weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: MERETAS KEHIDUPAN BARU DI TANAH HARAPAN BENGKULU : SEJARAH BENGKULU 1908 – 1944

MERETAS KEHIDUPAN BARU DI TANAH HARAPAN BENGKULU : SEJARAH BENGKULU 1908 – 1944

·

Oleh : Dr.Lindayanti.M.Hum
Retype by : Adi Marhaen

Peserta kolonisasi dari Jawa yang pertama datang di Bengkulu ditempatkan di sekitar perkebunan dan pertambangan di Rejang-Lebong. Sebagian besar mereka adalah petani miskin yang direkrut dari berbagai desa oleh migran lama dengan bantuan Kontrolir Cicuruk. Mereka datang dalam kelompok kecil.

Pada pelaksanaan kolonisasi setelah tahun 1930, Bengkulu yang memiliki struktur tanah bergelombang, dianggap kurang layak untuk dijadikan daerah kolonisasi dalam skala besar.[1] Akan tetapi atas dasar pertimbangan keberhasilan kolonisasi sebelumnya dan permintaan pemerintah daerah Bengkulu,[2] kolonisasi pertanian dibuka pada tahun 1933. Meskipun demikian, anggaran pemerintah untuk kolonisasi di Bengkulu lebih kecil dibandingkan daerah lain, seperti Lampung dan Palembang. [3]

Pada awal kehidupan di ‘Tanah Sabrang’, para migran di kedua daerah kolonisasi mengalami kesulitan yang sama, misalnya serangan berbagai macam penyakit dan tidak tersedia irigasi untuk mengairi persawahan. Akan tetapi, di ‘Tanah Sabrang’ kehidupan mereka menjadi berubah, yaitu dari kelompok masyarakat tidak bertanah menjadi petani pemilik tanah.

A. Kehidupan Baru di Desa Migran Kolonisasi Rejang

A.1 Permasalahan pada Awal Kedatangan

Di daerah yang baru, para migran mendapatkan tanah yang berupa hutan belukar muda yang banyak ditumbuhi alang-alang (Imperata cylindrica L.). Agar bisa menjadi lahan pertanian dan pekarangan, mereka harus membuka hutan itu. Pekerjaan ini dilakukan secara bersama-sama. Pembukaan lahan untuk pertanian berjalan lebih lambat karena peserta kolonisasi terlebih dahulu menyiapkan lahan untuk membangun rumah sementara mereka. Dalam waktu satu bulan, para peserta kolonisasi bisa menyelesaikan pembangunan rumah. Migran kolonisasi yang belum menikah tinggal bersama-sama dalam satu rumah, ataupun mereka akan tinggal bersama migran yang sudah berkeluarga. Setiap pemilik tanah pekarangan membuat batas tanah dengan pagar bambu di sekeliling tanah pekarangan mereka. Rumah-rumah migran kolonisasi berdinding pelupuh yang ditutup kertas Cina untuk menahan masuknya udara malam yang dingin.[4]

Setelah menyelesaikan pembagian lahan untuk tanah pekarangan, mereka mulai membuka hutan untuk menyiapkan lahan sawah ataupun ladang. Secara bergantian mereka bekerja. Apabila seseorang membuka lahan pertanian, maka teman-teman satu rombongan membantu. Pada giliran kawannya membuka lahan, maka kolonis yang telah memiliki lahan pertanian membantunya. Mereka bekerja bersama-sama atas dasar tolong-menolong tanpa pembayaran dan dilakukan secara sukarela.

Peserta kolonisasi dapat bersawah padi basah apabila di tempat tersebut telah tersedia irigasi, sedangkan peserta yang mendapat lahan yang belum memiliki irigasi, mereka harus membuat terlebih dahulu irigasi sebelum membuka persawahan. Berdasarkan faktor ini, keberhasilan antara kelompok migran kolonisasi dengan kelompok migran lainnya berbeda. Misalnya, kelompok peserta kolonisasi yang ditempatkan di desa migran Permu, mendapatkan lahan pertanian yang telah memiliki irigasi. Oleh sebab itu, pada tahun 1909 peserta kolonisasi di Permu telah berhasil membuka persawahan seluas 20 bau.

Pada lain pihak, kelompok peserta kolonisasi yang ditempatkan di Air Sempiang masih disibukkan oleh pekerjaan memperbaiki saluran irigasi yang sudah lama tidak dapat dipakai. Sampai tahun 1909, mereka masih bertanam padi (Oryza sativa L.) di ladang kering, di tanah yang ditumbuhi alang-alang. Berkali-kali mereka mengalami gagal panen dan berpindah-pindah tempat guna mencari lahan baru untuk ditanami padi sehingga pada tahun 1912 di desa migran Air Sempiang terjadi kekurangan pangan.

Hal itu juga dialami oleh peserta kolonisasi yang ditempatkan di lahan dekat Curup. Lahan yang diberikan masih berupa hutan belukar muda dan belum memiliki saluran irigasi untuk mengairi persawahan mereka. Oleh sebab itu dalam beberapa tahun setelah kedatangan, mereka masih berladang padi di antara tonggak-tonggak sisa penebangan pohon.

Selain mengalami gagal panen, peserta kolonisasi juga menghadapi berbagai serangan penyakit, terutama malaria. Karena banyak migran kolonisasi yang terserang penyakit malaria maka pekerjaan membangun saluran irigasi terhenti. Kemudian, pada tahun 1910 banyak migran terserang penyakit flu Spanyol, dan disentri yang mengakibatkan kematian. Jumlah migran yang meninggal dunia berjumlah 66 orang, terdiri atas 22 orang dewasa (17 orang laki-laki) dan 44 orang anak-anak, atau kurang lebih 10% dari penduduk migran yang berjumlah 650 orang.[5] Menghadapi keadaan seperti ini, pemerintah memberikan bantuan berupa makanan dan obat-obatan. Migran kolonisasi yang sakit ditangani oleh dokter orang Eropa yang berada di Kepahiang karena banyak migran kolonisasi yang sakit, banyak persawahan yang tidak tergarap.

Berkurangnya jumlah penduduk migran selain disebabkan oleh angka kematian migran yang tinggi, juga disebabkan oleh beberapa migran pulang atau dipulangkan ke Pulau Jawa. Migran yang pulang ke Jawa disebabkan berbagai alasan, salah satunya mereka tidak tahan menghadapi kesulitan di daerah baru. Pada tahun 1910, migran yang kembali ke Bogor berjumlah dua orang.

Selain migran yang pulang atas kemauan sendiri, juga ada keluarga migran dikembalikan ke daerah asal oleh pemerintah setempat. Pada tahun 1910, pemerintah memulangkan tiga orang migran karena tidak mampu bekerja keras sehingga dianggap tidak berguna bagi kemajuan program kolonisasi. Pada kasus ini, uang persekot yang diberikan kepada mereka dianggap lunas oleh pemerintah. Akan tetapi, bila migran pulang ke Jawa atas kemauan sendiri, mereka harus melunasi hutang kepada pemerintah.

Karena jumlah penduduk di desa migran kolonisasi berkurang, pada tahun 1909 dan tahun 1910 pemerintah giat melakukan pencarian penduduk dari Jawa yang bersedia pindah ke Rejang. Hasilnya, pada tahun 1910 penduduk di tiga desa migran kolonisasi Rejang berjumlah 522 orang. Pada tahun 1911, ketiga desa migran kolonisasi itu kembali mendapat tambahan pendatang baru sehingga penduduk migran berjumlah 596 orang migran, yang terdiri atas 230 orang laki-laki, 150 orang wanita, dan 216 anak-anak.[6]

Pada tahun 1912, jumlah penduduk migran kembali berkurang karena 26 orang migran meninggal dunia, 10 orang di antaranya adalah anak balita yang meninggal dunia karena

sakit radang paru-paru.[7] Tahun berikutnya, penduduk migran yang meninggal dunia berjumlah 9 orang, 4 orang di antaranya adalah anak balita yang meninggal dunia akibat gangguan makan dan demam. Penduduk migran dewasa yang meninggal berjumlah 5 orang karena penyakit beri-beri, demam, disentri, dan penyakit busung.[8]

Penduduk migran dari Jawa rentan terhadap penyakit beri-beri karena di desa migran masih sering terjadi kekurangan pangan. Hal ini antara lain disebabkan hasil panen tidak mencukupi kebutuhan hidup migran.[9] Dalam rangka mengatasi kesulitan migran mendapatkan uang untuk membeli beras, pemerintah menyediakan pinjaman uang bagi mereka.

Sejak tahun 1912, program pencarian peserta kolonisasi difokuskan pada kelompok petani miskin dari daerah Bagelen dan mereka akan ditempatkan di Pasar Curup. Hal ini antara lain karena hasil percobaan kolonisasi di Kepahiang kurang baik karena lingkungan yang tidak sehat. maka percobaan selanjutnya dialihkan ke Pasar Curup yang banyak terdapat lahan dapat diairi dan lingkungan lebih sehat. Kontrolir G.A. van Drunen juga menetapkan tidak akan mendatangkan lagi migran orang Sunda tetapi migran orang Jawa yang menurutnya lebih mudah diajak kerjasama.[10]

Program itu dimulai pada tahun 1913 dengan cara memberangkatkan Radjiman, kepala kampung desa migran Jawa di Curup disertai isterinya Djemina dan dua orang pembantu, yaitu Soeropawiro dan Setrowirono ke Kutoarjo untuk mencari petani-petani miskin yang mau diajak pindah ke Rejang.[11] Melalui kerja sama dengan Kontrolir Kutoarjo, mereka berhasil mendapat 53 orang calon kolonis, yang terdiri atas 20 orang laki-laki, 18 orang perempuan, dan 15 anak-anak, yang berasal dari Kutoarjo. Di Rejang mereka ditempatkan di desa migran kolonisasi Talang Benih (Curup).

Oleh karena keterbatasan dana, pada tahun 1913 pemerintah Bengkulu melaksanakan program kolonisasi spontan, yaitu kolonis yang menanggung biaya perjalanan sendiri. Hasilnya, pada tahun 1913 pemerintah Bengkulu mendapatkan calon kolonis berjumlah 11 orang yang terdiri atas empat orang laki-laki, empat orang perempuan, dan tiga anak-anak, yang bersedia berangkat ke Bengkulu atas biaya sendiri. Kedatangan mereka menambah jumlah penduduk pada tiga desa migran kolonisasi, yaitu menjadi 768 orang.

Dengan bertambahnya pendatang baru dari Pulau Jawa, lahan persawahan di tiga desa migran kolonisasi di Rejang pun makin luas, yaitu kurang lebih 96 bau dengan luas persawahan yang berbeda (Tabel. 8.1). Misalnya, lahan persawahan di

desa migran Permu lebih luas, yaitu 54,25 bau daripada lahan persawahan di desa migran Talang Benih (Curup) yang hanya 10,25 bau (Gambar. 8.1). Hal semacam ini terjadi karena kolonis yang tinggal di Permu mendapatkan lahan bekas sawah yang memiliki saluran irigasi [12]

Pada tahun 1914 saat terjadi musim kering yang panjang hampir semua migran kolonisasi tidak dapat menanam padi. Mereka hanya dapat mengumpulkan kayu bakar untuk dijual dan uang yang didapat bisa untuk membeli kebutuhan hidup. Bahkan di Desa Talang Benih (Curup) terdapat 30 keluarga migran mengalami kekurangan makan karena persediaan beras sudah habis.

Musim kering yang panjang juga menyebabkan banyak migran terserang penyakit, misalnya penyakit malaria, demam, sakit mata, dan sakit paru-paru ringan. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah menyediakan tenaga medis dan obat-obatan, seperti pil kina untuk penyakit malaria. Dengan usaha tersebut jumlah migran yang meninggal dunia relatif sedikit, yaitu delapan orang, terdiri atas lima orang dewasa dan tiga orang anak karena penyakit cholera dan disentri.

Migran kolonisasi, selain diberi bibit padi oleh pemerintah, mereka juga diberi bibit tanaman eskpor, misalnya tembakau (Nicotania tabacum), teh (Camellia sinensis L.), dan kopi (Coffea canephora L.). Tujuannya agar migran dari Jawa memiliki penghasilan tambahan dari berbagai tanaman ekspor ini. Akan tetapi, tidak semua program pemerintah dapat berjalan, misalnya penanaman tembakau kurang berhasil karena migran Sunda kurang berminat menanam tembakau. Jumlah tanaman tembakau hanya sedikit ditanam di kebun-kebun mereka.

Hal ini berbeda saat pemerintah memberikan bibit tanaman teh. Migran Sunda menerima dengan antusias sehingga di kebun mereka banyak ditanami pohon teh. Misalnya, pada tahun 1913 di desa migran kolonisasi Air Sempiang, tanaman teh berjumlah 33.420 batang, di Desa Permu 14.275 batang, dan di Desa Talang Benih (Curup) hanya terdapat 200

batang. [13] Hasil tanaman teh penduduk migran dapat dijual

kepada perusahaan korporasi milik orang Cina, atau menjual

sendiri ke Pasar Kepahiang.

Percobaan lain yang berhasil adalah pemberian bibit tanaman kopi jenis robusta yang berasal dari Perkebunan Suban Ayam. Pada tahun 1912, di desa-desa migran dari Jawa telah terdapat 5.749 pohon kopi dan pada tahun berikutnya tanaman kopi telah bertambah menjadi 39.386 pohon. Sebagian besar tanaman kopi terdapat di Kolonisasi Air Sempiang, yaitu 20.328 pohon, di Permu terdapat 10.058 pohon, dan di Curup 9.000 pohon. Sampai dengan tahun 1914, tiga desa migran kolonisasi di Rejang terdapat 76.128 batang pohon kopi.

Percobaan penanaman beberapa tanaman dagang lain, yaitu kelapa (Cocos nucifera L.) dan karet (Hevea brassiliensis L.) kurang berhasil. Hal ini disebabkan iklim daerah Rejang terlalu dingin sehingga pertumbuhan pohon menjadi lambat. Oleh sebab itu, di desa-desa migran kolonisasi hanya terdapat 406 pohon karet jenis ficus elastica dan jenis hevea berjumlah 600 pohon.

Pada saat tanaman dagang mereka sudah dapat menghasilkan, maka migran sudah bisa mendapatkan uang tunai. Misalnya, pada tahun 1915, kebun-kebun teh milik migran kolonisasi di desa Air Sempiang telah menghasilkan daun teh (Camellia folium L.) sebanyak 162,81 pikul, dan para migran bisa menjual dengan harga berkisar antara f. 0,36 sampai f. 0, 40/kati.

A.2 Saat Kehidupan telah Membaik

Memasuki tahun ke-7 sejak kedatangan migran di Rejang, masih cukup banyak migran kolonisasi yang berladang padi meskipun sebenarnya migran lebih suka bersawah daripada berladang. Hal ini antara lain disebabkan tidak semua desa migran kolonisasi tersedia saluran irigasi. Misalnya, migran kolonisasi yang ditempatkan di Desa Air Sempiang dan Talang Benih (Curup) sampai tahun 1916 masih banyak yang berladang padi. Keadaan ini berubah pada tahun 1916, saat saluran irigasi di Desa Air Sempiang dapat digunakan lagi. Pada tahun 1917, hasil panen padi bertambah dari 2.831 pikul pada tahun 1916 menjadi 8.207 pikul pada tahun 1917. (Tabel. 8.2)

Pada umumnya, sejak tahun 1915 dapat dikatakan kehidupan migran dari Jawa telah membaik. Rata-rata migran telah memiliki rumah, lahan persawahan, dan kebun kopi di sekitar pekarangan rumah. Akan tetapi, keberhasilan migran kolonisasi di Rejang secara ekonomis tidak sama, juga antara satu desa migran dengan desa migran lainnya. Migran kolonisasi yang bertempat tinggal di desa kolonisasi Air Sempiang, hidupnya lebih makmur karena mereka dapat mencari kerja sampingan sebagai kuli di perkebunan.[14] Di samping itu, migran pun sudah memiliki sendiri kebun teh dan kopi di pekarangan rumahnya. Migran juga diuntungkan karena desa mereka tidak tergabung dalam pemerintahan marga. Dengan demikian, migran dari Jawa tidak perlu melakukan kerja wajib kepada marga dan membayar pajak pemerintahan marga[15] sehingga uang yang diperoleh dapat untuk digunakan membangun rumah yang bagus. (Gambar. 8.2)

Perekonomian desa kolonisasi Air Sempiang menjadi semakin berkembang dengan dibangunnya jalan gerobak dari Air Sempiang menuju Pasar Kepahiang. Dengan demikian, migran dapat membawa hasil pertaniannya langsung di Pasar Kepahiang. Selain jalan tersebut, pada tahun 1914 pemerintah membangun, jalan tanah yang menghubungkan Desa Air Sempiang dengan Kampung Pensiunan di Kepahiang.

Desa migran kolonisasi lain yang berhasil dalam bidang pertanian adalah Desa Imigrasi Permu, yang jaraknya hanya tiga kilometer dari kolonisasi Air Sempiang. Desa tersebut merupakan contoh desa migran yang tergabung dalam pemerintahan Marga Bermani Ilir, yang cukup makmur. Apabila migran di desa Air Sempiang memiliki pekerjaan sampingan sebagai kuli perkebunan, maka migran di Desa Imigrasi Permu hanya berkonsentrasi pada pekerjaan sebagai petani. Penduduk di sini lebih sungguh-sungguh mengurus sawah, sehingga sawah-sawah terlihat lebih terpelihara daripada sawah di Air Sempiang. Lahan persawahan kolonis Imigrasi Permu yang letaknya di perbukitan ini dibuat berteras dan

dibuat terpisah dari lahan pekarangan rumah mereka.[16]

Daerah di sekitar lahan persawahan mereka masih berupa hutan sehingga masih banyak binatang buas, misalnya harimau (Felis tigris L.) dan babi hutan (Sus scrofa L.). Binatang-binatang ini sering merusak tanaman padi, bahkan menyerang mereka saat bekerja di sawah. Oleh karena itu, untuk menjaga keselamatan migran dari Jawa ini pemerintah memberikan senjata api untuk berjaga diri kepada tiga orang migran.[17]

Pada tahun 1915, migran dari Jawa yang ditempatkan di Desa Imigrasi Permu telah memiliki lahan persawahan seluas 60 bau. Sebelum lahan persawahan ditanami padi, mereka memanfaatkanya untuk dijadikan kolam-kolam ikan emas, dan pekarangan rumah ditanami tanaman pisang (Musa paradisica L.), kopi (Coffea canephora L.), dan buncis (Phaseolus vulgaris L.).

Nasib desa kolonisasi Talang Benih (Curup) berbeda dengan desa migran kolonisasi Air Sempiang dan Imigrasi Permu. Sampai tahun 1915, Desa Talang Benih masih belum berkembang, meskipun jaraknya hanya setengah pal dari Pasar Curup. Penduduk Desa Talang Benih hanya berjumlah 162 orang pada tahun 1915 sehingga banyak lahan belum dibuka dan sawah tidak digarap karena kekurangan tenaga kerja. Lahan persawahan yang baru digarap hanya kurang lebih 10,25 bau, sedangkan luas lahan yang disediakan 100 bau berupa tanah vulkanis yang subur di kaki Bukit Kaba dan terdapat pengairan dari Air Duku.

Di Desa Talang Benih masih banyak dilakukan pembukaan-pembukaan hutan untuk lahan tempat tinggal dan lahan persawahan baru. Oleh karenanya masih banyak migran yang hidup dengan berladang padi di antara tonggak-tonggak sisa penebangan pohon. Tanaman dagang, seperti teh dan kopi di kebun masih belum berkembang. Di desa tersebut baru terdapat 200 pohon teh dan 9.000 pohon kopi.

Untuk menjaga kestabilan jumlah penduduk pencarian kolonis-kolonis baru terus dilakukan meskipun untuk itu pemerintah harus mengeluarkan biaya kurang lebih f. 2.000/tahun.[18] Misalnya, pada tahun 1918 desa Talang Benih (Curup) mendapat tambahan migran baru sehingga jumlah penduduk bertambah dari 191 orang menjadi 258 orang pada tahun 1919. Pengurangan penduduk dari tahun 1914 sampai tahun 1919 terutama terjadi di desa migran Air Sempiang, dari 324 orang menjadi 277 orang pada tahun 1919.

Kematian migran yang tidak diimbangi dengan kelahiran anak, dan banyak migran yang meninggalkan lokasi kolonisasi menyebabkan penduduk tiga desa migran kolonisasi di Rejang semakin berkurang. Misalnya, pada tahun 1917 jumlah penduduk di tiga desa migran berjumlah 831 orang menurun menjadi 799 orang pada tahun 1919. (Gambar. 8.3)

Penduduk desa migran kolonisasi berkurang, antara lain dapat disebabkan karena migran pindah ke desa lain, pulang ke Jawa, migran meninggal dunia, atapun karena angka kelahiran bayi yang rendah. Rendahnya angka kelahiran anak berkaitan dengan jumlah migran wanita lebih sedikit dibandingkan dengan migran pria. Misalnya, pada tahun 1915, migran kolonisasi laki-laki berjumlah 309 orang, sedangkan migran kolonisasi wanita hanya 209 orang. Hal ini pun terjadi pada perbandingan jumlah anak laki-laki dan perempuan, yaitu jumlah anak laki-laki 177 orang dan anak perempuan 136 orang.

Dengan adanya penambahan migran orang Jawa yang ditempatkan di Curup maka jumlah migran orang Sunda dan orang Jawa di Rejang hampir berimbang, yaitu sekitar 56% orang Sunda, dan 44% orang Jawa. [19] Kebanyakan migran orang Jawa berada di desa Talang Benih (Curup) yang dibuka pada tahun 1914. Sampai dengan tahun 1917 jumlah migran Jawa di Curup adalah 197 orang. Rumah yang sudah dibangun berjumlah 53 buah dan luas sawah yang telah dibuka adalah 65 bau.[20]

Setelah kurang lebih sepuluh tahun kedatangan migran kolonisasi yang pertama, jumlah penduduk di tiga desa migran kolonisasi adalah 764 orang. Migran telah memiliki lahan persawahan 187 bau dan sudah dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan dapat menjual hasil kebun mereka ke Pasar Kepahiang. Keberhasilan yang dicapai setelah sepuluh tahun migran dari Jawa berada di Rejang diperingati dengan upacara Selamatan besar. [21]

Pertanian padi bagi migran masih merupakan mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Pada tahun 1920, luas persawahan bertambah menjadi 223 bau dengan hasil padi 7.350 pikul[22], tetapi hasil itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri.[23] Mereka mendapatkan uang kontan dari tanaman dagang, yaitu teh dan kopi. Dengan adanya variasi tanaman dagang ini, maka migran memiliki pilihan terutama pada saat harga salah satu tanaman dagang rendah. Misalnya, pada saat harga kopi rendah, mereka akan membiarkan kebun kopinya, sebaliknya mereka lebih memelihara kebun teh. Sampai dengan tahun 1928, jumlah penduduk di Desa Migran Kolonisasi Air Sempiang, Permu, dan Talang Benih berjumlah 1.324 orang. Pertambahan penduduk terutama terjadi di Desa Talang Benih (Curup) dengan kedatangan migran baru dari Pulau Jawa. Pada saat itu kebanyakan migran sudah dapat menjual sebagian dari hasil panen, dan mereka mendapat hasil tambahan dari budi daya ikan emas (Carassius auratus L.), bertanam sayur, dan berkebun teh dan kopi. (Tabel. 8.3 )

A.3 Pertanian Alternatif di Masa Krisis Ekonomi

Pada tahun 1930-an di Rejang masih banyak petani yang berladang padi dengan luas ladang garapan sekitar 6.380,75 bau, jauh lebih besar dibandingkan persawahan yang digarap, yaitu seluas 1.596 bau (Tabel. 8.4 ). Lahan persawahan yang

luas terutama terdapat di desa-desa kolonisasi, Durian Mas, Talang Benih, dan Permu. Sebagian lagi terdapat di desa kolonisasi Pelalo Baru, Air Sempiang, Pulau Geto, dan Belumai, dan beberapa desa penduduk asli, yaitu lahan persawahan Cawang (Kejalo), Dusun Curup, dan Pelalo.

Pada masa krisis ekonomi, petani ladang lebih cepat kembali ke ladang garapan pertama, dibandingkan masa sebelum krisis. Hal ini disebabkan banyak penduduk kembali berladang, dan masalah keterbatasan lahan garapan di Rejang. Keterbatasan ini berkaitan dengan masih terjadi migrasi penduduk masuk sehingga lahan yang bisa digarap menjadi berkurang.

Apabila dahulu petani baru kembali ke ladang pertama sekitar lima sampai tujuh tahun, maka setelah tahun 1930 mereka lebih cepat kembali menggarap ke ladang pertama, yaitu sekitar tiga sampai empat tahun. Akibatnya, hasil panen padi ladang mereka berkurang. Permasalahan lain terjadi di Marga Bermani Ilir, yaitu penduduk terpaksa berladang di lahan yang ditumbuhi alang-alang.

Krisis ekonomi yang disertai jatuhnya harga kopi di pasar dunia dirasakan berat bagi petani karena kopi merupakan sumber penghasilan utama petani. Saat itu, kebanyakan petani kopi tidak melakukan penanaman baru dan tidak merawat tanamannya dengan baik. Oleh sebab itu, kebun-kebun kopi cepat sekali rusak dan kebun rakyat lebih menyerupai hutan kopi. Jarak penanaman antara pohon kopi yang satu dengan lainnya yang terlalu dekat menyebabkan pohon tumbuh seperti semak belukar. Hal ini menyulitkan petugas untuk menghitung jumlah tanaman kopi rakyat, kadang mereka menyebut jumlah pohon kopi.

100 pohon, dan kadang disebut berjumlah 1.000 pohon.[24]

Kopi biasanya ditanam di ladang bekas penanaman padi. Setelah dua kali panen padi, ladang akan diubah menjadi kebun kopi. Kebanyakan petani menggunakan hasil penjualan kopi untuk membayar pajak ataupun untuk membeli bahan kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, pada saat harga kopi turun, seperti yang terjadi pada bulan November 1937, banyak petani yang kekurangan uang untuk membayar pajak. Pada tahun 1938, penarikan pajak menjadi lebih sulit dilakukan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. [25]

Selain kopi, penduduk Rejang banyak menanam tembakau, apalagi setelah terjadinya krisis ekonomi dan jatuhnya harga kopi. Semula tembakau hanya ditanam petani di Marga Merigi dan Selupu Rejang, namun setelah krisis tembakau juga ditanam petani dari Marga Bermani Ulu , Sindang Klingi, dan beberapa dusun di Marga Bermani Ilir. Tembakau biasanya ditanam petani di ladangnya dan setelah tembakau dipanen, ladang ditanami padi.[26] Pada saat harga tembakau juga turun, misalnya pada awal tahun 1938 harga tembakau adalah f. 20/ kotak atau 400 lempeng dan kemudian pada bulan berikutnya harga terus menurun, maka banyak petani yang tidak menjual tembakaunya.

Tanaman ekspor teh yang semula banyak ditanam di desa migran kolonisasi Aer Sampiang dan Permu, saat krisis ekonomi kebun-kebun teh tidak terurus, bahkan sudah banyak tanaman teh yang mati. Para migran kolonisasi dari Jawa saat itu banyak yang beralih menanami kebun mereka dengan tanaman sayur. Mereka berminat menanam sayuran yang tidak banyak membutuhkan perawatan, misalnya kol (Brassica ragosa L.) dan petsai (Brassica chinensis L.). Sayur menjadi tanaman altenatif yang menguntungkan petani pada saat harga tanaman ekspor di pasar dunia tidak stabil.

Kol putih, tomat (Solanum lycopersicum L.), dan kentang (Solanum tuberosum L.) menjadi produk utama daerah Rejang, terutama dari Desa Migran Kolonisasi Imigrasi Permu dan desa migran kolonisasi Air Sempiang di Kepahiang.[27] Para migran menanam sayuran sebagai pengganti tanaman kopi. Keberhasilan migran dari Jawa dalam bertanam sayur diikuti oleh petani orang Rejang. Banyak petani di Rejang yang beralih ke tanaman sayur dan mereka menjualnya ke Curup sehingga kota Curup sejak tahun 1930-an dikenal sebagai pusat tanaman sayur. (Tabel. 8.5)

Meskipun petani orang Sunda dan petani orang Rejang bertanam sayur, masing-masing memiliki pilihan tanaman berbeda. Petani orang Sunda lebih suka menanam kol putih, sedangkan petani Rejang lebih memilih tanaman yang tidak memerlukan banyak pemeliharaan, misalnya petsai, kentang, dan wortel (Daucus carota L.). Para petani biasanya mulai menanam kol (Brassica olerasea L.) dan petsai (Brassica chinensis L.) di antara bulan Februari sampai Maret sehingga pada bulan Juni sampai Agustus kol dan petsai sudah dapat dipanen. Dalam masa penanaman, mereka memupuk tanaman, membasmi hama dengan arsenikum yang dibeli dari Perusahaan Internatio ataupun L.V.D. (Landbouw Voorlichting Dienst = Dinas Penyuluhan Pertanian ).

Petani yang bertanam sayur semakin banyak sehingga sering terjadi persaingan tidak sehat antar petani sayur. Terjadinya persaingan yang tidak sehat ini menyebabkan harga sayur jatuh di pasar. Oleh karena itu, pada tahun 1938 didirikan perkumpulan petani sayur yang bertujuan menyatukan petani sayur dan mencari pasar baru untuk memasarkan hasil sayur dari Rejang. Perkumpulan ini berdiri atas inisiatif Ajun Konsultan Pertanian Curup yang menyelenggarakan pertemuan petani sayur di Desa Air Sempiang. Hasil pertemuan itu adalah berdirinya perkumpulan petani sayur yang bernama “Mitra Sunda”.[28] Perkumpulan “Mitra Sunda” mengatur masalah penanaman dan pemasaran hasil sayur para petani dan untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam masalah penanaman dan pemasaran mereka dapat berkonsultasi dengan Ajun Konsultan Pertanian yang berkedudukan di Curup. Akhirnya, melalui perkumpulan “Mitra Sunda” para petani migran Sunda mendapatkan jalan untuk memasarkan langsung hasil sayurnya ke Pagar Alam. Pada tahun 1937 dan 1938, petani sayur sudah dapat menggantikan kiriman sayur untuk daerah Jambi dan Palembang yang biasa didatangkan dari Jawa dan Sumatera Barat.

Setelah tahun 1930, jumlah penduduk tiga desa migran kolonisasi, yaitu Permu, Air Sempiang cenderung tetap, hanya di Talang Benih yang mengalami pertambahan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk di Talang Benih disebabkan jumlah penduduk yang meninggalkan desa lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk yang datang. Talang Benih mendapat tambahan penduduk baru pada tahun 1938 dan 1939 sebanyak 134 orang. Desa migran Permu dalam waktu empat tahun mengalami penurunan dari 867 orang (tahun 1936) turun menjadi 834 orang pada tahun 1939. Hal ini disebabkan banyak penduduk yang meninggalkan desa, yaitu 85 orang. (Tabel. 8.6 )

Jumlah penduduk di desa Air Sempiang relatif stabil, yaitu 438 orang (tahun 1936) menjadi 436 orang pada tahun 1939. Hal ini

disebabkan letak desa migran berada di areal perkebunan maka pengembangan desa sulit dilakukan. Sejak tahun 1936 sampai tahun 1939 Desa Air Sempiang tidak mendapat tambahan penduduk baru, sedangkan jumlah migran yang meninggalkan desa hanya 21 orang. (Gambar 8.4 )

Selain disebabkan migran yang meninggalkan desa, menurunnya jumlah penduduk juga disebabkan tingginya angka kematian. Selama empat tahun jumlah penduduk yang meninggal dunia di tiga desa migran kolonisasi Rejang berjumlah 162 orang, sedangkan angka kelahiran anak adalah 231 orang. Angka kematian yang tertinggi terjadi pada tahun 1937, yaitu 67 orang. (Gambar. 8.5) Hal ini berkaitan dengan berjangkitnya penyakit malaria di desa-desa migran di Rejang.

Sampai dengan tahun 1940, mata pencaharian migran yang pertama datang ke Bengkulu adalah bertani, bertanam kopi seperti yang dilakukan oleh orang Rejang dan sebagian dari mereka bertanam sayur. Pengembangan lahan pertanian berhubungan erat dengan letak desa migran dan ketersediaan irigasi. Misalnya, lahan pertanian di desa migran Permu dari tahun 1936 sampai tahun 1939 mengalami peningkatan dari 209 ha menjadi 262 ha. Hal ini antara lain disebabkan tersedianya saluran irigasi Air Sengak. Oleh karena letak desa migran Air Sempiang di area perkebunan swasta maka perluasan lahan pertanian pun terbatas, yaitu dari 122 ha menjadi 138 ha pada tahun 1939. (Gambar. 8.6 )

Di Desa Permu pertambahan lahan ini berjalan seiring dengan pertambahan penduduk baru yang masuk ke Permu.

B. Kehidupan baru di desa migran kolonisasi di Bengkulu

Utara

B.1 Kolonisasi Perbo

B.1.1 Terbentuknya desa-desa migran kolonisasi

Penduduk dari Jawa yang dikirim ke Bengkulu, selain ditempatkan di daerah Rejang Lebong juga ditempatkan pada kolonisasi baru di Lais (Bengkulu Utara). Pengiriman dimulai dengan kedatangan rombongan kolonis yang berasal dari Banyumas sebanyak 45 kepala keluarga. Sebanyak 10 kepala keluarga ditempatkan di Tanjung Agung dekat kota Bengkulu dan

selebihnya, 35 kepala keluarga ditempatkan di Perbo.[29] Di Perbo, peserta kolonisasi dari Banyumas membuka desa baru yang diberi nama Desa Banyumas Baru. Kedatangan peserta kolonisasi dari Banyumas ini menambah jumlah penduduk migran kolonisasi sehingga pada akhir tahun 1930 di Bengkulu telah terdapat 2.305 migran kolonisasi dari Pulau Jawa yang tersebar di delapan desa kolonisasi. (Tabel. 8.7)

Daerah Kolonisasi Perbo berada di bawah pemerintahan asisten-demang dari Marga Kerkap yang berkedudukan di Aur Gading. Dengan demikian, desa-desa migran orang Jawa yang berada di kolonisasi ini secara otomatis tergabung dalam pemerintahan marga setempat. Kolonisasi Perbo terletak di daerah irigasi Air Palik, Air Kuning, dan Air Nokai (vak satu a, vak dua, vak tiga, dan vak empat),sedangkan Kolonisasi Kemumu berada di daerah aliran Air Nokan, yaitu vak 12 .

Rombongan peserta kolonisasi pertama yang datang pada tahun 1930 dan ditempatkan di Kolonisasi Perbo adalah peserta kolonisasi dari Banyumas yang berjumlah 35 kepala keluarga.[30] Mereka diberangkatkan dengan dana sebesar f. 5.000 yang berasal dari Bank Rakyat Bengkulu (Volksbank Benkoelen). Migran baru dari Banyumas ini menamakan dusun mereka Banyumas Baru. Kolonisasi pertanian Perbo pada tahun 1931 mendapat tambahan penduduk dari Yogyakarta dan Magelang yang merupakan korban bencana letusan Merapi. (Gambar.8.7)

Peserta kolonisasi ini datang atas tawaran pemerintah Bengkulu yang menyediakan lahan untuk pemukiman dan pertanian bagi mereka. Peserta kolonisasi korban letusan Merapi yang diberangkatkan ke Bengkulu berjumlah 600 orang

dibiayai oleh lembaga swasta Dana Merapi (Merapifonds). [31] Setelah di Bengkulu, peserta kolonisasi ditempatkan di Marga Bermani Perbo dan sebagian lainnya di Marga Palik. Mereka memberi nama tempat tinggal barunya dengan nama desa asal mereka, seperti Salam Arjo, Kedu Baru, Serumbung Rejo, dan Magelang Baru.[32]

Pada tahun 1933 penduduk di kolonisasi Perbo bertambah sebanyak 429 orang yang terbagi dalam 85 kepala keluarga; pada paruh pertama tahun 1934 bertambah 344 orang; pada paruh

kedua tahun 1934 pendatang baru berjumlah 150 orang.[33] Peserta kolonisasi baru ini berasal dari Yogyakarta dan Blitar. Di Kolonisasi Perbo, mereka ditempatkan di Baturaja Mudik, Baturaja Ilir, dan Tabah Padang (Marga Palik) (Tabel. 8.8)

B.1.2 Daerah Baru yang Bermasalah

Para kolonis untuk sementara ditempatkan di rumah-rumah penduduk asli sampai mereka dapat membangun rumah sendiri. Setelah sampai dilokasi kolonisasi, mereka mulai bekerja membersihkan lahan untuk dijadikan ladang. Migran bekerja dalam kelompok dan masing-masing mempunyai ketua sendiri yang dipilih di antara mereka. Biasanya yang dipilih adalah mantan anggota pemerintahan desa.

Mereka membangun rumah dengan bantuan penduduk desa. Rumah yang dibangun berdinding kayu dan bambu, beratapkan alang-alang. Rumah ini dibangun hanya dalam waktu satu minggu dan tanah yang diberikan berupa lahan sawah seluas satu bau. Mereka diberi lahan persawahan beririgasi yang sudah ditinggalkan oleh penduduk asli.[34]

Lima tahun setelah kedatangan migran dari Jawa, di kolonisasi mulai timbul berbagai permasalahan. Pada tahun 1935, kolonisasi Perbo telah dihuni 2.262 orang atau 429 kepala keluarga, tetapi sebagian besar dari mereka belum dapat membuka persawahan. Misalnya, migran kolonisasi yang ditempatkan di Tulung Agung yang datang tahun 1930, setelah lima tahun berada di Kolonisasi Perbo masih bertani di lahan kering. Hasil tanaman palawija pun kurang baik karena ditanam di lahan yang ditumbuhi alang-alang. Demikian pula halnya kehidupan migran kolonisasi korban letusan Gunung Merapi, sampai empat tahun setelah kedatangan, mereka belum memiliki persawahan. Selama itu mereka hidup dari bertanam tanaman palawija dan kacang-kacangan, misalnya kacang tanah (Arachis hypogeae L.), kedelai (Glycine max L.), kacang hijau (Phaseolus radiatus L.), dan jagung (Zea mays L.).

Pada umumnya migran kolonisasi yang ditempatkan di Perbo mengalami kesulitan dalam mengolah tanah untuk dijadikan persawahan. Tanah yang digarap banyak menyerap air , misalnya lahan seluas satu bau memerlukan air sekitar 30-40 liter/detik untuk sekali pembukaan ladang. Pada tahun selanjutnya, untuk menggarap ladang tersebut diperlukan air lebih banyak lagi. Keadaan pada tahun 1934 tersebut mengakibatkan migran Jawa banyak yang mengalami gagal panen, sehingga di Perbo terjadi kekurangan pangan.

Selain faktor lahan yang disediakan untuk kolonis kurang baik, faktor lain datang dari peserta kolonisasi. Misalnya, separuh peserta kolonisasi yang datang dari tahun 1933 sampai tahun 1935 adalah bukan petani. Akibatnya, di daerah kolonisasi mereka tidak dapat membuka lahan dan membangun rumah, dan akhirnya mereka meninggalkan lokasi kolonisasi dan bekerja sebagai kuli. Misalnya, pada tahun 1937 di Kolonisasi Perbo dan Kolonisasi Kemumu terdapat 50 orang kolonis melarikan diri. Mereka tertarik untuk bekerja sebagai penyadap karet dengan tawaran upah tinggi di kebun-kebun karet rakyat yang berada di Palembang dan Jambi.

Akibat permasalahan ini, pada tahun 1935 Kolonisasi Perbo yang berpenduduk 2.262 orang tidak dapat berkembang dengan baik karena banyak ladang migran mengalami gagal panen; migran yang terserang penyakit; bahkan banyak migran yang meninggal dunia. Pada tahun 1935, penduduk yang meninggal dunia berjumlah 95 orang, 33 orang di antaranya meninggal karena sakit malaria. Sebaliknya, anak yang dilahirkan hanya berjumlah 81orang.

Keadaan kolonisasi yang tidak menguntungkan itu, membawa akibat banyak kolonis yang meninggalkan kolonisasi Perbo, yaitu berjumlah 629 orang pada tahun 1936. Migran yang datang tahun 1935 dan ditempatkan di desa-desa Sanonrejo III, Tulungagung Ive, Aer Baus Ivb, dan Aer Banai lebih banyak meninggalkan lokasi kolonisasi dibandingkan dengan desa-desa kolonisasi terdahulu. ( Gambar. 8.8 )

Hal ini menyebabkan penduduk di kolonisasi Perbo menurun dari 2.192 orang pada tahun 1936 menjadi 1.582 orang pada tahun 1937. Berdasarkan keadaan itu, Residen Bengkulu menolak pengiriman kolonis dari Jawa ke Perbo yang dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri.[35] Jalan lain yang

diambil pemerintah adalah pemindahan sebagian kolonis, sebanyak 131 orang dikirim ke Kemumu untuk dipekerjakan sebagai kuli pada pembangunan irigasi Air Nokan, dan 13 orang lainnya dikirim ke Perkebunan Westkust untuk dipekerjakan sebagai kuli bebas[36].

Tindakan selanjutnya adalah pada tahun 1937 pemerintah membangun irigasi Air Nokan. Pembangunan irigasi ini dimaksudkan untuk mengairi sawah milik migran kolonisasi dan sawah-sawah milik penduduk asli. Hal ini dilakukan sebagai kompensasi atas pelepasan tanah-tanah marga untuk keperluan kolonisasi. (Tabel. 8.9 )

Setelah pekerjaan pembangunan irigasi Air Nokan selesai, kolonis dari Perbo yang dipekerjakan untuk membuat irigasi jumlahnya berkurang, yaitu dari 114 orang menjadi 77 orang. Hal ini disebabkan sebanyak 1 orang migran meninggal dunia dan 53 orang migran melarikan diri. Dari kolonis yang berjumlah 77 orang itu hanya 20 orang yang kembali ke kolonisasi Perbo, sedangkan 57 orang lainnya memilih menetap di Kolonisasi Kemumu.[37]

Keberadaan irigasi itu telah memperbaiki kehidupan migran, sehingga mereka mulai dapat menggarap sawah-sawah mereka. (Gambar. 8.9 ) Hal ini terlihat dari makin bertambahnya

luas lahan yang digarap penduduk, dari 251 ha (tahun 1937)

meningkat menjadi 334 ha pada tahun 1938, dan pada tahun 1939 luas lahan garapan adalah 408 ha.(Gambar. 8.10) Keadaan

kolonisasi Perbo yang mulai membaik dapat dilihat juga dari jumlah kematian penduduk yang lebih rendah dibandingkan dengan angka kelahiran anak. Misalnya, pada tahun 1937, anak yang lahir berjumlah 95 anak, sedangkan jumlah penduduk yang meninggal dunia lebih rendah, yaitu 76 orang. Akan tetapi prosentase penduduk yang datang lebih kecil dibandingkan dengan migran yang meninggalkan desa kolonisasi. (Gambar. 8.11) Migran kolonisasi banyak yang meninggakan desa kolonisasi

terutama terjadi pada tahun 1937, yaitu 109 orang, saat daerah penghasil karet rakyat membutuhkan banyak tenaga kerja dengan upah yang tinggi.[38] Mereka kebanyakan pergi ke

Jambi dan Palembang untuk bekerja sebagai penyadap karet. [39]

Selanjutnya, pada tahun 1938 jumlah kolonis yang meninggalkan lokasi masih cukup banyak, yaitu 53 orang. Migran yang meninggalkan daerah kolonisasi terutama berasal dari desa migran Tulungagung Ive, Sanonrejo II, Baturaja Mudik, dan Pematang Balam Iva. (Gambar. 8.12) Misalnya, desa migran

Sanonrejo II yang terbentuk pada tahun 1934, penduduk desa berjumlah 411 orang (tahun 1936) turun menjadi 237 orang pada tahun 1937. Desa Baturaja Mudik dan Pematang Balam Iva sejak tahun 1938 disatukan menjadi satu desa, karena pada tahun 1937 banyak penduduk yang meninggalkan desa.

Setelah irigasi Air Nokan dapat berfungsi mengairi sawah migran maka pemerintah memutuskan untuk membuka kembali Kolonisasi Perbo untuk migran baru. Dimulai pada tahun 1939, Kolonisasi Perbo menerima peserta kolonisasi dari Keresidenan Banyumas sebanyak 61 kk/240 jiwa dan dari

Jawa Timur sebanyak 145 kk/579 jiwa. [40] Migran yang ditempatkan di Kolonisasi Perbo berjumlah 230 orang, tersebar di 3 desa, yaitu desa Banyumasbaru, desa Sanonrejo, dan desa Djogjabaru, dan selebihnya ditempatkan kolonisasi Kemumu.[41] Dengan demikian, pada akhir tahun 1939 kolonisasi Perbo telah memiliki 13 desa migran dengan jumlah penduduknya adalah 1.778 orang.

B.2 Kolonisasi Kemumu

Kolonisasi pertanian Kemumu yang dibuka pada tahun 1935 memiliki luas tanah 1.200 bau, dan berada di dekat aliran Sungai Air Nokan (vak 12) .[42] Daerah Kolonisasi Kemumu berada di bawah kekuasaan pemerintahan seorang demang yang berkedudukan di Lais. Dengan demikian, desa-desa migran yang berada di kolonisasi ini secara otomatis tergabung dalam pemerintahan marga. Sebagian besar lahan kolonisasi masih berupa hutan sekunder dan belukar tua yang subur dengan struktur tanah bergelombang yang lebih mudah digarap dibandingkan dengan lahan Kolonisasi Perbo.

Peserta kolonisasi yang datang pertama kali tahun 1935 berjumlah 410 orang dan sebagian besar mereka berasal dari Keresidenan Banyumas.[43] Peserta kolonisasi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pertama membuka pemukiman yang dinamakan Desa Sidomulio, sedangkan kelompok kedua membuka pemukiman yang diberi nama desa Sidourip. Jarak kedua pemukiman ini hanya sekitar tiga km yang dipisahkan hutan sebagai lahan perladangan mereka.

Pada saat migran kolonisasi sampai di Kemumu, lahan yang diberikan masih berupa hutan dan terdapat bedeng-bedeng untuk tempat tinggal sementara. Oleh sebab itu, mereka mulai menebangi pohon-pohon besar untuk membuka lahan pertanian. Selama setahun, mereka mendapatkan ransum makanan berupa beras, ikan asin, dan minyak.[44] Dalam waktu satu tahun, mereka telah berhasil membuka lahan dan membangun rumah-rumah sederhana. Kolonis tidak mengalami kesulitan saat membangun rumah karena mereka dapat menggunakan kayu dari hasil penebangan hutan, sedangkan atap rumah dibuat dari rumbia. Para peserta kolonisasi memagari areal pemukiman mereka dengan pagar kawat. Hal ini dilakukan untuk menghindari serangan binatang buas, misalnya harimau (Felis tigris L.) dan babi hutan (Sus scrofa L.) terhadap pemukiman mereka.

Dalam perkembangannya, Desa Sidomulio dan Sidourip mengalami nasib yang berbeda. Lahan pertanian yang diberikan kepada peserta kolonisasi di Desa Sidomulio lebih subur dibandingkan dengan lahan yang diberikan kepada peserta kolonisasi di Desa Sidourip sehingga kolonis di desa Sidomulio lebih dahulu dapat membuka ladang dengan hasil cukup baik. Lahan pertanian kolonis di Desa Sidourip berdekatan letaknya dengan perkampungan orang Rejang. Lahan tersebut berupa ladang orang Rejang yang sudah lama ditinggalkan lahan sudah ditumbuhi alang-alang yang lebat, dan kondisi tanahnya tidak subur

Setelah bantuan makanan dari pemerintah dihentikan dan ladang mereka hasilnya tidak cukup untuk hidup, maka banyak migran yang meninggalkan desa. Pada tahun 1937 terdapat 50 orang migran yang sebagian besar adalah kolonis remaja meninggalkan desa. Mereka bekerja menjadi kuli di tambang emas Lebong Simpang atau menjadi penyadap karet rakyat di Palembang dan Jambi.[45]

Migran di Kolonisasi Kemumu lebih banyak yang meninggalkan desa ketika pekerjaan pembangunan irigasi Air Nokan telah selesai. Mereka menganggap di kolonisasi tersebut tidak ada lagi pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, sedangkan lahan pertanian hasilnya tidak mencukupi untuk hidup. Sampai dengan tahun 1937, migran kolonisasi yang meninggalkan lokasi berjumlah 101 orang, dan pada tahun 1938 terdapat 15 migran yang kembali sehingga jumlah migran yang pergi sebanyak 88 orang.

Berkurangnya jumlah penduduk di Kolonisasi Kemumu, selain karena banyak migran meninggalkan desa, juga disebabkan oleh migran yang meninggal dunia, sedangkan kedatangan penduduk baru sedikit. Sejak kolonisasi dibuka pada tahun 1935 sampai dengan awal tahun 1939 jumlah penduduk Kolonisasi Kemumu terus menurun dari 1471 orang menjadi 1.067 orang. (Gambar. 8.13)

Kehidupan migran kolonisasi yang ditempatkan di Kemumu mulai membaik setelah irigasi Air Nokan dapat berfungsi, migran kolonisasi mulai bertanam padi. Meskipun pada saat panen pertama, lahan seluas satu bau hanya menghasilkan 20 sampai 25 pikul gabah kering. Mereka menanami sawahnya

dengan jenis padi Cina yang dapat dipanen setelah lima bulan. Karena hasil panen belum mencukupi, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka menanami lahan setelah padi dipanen dengan tanaman palawija, dan kacang-kacangan. Tanaman palawija selain sebagai makanan tambahan juga berfungsi sebagai tanaman antara, yaitu setelah panen sampai musim tanam padi, sebagai pelindung tanah.

Pada saat hasil panen masih sedikit, para petani migran sudah harus membayar hutang yang berupa bantuan kredit dari pemerintah yang diberikan pada saat kedatangan. Hutang tersebut sudah harus diangsur setelah panen berhasil. Jumlah kredit yang diberikan oleh pemerintah sampai pertengahan tahun 1936 berjumlah f. 28.417, 32 ditambah bunga sebesar f. 4.814,84 sehingga jumlahnya f. 33.232,16. Rata-rata kolonis memiliki hutang kepada pemerintah sebesar f. 80.[46]

Pembayaran hutang pada mulanya dalam bentuk beras yang kemudian dikumpulkan oleh seorang pedagang beras di Lubuk Durian (Perbo) yang bernama Tjie Seng Han. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya pemerintah sulit mengumpulkan beras dari migran sehingga sistem pembayaran hutang diganti dalam bentuk gabah. Gabah tersebut disetorkan ke penggilingan padi milik Tjie Seng Han di Desa Lubuk Durian. Beras dari petani di Kolonisasi Perbo dan Kolonisasi Kemumu dijual ke Perusahaan Tambang Simau untuk memenuhi kebutuhan beras bagi kuli-kuli di sana.[47] Gabah dari peserta kolonisasi yang terkumpul pada tahun 1937 berjumlah 1.419 pikul. Selanjutnya, pada tahun 1938 sistem pembayaran hutang diganti dalam bentuk uang tunai yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi para migran.

Sampai dengan pemerintahan kolonial Belanda berakhir di Indonesia, hutang para kolonis belum lunas. Meskipun demikian, kehidupan migran Kolonisasi Kemumu sudah mulai membaik. Migran kolonisasi yang berada di kolonisasi Kemumu dan Perbo berasal dari tiga keresidenan, yaitu Kediri, Kedu, Banyumas, dan satu Gubernemen, yaitu Yogyakarta. (Gambar 8.14)

Setelah pemerintahan kolonial Belanda berakhir dan berganti dengan pendudukan tentara Jepang, banyak migran kolonisasi yang meninggalkan lokasi. Misalnya, banyak penduduk desa migran Kemumu pergi menuju ke tambang emas,

yaitu daerah Redjang-Lebong.[48] Hal ini dilakukan agar mereka terhindar dari wajib kerja yang diperintahkan oleh tentara Jepang. Penduduk yang masih tinggal di Kemumu secara bergantian dikirim ke daerah Palembang untuk bekerja membangun jalan kereta api.

Sampai pada tahun-tahun pertama kemerdekaan Indonesia pun keadaan belum tenang, jumlah penduduk tidak berubah selama tahun 1940-an dan tahun 1950-an. Pada tahun 1950-an, saat situasi politik sudah kembali tenang, banyak migran Kolonisasi Kemumu yang semula meninggalkan desa kembali dan hidup sebagai petani.

Sampai dengan tahun 1950-an, penduduk migran yang berada di Kolonisasi Perbo dan Kemumu berjumlah 1962 orang. Mereka masih banyak yang berladang, misalnya di desa migran Taba Padang, Banyumas, Magelang, dan Serumbung (Tabel. 8.10). Apabila pada tahun 1938 – tahun 1940 lahan persawahan

yang digarap, seluas 102 ha maka pada tahun 1952 lahan persawahan tersebut berkurang menjadi 64,8 ha. Hal ini disebabkan banyak lahan yang tidak digarap karena migran pindah ke tempat lain atau lahan telah dijual. Selama pelaksanaan transmigrasi dari tahun 1951 sampai tahun 1955, Kolonisasi Kemumu mendapat tambahan penduduk dari Jawa

sebanyak 2.065 orang atau 701 kk[49] (Tabel. 8.11) Selanjutnya, Kolonisasi Kemumu yang terletak di Marga Lais (Kecamatan Lais) disebut transmigrasi Kemumu. Transmigrasi Kemumu terdiri dari Desa Sidourip dan Desa Sidomulio. Desa-desa migran tersebut masing-masing dipimpin oleh seorang kepala desa dan berada di bawah pemerintahan seorang pasirah sebagai kepala marga.[50]

Migran dari Jawa yang ditempatkan di kolonisasi Perbo dan Kemumu antara tahun 1930 dan tahun 1940 menghadapi banyak kesulitan. Pertama-tama masalah yang berkaitan dengan irigasi sawah, dan pemerasan oleh tentara Jepang. Sampai dengan Indonesia merdeka keamaan dan kehidupan yang baik belum dapat dirasakan oleh migran dari Jawa. Berbagai kekacauan politik yang terjadi di tingkat lokal maupun di tingkat nasional berimbas pada kehidupan mereka. Setelah sekitar 30 tahunan migran dari Jawa berada di ‘Tanah Harapan’ Bengkulu, harapan dapat memperbaiki hidup belum tercapai.

( Dikutip dari dan seizin Dr. Lindayanti. M.Hum “ (BAB VIII) KEBUTUHAN TENAGA KERJA DAN KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN: MIGRASI ORANG DARI JAWA KE BENGKULU 1908-1941” Disertasi untuk memperoleh derajat Doktor Ilmu Sejarah pada Universitas Gadjah Mada 9 Agustus 2007)
Untuk kajian tentang Sejarah Perkebunan Teh di Bengkulu dapat dilihat dari Skripsi Sarjana Sastra bidang Ilmu Sejarah. Fak. Sastra Universitas Andalas Padang 1995. Ardiansyah.DSS “SEJARAH PERKEBUNAN TEH DI BENGKULU 1927-1988



[1] Menurut Surat Edaran pemerintah tanggal 25 Maret 1937 no. 645/B, disebutkan bahwa pemerintah hanya akan menyelenggarakan kolonisasi dalam skala besar dan tanpa memperhatikan kolonisasi kecil seperti di daerah Bengkulu. Program kolonisasi hanya akan dilakukan pada daerah yang dapat memiliki luas sekitar 5.000 ha untuk dijadikan daerah inti kolonisasi. Dari daerah inti akan terus dikembangkan daerah-daerah satelit. Keberhasilan daerah inti harus diutamakan untuk mendukung perkembangan daerah satelit, karena daerah inti dapat membantu kolonis yang datang selanjutnya. Di daerah inti direncanakan akan ditempatkan sebanyak 1000-2000 kepala keluarga. Mvo. Betreffende Javanen Kolonisatie, KIT 930, op cit., hlm. 2

[2] Tidak semua daerah mau menerima dijadikan daerah kolonisasi Misalnya, Sumatera Barat, Tapanuli, Menado, Maluku dan Kalimantan Timur/Selatan menolak dijadikan daerah kolonisasi. M. Amral Syamsu, op cit., hlm. 71

[3] Persentase pengiriman kolonis ke Bengkulu hanya berkisar 0,5 % ( tahun 1938) dan 1,1 % (tahun 1939) dari jumlah keseluruhan kolonis yang dikirim pemerintah dari pulau Jawa ke luar pulau, Jaarverslag van de Centrale Commissie voor Migratie en Kolonisatie van Inheemschen over het jaar 1940, (Batavia: Landsdrukkerij, 1941), hlm. 30

[4] Verslag der Emigratieproef over het jaar 1912, hlm. 8 dan Mvo. Residentie Benkoelen, 1917, KIT. 199, op cit., hlm. 203

[5] J. van Breda de Haan, loc cit. dan Koloniaal Verslag 1911, ibid.

[6] Koloniaal Verslag 1911, .ibid., hlm. 4

[7] Verslag der Emigratieproef over het jaar 1912, KIT 199, ibid.

[8] Koloniaal Verslag, 1914, “ Verslag over 1913 omtrent de proefneming met de overbrenging van Soendaneesche gezinnen naar de onderafdeeling Redjang (Benkoelen), hlm. 13

[9] Verslag der Emigratieproef over het jaar 1912, dalam Mvo. Residentie Benkoelen, KIT 199, op cit., hlm. 213

[10] Mvo. Residentie Benkoelen, 1912, KIT 197, op cit., hlm. 3

[11] Koloniaal Verslag 1914, Ibid.

[12] Koloniaal Verslag, 1915, “ Verslag over 1914 omtrent de proefneming met de overbrenging van Soendaneesche gezinnen naar de onderafdeeling Redjang (Benkoelen), hlm. 11

[13] Tahun 1912 tanaman teh secara keseluruhan terdapat 19.945 batang, lihat Koloniaal Verslag, 1913, “ Verslag over 1912 omtrent de proefneming met de overbrenging van Soendaneesche gezinnen naar de onderafdeeling Redjang (Benkoelen), hlm. 12.

[14] Desa kolonisasi Air Sempiang berada di perbukitan Kaba Wetan, dan di perbukitan ini terdapat beberapa perkebunan, seperti perkebunan kopi dan teh Kaba Wetan dan perkebunan kopi Air Sempiang.

[15] A.J. Koens, op cit., hlm. 588-589

[16] Kebanyakan sawah yang dibuka masa kolonisasi telah dijual oleh anak dan keturunannya. Hal ini dilakukan karena mereka pulang ke Jawa ataupun mereka pindah ke desa migran lain, seperti Kampung Bogor. Saat ini lahan persawahan itu telah menjadi Desa Nanti Agung yang banyak dihuni oleh orang Serawai yang berasal dari Semidang Bukit Kabu (kabupaten Bengkulu Selatan). Wawancara dengan Supandi di Desa Imigrasi Permu, tanggal 4 April 2005

[17] Wawancara dengan Basari, cucu migran kolonisasi Imigrasi Permu yang datang pada tahun 1908, Desa Imigrasi Permu tanggal 4 April 2005

[18] Sampai dengan akhir tahun 1917, biaya percobaan kolonisasi di Rejang yang telah dikeluarkan pemerintah sebanyak f. 49.600 dan hak atas tanah masih belum diberikan karena pemerintah takut akan disalahgunakan.

[19] Diolah dari Koloniaal Verslag tahun 1910 sampai tahun 1926

[20] Mededeelingen Deli Planters Vereeniging, jrg. 2, Januari 1919, hlm. 15

[21] Koloniaal Verslag 1919, hlm. 130-131

[22] Satu pikul = 62,5 kilogram

[23] Koloniaal Verslag, 1921, hlm. 132

[24] Ibid., hlm. 25

[25] Jumlah penarikan pajak di Rejang saat ekonomi bertumbuh, yaitu f. 150.669,95 (1927) dan f. 138.922,73 (1928), maka penarikan pajak setelah krisis ekonomi menurun menjadi f. 63,852,60, (1936) dan f. 63.906 pada tahun 1937, lihat Mvo. Onderafdeeling Redjang, 1928, KIT 936, op cit. , hlm. 20 dan Mvo. Residentie Benkoelen, 1939, KIT 204, op cit., hlm. 211

[26] Luas lahan tanaman tembakau di Marga Merigi dan Selupu Rejang pada tahun 1928 mencapai 421 bau dan hasilnya dikirim ke Palembang.

[27] Selain di desa-desa migran dari Jawa yang berada di daerah Rejang, sayuran juga ditanam oleh petani dari Jawa di Desa Batulayang (daerah kolonisasi Perbo).

[28] Mvo. Residentie Benkoelen, 1939, KIT 204, hlm. 81

[29] KIT. 202, op cit., hlm. 70 dan C.C.J. Maassen, De Javaansche Landbouwkolonisatie in de Buitengewesten, (Batavia: Landsdrukkerij, 1937), hlm. 45.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

[32] KIT 202, op cit., hlm. 72

[33] Peserta kolonisasi dari Blitar kembali datang sebanyak 300 orang (tahun 1934) dan 400 orang (tahun 1935). Sebanyak 150 orang ditempatkan di kolonisasi Perbo, dan selebihnya ditempatkan di daerah perbatasan Keresidenan Bengkulu dengan Keresidenan Palembang (Lubuk Linggau).

[34] C.C.J. Maassen, op cit., hlm. 46

[35] Surat dari Residen Bengkulu kepada Direktur Departemen Dalam Negeri, tanggal 16 September 1936 nomor. 265/I/Kol.

[36] Memorie Betreffende de Javanen Kolonisatie KIT 930. op cit., hlm. 24

[37] Ibid., hlm 33 , biaya penempatan mereka diambilkan dari uang hasil potongan sebanyak 25% dari hasil kerja yang selama ini ditabungkan di Bank Perkreditan Rakyat Bengkulu.

[38] Pada tahun 1937 upah rata-rata penyadap karet di Jambi lebih dari f. 1/sehari, lihat ‘ De Gouden Regen in Djambi’ dalam Nieuwsblad voor Residentie Palembang, Djambi en Banka 13 April 1937

[39] Inheemsche Kolonisatie, KIT 930, op cit., hlm. 40

[40] Persentase pengiriman kolonis ke Bengkulu hanya berkisar 0,5 % ( tahun 1938) dan 1,1 % (tahun 1939) dari jumlah keseluruhan kolonis yang dikirim pemerintah dari pulau Jawa ke luar pulau

[41] Jaarverslag van de Centrale Commissie voor Migratie en Kolonisatie van Inheemschen over het jaar 1940, (Batavia: Landsdrukkerij, 1941), hlm. 30

[42] M. Amral Sjamsu, op cit., hlm. 55

[43] ‘Memorie Beteffende de Javanen Kolonisastie’, KIT 930, op cit., hlm. 14.

[44] Wawancara dengan Sairi, anak migran kolonisasi, di Kemumu tanggal 7 April 2005

[45] Wawancara, dengan Sairi, ibid.

[46] Ibid., hlm. 40

[47] Tjie Seng Han adalah leveransir beras dan pemilik penggilingan padi di Lubuk Durian, KIT 930, op cit., hlm. 42

[48] Wawancara dengan Sairi, anak migran kolonisasi tahun 1935 yang ditempatkan di Kemumu, Kemumu tanggal 7 April 2005

[49] Transmigrasi, (Djakarta, Djawatan Transmigrasi, 1956), hlm. 98

[50] Propinsi Sumatera Selatan, op cit., hlm. 362

Source:
http://adimarhaen.multiply.com/journal/item/107/107

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by