliran air yang melintasi Desa ini, masyarakat tidak dibenarkan untuk membuah sampah atau kotoran di sepanjang aliran ait ini dan ada larangan yang tidak tertulis untuk menjaga daerah air yang menjadi sumber air ini.

Sejauh ini sistem lokal yang ada mampu menjaga wilayahnya terhadap longsor akibat kemiringan dan jenis tanah di Desa Batu Belarik yang mana kondisinya menunjukan bahwa tenaga potensi air yang ada termasuk ke dalam kategori tinggi sehingga daya rusak (erosivitas) dan pelimpasan (run off) yang tinggi dan faktor vegetasi serta faktor masyarakat yang cenderung membudidaya lahan pertanian monokultur, ladang terbuka dengan tanaman sejenis.

“Dengan kerifan yang kami miliki sampai saat ini kami terbebas dari bencana alam” tegas Arian warga Batu Belarik yang saat ini menjadi tenaga relawan di Yayasan Akar Bengkulu, dan ini akan tetap terjaga meskipun pemerintahan Kabupaten tidak begitu mau mendudung beberapa inisiatif yang sedang kami bangun, cerita Arian dengan semangat. Warga Batu Belarik sangat menghormati tamu yang datang ke Desa ini, setiap tamu yang datang biasanya dijamu (dilayani) dan biasanya ketika malam banyak orang tua dusun yang mengajak tamu ini bertandang ke rumahnya atau berkumpul dan bercerita tentang banyak hal dan tidak ada kecurigaan di sana terhadap masyarakat luar.

Jika dibandingkan dengan Rejang baik yang ada di Wilayah Lebong maupun Rejang Lebong perbedaan mendasar yang ada adalah pada sistem dialeg bahasa yang banyak mengunakan akhiran ho atau o, lak mai ipo (mau kemana) di Lebong Lok Moi Ipe, di Rejang Lebong Lak Mai ipe, di satu sisi bahasa di Batu Belarik sebagai bagian dari komunitas Bermani Ilir ada banyak bahasa kuno yang masih digunakan misalnya Muen (merajuk), bekumet (acara makan-makan).

Batu Belarik sebagai bagian komunitas adat Marga Bermani Ilir masyarakatnya masih mempercayai berasal dari Lebong atau Kesatuan Bermani Lebong yang secara patrinial adalah keturunan Bikau Bermano yang berkedudukan di Keramat Tepat Rukem, dan mempercayai bahwa desa-desa tua yang ada di Barmani Ilir selain Batu Belarik adalah Desa Limbur Lama, Cinto Mandi dan Kaban Agung sebagai tempat kedudukan Kepala Marga.

Sumber :
http://wintopos.wordpress.com/2008/06/06/hilangnya-sang-negosiator/

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by