weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: cerpen Pasirah Basman Penjual Hutan Adat

cerpen Pasirah Basman Penjual Hutan Adat

·

Pasirah Basman Penjual Hutan Adat

Oleh : Dewa Gumay Lembak

Hari ini Pasirah Basman mendatangi kediaman Paduka Tuan Controleur keresidenan empat suku negeri agung, karena disana sedang berkumpul para Demang dan Depati yang sedang mengadakan pertemuan.

Dia menemui opas penjaga keresidenan minta bertemu dengan Tuan Controleur, lama dia menunggu di bale-bale resident. Sampai akhirnya tuan controleur datang menemui dan bertanya tanpa tenggat sedikitpun Pasirah Basman bisa menjawab.

"Apakah kamu Seorang Demang atau depati? "Saya tidak tahu siapa kamu, Apa kehendak kamu menemui saya?"

Pasirah Basman menatap Controleur di hadapannya, sambil membetulkan kopiah airmasnya, ia mulai berbicara.

"Aku bukan Demang atau Depati, cuma seorang pasirah penguasa Marga Tanjung Serai."

Dia mengambil selembar peta wilayah Marga dari balik payung merah-nya.
"Aku hendak menjual hutan Adat Marga Tanjung Serai! Aku ingin ada demang atau depati yang membeli Hutan Adat Marga kami. Karena saat ini rakyatku sedang memerlukan uang."

Tuan Controleur terkejut, dan coba mencari kebohongan di wajah Pasirah Basman, nampak sekali air mukanya mencirikan sedang risau.

"Kamu ingin menjual Hutan adat. Apakah kamu sedang bercanda?"
"Aku ingin menjual Hutan adat !. Apakah Tuan controleur bisa mencarikan pembelinya?"
"Kamu masih bercanda?"
"Aku tidak bercanda Tuan controleur !. Apakah kau bisa mencarikan pembeli?"
"Kamu tahu hukumannya menjual Hutan adat? Kamu bisa ditangkap oleh pemerintah Gouvernement Hindia Belanda, karena telah melanggar ketentuan Undang-undang Simboer Tjahaja.
"Simboer Tjahaja yang mana Tuan Controleur, perlu tuan ketahui rakyat Marga Tanjung Serai tidak pernah mengakui Undang-undang itu, kami tak akan tunduk pada peraturan kaum penjajah."

Pasirah Basman diam sejenak, kopiah airmasnya diletakkan di atas meja, mulutnya kembali berbicara.

"Keputusan ada ditangan rakyat pedusunan Marga kami tuan, dan canang marga telah dibunyikan tanda mufakat, Kelangkang kelingking anak matjan oeroe kenoeling namanya."

Tuan controleur diam gagap, tanpa menyangka seberani itu keputusan rakyat Marga Tanjung Serai. Lalu kembali dia bertanya.
"Mengapa rakyatmu sepakat ingin menjual Hutan adat Marga kalian ?."

Pasirah Basman tersenyum sinis, sambil membuka peta wilayah marganya di depan Controleur, jari telunjuk-nya mulai sibuk seliweran kesana kemari.

"Anda tahu Tuan Controleur, Hutan adat marga kami selain sangat luas dan memiliki beragam jenis kayu yang berumur ratusan tahun, didalamnya terdapat
bahan tambang dan mineral."
"Ooo…," Tuan Controleur berdecak kagum, sekaligus mulai tertarik mendengar pembicaraan Pasirah Basman yang berapi-api.
"Lalu mengapa ingin kalian jual," pembicaraan tuan controleur mulai memancing Pasirah Basman.
"Mungkin Anda sudah tahu sendiri Tuan controleur, jika kondisi Hutan Adat kami sampai diketahui oleh pemerintah Gouvernement Hindia Belanda, dan
tersiar sampai ke telinga para Demang dan Depati kemungkinan akan terjadi perselisihan antara Gouvernement Kehutanan dan Pertambangan, belum lagi ancaman arbitrase Internasional bila hal ini sampai diadukan oleh Gouvernement pertambangan, kondisi ini akan membuat runyam rakyat pedusunan Marga kami," Papar Pasirah Basman dengan penuh percaya diri.
"Baiklah kalau begitu pasirah, Aku hanya seorang Controleur yang mengemban tugas dari pemerintah Gouvernement Hindia Belanda, resiko ada pada rakyatmu dan kamu selaku pasirah. Dan Aku hanya minta persekot dari hasil penjualan Hutan adat Marga-mu, bagaimana pasirah kamu bersedia?"

Pasirah Basman menyunggingkan senyum, dia sangat hapal sekali perilaku pejabat di pemerintahan Gouvernement Hindia Belanda, semuanya harus disuap dengan ringgit.

"Baiklah tuan Controleur aku setuju, Cobalah anda mulai tawarkan Hutan Adat Marga kami kepada para Demang dan Depati yang berada didalam Balairung pertemuan itu!"
"Berapa Harganya?"
"Berapa Mereka berani menawar ?."
"Tunjukkan Peta Wilayah Marga dusun mu biar mereka bisa menilainya."

Pasirah Basman memberikan Peta Wilayah Marga Dusunnya dan Tuan Controleur mengambil-nya kemudian hilang ditelan Balairung pertemuan yang sangat besar itu sambil membayangkan persekot yang akan diterimanya.
***

Didalam Balairung Suara tampak begitu gaduh, kursi dibanting, sampah berserakan, minuman keras dan wanita penghibur bertebaran disetiap pojok ruangan menghiasi paha Demang dan Depati yang sedang rapat.

"Sungguh," kata Demang itu.
"Sungguh," kata Tuan Controleur.
"Seribu Ringgit,Aku beli."
"Dan sedikit persekot untukku, Demang."
"Aku beli ! Aku tidak pernah lupa memberi persekot !."

Tuan Controleur bergegas menemui Pasirah Basman diluar.

"Ada seorang Demang yang mau membeli Hutan Adatmu, Dia berani Lima ratus Ringgit !."
"Cuma sebegitu ?, Alangkah murahnya ! Tidak adakah yang dapat menghargai Hutan Adat Marga kami lebih tinggi ?."

Tuan Controleur berpikir sebentar. Kemudian menatap Pasirah Basman.

"Akan ku coba tawarkan kepada Demang dan Depati yang lain, kau minta berapa?"
"Aku cuma minta hutan adatku di hargai pantas!"
"Berapa itu?"
"Berapa yang kau sebutkan?"
"Baiklah, akan kucoba tawarkan lagi!"
Tuan Controleur itu pun pergi menawarkan hutan adat itu kepada Demang dan Depati yang lain, tetapi kali ini ia mencoba dengan cara lelang seperti pada lelang lebak-lebong Marga Lawang kidul beberapa waktu yang lalu.

"Sungguh, ?," kata mereka.
"Sungguh !," kata Tuan Controleur.

Demang dan Depati mulai kasak kusuk, melirik kiri kanan, menghitung dengan jari, menggaruk kepala. Semuanya berhitung hutan menjadi ringgit. Semuanya bergoba-goba.

"Seribu Ringgit," teriak Demang Ali.
"Seribu seratus Ringgit, " teriak Depati yang lain.
"Seribu lima ratus Ringgit."
"Dua ribu Ringgit."

Semuanya diam terpaku pada nilai lelang tertinggi Dua ribu Ringgit, seluruh Demang dan Depati didalam Balairung mulai mengeluarkan Sepoah menghitung batang kayu, dan bahan tambang diubah kedalam bentuk Ringgit. Tetapi terlambat beberapa saat kemudian Tuan Controleur menggigit sepoah dengan mulutnya.
"Terjual, Dua ribu Ringgit, dan sedikit persekot untukku."

Tuan Controleur bergegas mendatangi Pasirah Basman untuk mengabarkan hasil Lelang Hutan adat marganya.
"Kau tidak perlu memberi persekot untukku ! Aku telah diberi Demang yang membeli Hutan Adat margamu."
"Berapa dia berani."
"Dua ribu Ringgit !."
"Cuma senilai itu Hutan Adat Margaku dihargai?"
"Lalu kamu maunya berapa Pasirah?"
"Aku mau kepada yang bisa menghargai Hutan Adat Margaku dengan harga yang pantas!"
"Berapa harga yang pantas?"
"Berapa mereka berani!"
"Kalau begitu kau dengarkan sendirilah harga pantas yang akan mereka ucapkan! Aku sudah bosan menawarkan Hutan Adatmu!"
"Antarkan aku pada Demang itu."

Tuan Controleur kemudian membawa Pasirah Basman menemui Demang yang akan membeli Hutan Adat Marganya.
"Dia tidak mau Dua Ribu Ringgit!" kata Tuan Controleur.
"Berapa kau mau," simbat Tuan Demang.
"Aku mau harga yang pantas!"
"Berapa harga yang pantas itu, ?" sahut Demang.
"Berapa yang menurutmu pantas?" jawab Pasirah Basman lantang.
"Silakan kalian tawar menawar, Aku akan keluar !," Tuan Controleur mencegat pembicaraan kedua orang itu. Dan pergi hilang didaun pintu.
***

Sekarang tinggal Pasirah Basman dan Demang duduk berhadapan disatu meja. Tuan Controleur mengintip dari balik daun jendela, walau tak segetarpun pembicaraan mereka tertangkap. Tuan Demang telah berpuluh kali menambahkan tumpukan Ringgit, tapi tetap saja Pasirah Basman enggan menganggukkan kepalanya.

Hingga akhirnya Tuan Demang menyodorkan satu keponjen berisi tumpukan Ringgit.

"Nah, ini pasti Harga yang pantas," bisik Tuan Controleur dari balik daun jendela Balairung.

Beberapa saat kemudian Tuan Controleur terkejut bukan kepalang, ketika Pasirah Basman menggelengkan kepalanya, sedetik kemudian Sang Demang menadahkan tangannya kedepan. Dan Pasirah Basman telah hilang lenyap.

Tuan Controleur kembali ke ruang kerjanya, sambil berpikir. Di dalam hatinya ia bertanya, "Berapa harga yang pantas untuk Sebuah Hutan Adat ?."
***

http://www.ceritanet.com/50adat.htm

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by