weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: PELESTARIAN KESENIAN TRADISIONAL

PELESTARIAN KESENIAN TRADISIONAL

·





PELESTARIAN KESENIAN TRADISIONAL 1
Oleh Utusan Provinsi Bengkulu




A. Pendahuluan
Tentunya kita sepakat bahwa istilah rne/estarikan mencakup antara lain pengertian memelihara, menjaga dan mempertahankan, serta membina den mengembangkan, Dengan demikian pe/estarian berarti proses serta upaya-upaya aktif dan sadar bertujuan dari sekelompok masyarakat untuk memelihara, menjaga dan mempertahankan, serta membina dan mengembangkan suatu hal (benda-benda, aktivitas berpola, serta Ide.ide).
Adapun cakupan pengertian yang terkandung daIam istilah kesenian tradisional pada hakikatnya cukup luas. Kesenian tradisional dapat merangkum antara lain unsur-unsur seni sastra, seni rupa, gerak dan tari, seni suara serta musik. Dalam seni dendang di Provinsi Bengkulu terangkum seni musik dan seni suara. Juga tari adat dalam rangkaian bimbang tercakup seni musik, gerak, serta seni suara dan sasatra. Selanjutnya, fakta historis dan aktual memperlihatkan kepada kita bahwa kesenian tradisiona/ berkaitan secara timbal balik serta merupakan bagian dari
aktivtas dan pola hidup masyarakat pendukungnya. Tidak jarang kesenian tradisional berhubungan ritus/upacara tradisional; dan dengan demikian bertalian dengan kebudayaan masyarakatnya. Kesenian dapat dipandang sebagai refleksi kebudayaan masyarakatnya.
Ambil satu contoh yang disebut bekayekan (pada masyarakat
Pasemah) atau kayiak beterang (pada masyarakat Serawai) atau min cupik


1 Makalah dlsampaikan pada Kongres Kebudayaan di Bukit Tinggi, 19-23 Oktober 2003.
I
may blowa (pada masyarakat Rejang) dl Provinsi Provinsi Bengkulu,2 atau kesenian tradisional Bengkulu lainnya, seperti tari pencak pedang dan tadutan. Bekayekan atau kayiak beterang atau min cupik may biowa merupakan upacara tradisional yang bersumber pada pandangan masyarakatnya tentang janak', tentang hakikat dan perjalanan hidup manusia. Dalam pelaksanaannya, upacara tradisional merangkum seni sastra, berupa syair-syair atau doa-doa yang diucapkan sang dukun sebagai pemimpin upacara; serta seni tari karena di anak yang di-kayek harus menari. Dalam tari pencak pedang ada unsur seni tari dan seni musik; jurus-jurus dalam pencak pedang adalah seni gerak (mempertahankan dan menyerang) dalam iringan musik serunai dan gendang. Pelaksanaan tari pencak pedang bertalian dengan pesta adat atau upacara sakral lainnya. Dalam ritus tradisional nyia/ang terdapat unsur seni susastra, berupa kindun atau dunday, semacam syair yang dilantunkan pawang dan orang-orang yang terlibat dalam mengambil madu lebah pada pohon sialang. Demikian juga dengan kesenian tadutan (pada masyarakat Serawai dan Pasemah). Tadutan memanfaatkan unsur susastra dan seni suara secara optimal. Tadutan merupakan sarana dakwah, silaturahmi dan rasa syukur. Unsur seni susastra dimanfaatkan secara optimal karena ide- ide tentang tauhid dan fikih dikemas dalam komposisi bahasa (daerah) yang indah, penuh kias dan halus. Unsur seni suara dimanfaatkan karena teks-teks tedutan dilantunkan oleh seorang pendulu (pemimpin) yang kemudian diikuti oleh pengiringnya.
Beberapa ilustrasi yang sederhana sebagaimana dikemukakan di atas memperlihatken adanya tautan berbagai unsur seni dalam pelaksanaan atau pertunjukkan kesenian tradislonal. Selain itu, konteks penyelenggaraan kesenian tradisional memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara kesenian itu sendlri dengan pranata kebudayaan masyarakatnya. Konteks penyelenggaraan kesenian tradisional lazimnya tertentu: waktu, tempat, pelibat, peralatan, serta tujuan yang tertentu dan dalam kerangka kebu-

2 Kata ayek atau ayiak atau blowa berarti 'sungai' atau 'air'. Istilah-istilah tersebut secara harafiah berarti membawa anak ke sungai untuk dimandikan, disucikan menjelang memasuki usia remaja.
2
dayaan pendukungnya. Bekayekan terkait dengan pranata domestik, pranata sosial dan religi, sementara tari adat dalam rangkaian bimbang lebih terkait dengan pranata sosial (kinship atau kekerabatan dan organisasi sosial).
Dapatlah dikatakan bahwa kesenian tradisional merupakan teras atau inti kebudayaan
masyarakat pendukungnya, Kesenian tradisional dalam banyak hal mewadahi kebudayaan masyarakatnya, yaitu pandangan, sikap dan pola perilaku anggota masyarakat itu tentang dirinya sendiri, kelompoknya, lingkungannya, serta tentang hakikat dan tujuan hidupnya. Perubahan kebudayaan dalam arti perubahan pandangan, sikap, dan pola perilaku masyarakat biasanya dapat dilihat dari berubahnya (misalnya surutnya) epresiasi masyarakat yang bersangkutan terhadap kesenian tradisionalnya.

B. Muatan Kesenian Tradisional
Jika kita cermati secara seksama, muatan atau kandungan kesenian tradisional pada dasarnya sangat luas dan dalam. Pemahaman yang mendalam terhedap totalitas, latar belakang, dan konteks kesenian tradisional akan mengantarkan kita kepada pemahaman akan maknanya acara mendalam pula. Kesenian, dengan demikian tidak hanya dipahami sebagai gerak semata, atau bunyi yang berirama semata, atau rupa dan ungkapan-ungkapan semata. Muatan kesenian tradisional bukan hanya yang terlihat atau yang terdengar, melainkan juga yang melatar
belakangi dan yang menjadi tujuan atau maksudnya, berupa ide-ide yang dapat menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
Dalam tari adat dalam rangkaian bimbang misalnya, terkandung muatan kinship (kekerabatan) dan organisasi sosial. Sebab, penari bujang dan penari gadis dalam tari muda-mudi dalam rankaian tari adat disyaretkan yang tidak sekerabat atau yang berbeda marga. Ide ini bertalian dengan konsekuensi dan tujuan tari muda-mudi dalam rangkaian tari adat, yaitu sebagai medium komunikasi bujang dan gadis untuk mencari, mendapatkan, dan menjalin hubungan dengan calon pasangan hidup mereka. Rejung3 yang dilantunkan bujang dan gadis dalam tari muda-mudi penuh kias dan mencerminkan kehalusan serta kesantunan dalam berkomunikasi. Menyindir atau menyatakan keraguan secara halus dan santun, tercermin dalam pilihan kata atau ungkapan daIam bait-bait rejung. Dalam pertunjukan nandai atau guritan,4 yang biasanya diselenggarakan dalam suatu bagian rumah tradisional yang disebut luan' hanya Iaki-laki dewasa yang boleh duduk satu ruang dengan tukang nandai, sementara perempuan dewasa mendengarkan dari ruang lain. Hal ini menunjukken bahwa tata ruang rumah tradisional bertalian dengan fungsi dan status sosial warga masyarakat itu, Teks-teks nandai atau guritan yang pada umumnya menguraikan lingkaran hidup (life cycle) menyaratkan hanya laki-laki dan perempuan dewasa yang boleh mendengarkan nandai atau guritan. Hal ini bertalian dengan kecukupan dan kelayakan psikologis pendengar terhadap isi atau kandungan teks nandai atau guritan serta maksud dan tujuan penyajiannya. Masalah-masalah hekikat hidup, asal mula hidup, tujuan hidup, rangkaian kehidupan yang harus dilalui dan dijalani di dunia fana, serta masalah-masalah hidup sesudah mati, masalah-masalah yang gaib' hubungannya dengan hakikat manusia, merupakan masalah-masalah yang berubisa dikonsumsi oleh mereka yang telah dewasa. Berbeda dengan kesenian lisensi openi dongeng pada Umumnya, yang memang diperuntukkan bagi anak-anak dengan muatan yang berbeda... Dongeng dapat dituturkan kapan ada kesempatan dan ada tempat yang memadai: sore hari setelah pekerjaan rumah tangga selesai, menjelang tidur, di pondok waktu senggang antara pekerjaan berladang, Tema-tema dongeng juga berbeda dari tema-tema teks-teks lisan seperti nandai atau guritan. Tidak jarang konteks dan pelaksanaan kesenian tradisional mengisyaratkan adanya tautan dengan masalah-masalah pemanfaatan sumber.
3 Sejenis pantun.
4 Lazim pada masyarakat Serawai. Pasemah. dan Iembak. Pada masyarakat
Rejang, teks sejenis ini adalah Ndula..
4

daya alam dan konservasi lingkungan. Contoh sederhana pada masyarakat Bengkulu adalah 'nyilalang'. Aturan atau konvensi pelaksanaan ritus tradisional nyia/ang mengungkakan dan mengajarkan secara simbolik ide-ide konservatif dan keberlanjutan: manusia dan lingkungan alam hidup secara berdampingan dan eksploatesi lingkungan alam secara berlebihan ada/ah tabu.
Pendek kata, dari kesenian tradisional kita dapat menimba dan memahami berbegai ajaran yang terkandung di dalamnya. Masalah-masalah seperti hubungan antar individu dalam kelompoknya, hubungan manusia dengan lingkungan alam dan yang gaib, tentang mertabat dan harkat manu- sia, tentang perjuangan hidup, tentang organisasi sosial, kesantunan, dan kehalusan, tentang retorika berkomunikasi, tersedia dalam berbagai jenis dan bentuk kesenian tradisional.
Fakta yang kita hadapi sekarang adalah terjadinya penyusutan apresiasi den saya dukung terhadap kesenian tradisional. Terbukanya isolasi dan komunikasi dengan dunia Iuar serta mobilitas penduduk yang semakin tinggi antara lain menjadi sebab penyusutan tingkat apresiasi dan daya dukung masyarakat yang bersangkutan terhadap kesenian tradisional mereka. Berbagai jenis kesenian dari masyarakat luar memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat tradisional kita. Secara alamiah manusia tertarik kepada sesuatu yang baru, sesuatu yang lain dari yang dimilikinya. Beberapa kasus menarik yang terjadi di Bengkulu adalah maraknya organ tunggal, layer tancap, atau band dalam pelaksanaan bimbang pernikahan, sementara tari adat mulai ditinggalkan. Berdasarkan survei yang kami lakukan, faktor mahalnya biaya untuk pelaksanaan bimbing adat menjadi sebab mulai ditinggalkanya tari adat. Demikian juga mesuknya teknologi TV, VCD, komik asing (terjemahan) turut mendorong menyusutnya apresiesi masyarakat terhadap dongeng atau pertunjukkan-pertunjukkan kesenian tradisional lainnya. Fakta-fakta serupa di atas tidak dapat dihindarkan akan terus terjadi. Perubahan-perubahan terus berlangsung den melanda masyarakat kebudayaan tradisional. Perubahan dalam arti menyusutnya intensitas.

pelaksanaan keseniarl trad\slonal berart! perubahan dalem tatanan kebudayaan 'masyarakat pendukungnya. Selain hal-hat di atas, kami mencatat bahwa penyusutan sikap positif, apresiasi dan daya dukung masyarakat terhadap kesenian tradisional adalah juga karena sifatnya yang simbolik. Sifat ini menyebabkan nilai-nilai yang dikandung kesenian tradisional menjadi sangat terselubung, sulit tangkap sebelum diterjemahkan atau diinterpretasi. Latar belakang kultural kesenian tradisional yang mitis (cf. van Peursen, 1992) menjadi kendala transformasi; nilai atau kandungan kesenian tradisional, sering hal ini menyebabkan munculnya anggapan bahwa yang tradisional tidak resional. Suatu upaya reinterpetasi terhadap kesenian tradisional menjadi mendesak. dilakukan, sehingga nilai atau kandungan isinya bisa dicerna, dipahami dan diapresiasi oleh khalayak luas.
Jika kondisi ini terjadi maka akan muncul sikap positif dan daya dukung yang maksimum terhadap kesenian tradisional. Dengan demikian, pemertahan terhadap kesenian tradisional akan terjadi, Perubahan pada kesenian tradisional yang berarti perubahan atau penyusutan sikap positif, apresiasi dan daya dukung atau nilai-nilai yang terkandung pada kesenian tradisional akan terhindar. Di lain pihak, pengembangan kesenian tradisional dimungkinkan adanya, Pada tataran performance modifikasi, perubahan. pengayaan sangat dimungkinkan.

C. Bengkulu : Potensi Kesenian Tradisional dan Kebijakan
Pemeliharaan serta Pengembanan

Propinsi Bengkulu dengan luas wilayah 1,997.887 Km2 dihuni oleh berbagai etnis, seperti, Rejang, Lombak, Pasemah serta, Surawai.Melayu Enggano, dan Kaur, di samping etnis pendatang dalam jumlah cukup besar seperti Jawa dan Sunda. Masing-masing etnis tersebut memiliki dan mengembangkan kesenian tradisional mereka, di antara kesenian tradisional tiap etnis tersebut, ada yang mssih produktif, tetapi nda. juga yang
6
terancam punah. Dalam konteks ini, Bengkulu memiliki potensi kesenian tradisional yang cukup beraneka (lihat lampiran)
Setakat ini tercatat sejumlah sanggar atau organisasi kesenian di tiga kabupaten dan satu kota, seperti dalam tabel yang beriikut,

Organisasi Kesenian Sepropinsi Bengkulu
no Jenis Orgnisasi Kota Bengkulu Kab. Bengkulu Utara Kab. Bengkulu Selatan Kab






Fakta di atas tentunya Cukup menggembirakan, Paling tidak, secara kuantitatif adanya organisasi kesenian tersebut, upaya-upaya pemertahanan dan pengembangan kesenian tradisional di provinsi Bengkulu dapat berlangsung, Namun jika fakta tersebut dihadapkan pada, kenyataan adanya arus global yang dapat menjadi ancaman bagi 'punahnya' kesenian tradisional di satu pihak, dan pentingnya mentransformasi nilai yang dikandung kesenian tradisional untuk kepentingan pengembangan jatidiri bangsa serta pengembangan ketahanan budaya di lain pihak, maka fakta banyaknya organisasi kesenian belum cukup memberikan jaminan bagi upaya pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional dalam arti yang luas.
7

Upaya-upaya agar masyararakat menjadi pelaku aktif dalam rangka pemertahankan kesenian tradisional menjadi sangat strategis, Gagasan ini dirasa tidak mudah dan tidak sederhana. Banyak faktor yang manjadi kendala tumbuhnya kemauan dan kamampuan masyarakat untuk menjadi pelaku pemertahanan kesenian tradisonal mereka. Faktor ekonomi saIah satunnya Selain itu. faktor psikologis, yang tradisional dianggap identik dengan yang kuno, yang ketinggalan, kurang berprestise: sementara yang berbau modern, yang datanya dari luar dianggap lebih prostisius Faktor politik merupakan kendala lainnya bagi tumbuhnya kemampuan dan daya dukung masyarakat terhadap pelestarian kesenian tradisional. Institusi atau Iembaga isntitusi tradisional tidak berfungsi sejak beberapa dekade yang lalu. Dan ketika gagasan serta kebijakan untuk menghidupkan kembali lembaga atau institusi tradisional melalui Otonomi Daerah, pengetahuan masyarakat tentang 'kesenian dan kebudayaan daerah' dan kemampuan mefeka untuk kembali memanajemen dan menyelenggarakan kehidupan dengan basis kebudayaan daerah mereka telah menjadi sangat minim. Pendukung kesenian tradisional umumnya telah berusia lanjut, yang Secara fisilk tidak lagi dapat mendukung $ecara maksimal upaya transformai pengetahuan dan keterampilan 'berkesenian tradisional'.
Kami memandang bahwa untuk mencapai cita-cita menjadikan masyarakat sebagai pelaku aktif proses pelestarlan kesenian tradisional, diperlukan sinergi berbagai pihak, seperti perguruan tinggi. dinas diknas, dinas pariwisata, BMA, bahkan LSM. PerguruanTinggi memegang peranan panting sehubungan dengan kegiatan penggalian melalui riset tentang kesenian dan kebudayaan daerah. Korpus data kebudayaan daerah dari hesil penggalian dan riset dimaksud menjadi signifikan terutama bagi penyiapan data dasar kebudayaan dan kesenian tradisional. Selain perguruan tinggi, dinas diknas, dinas pariwisata, BMA, dan LSM merupakan lembaga-lembaga yang secara fungsional memiliki akses masuk ke dalam mesyarakat. Institusi ini akan menjadi sangat efektif sepanjang ada du kungan dari pemerintah (pusat dan daerah),
8
".
Sejalan dengan gagasan di atas, Upaya-upaya konkret yang tengah dan akan terus kami lakukan misalnya seperti yang berikut.
a. Memperluas kesempatan masyarakat, menikmati kesenian tradisional sehingga tumbuh sikap positif dan apresiasi yang tinggal terhadap kesenian tradisinal dapat memahami nilai yang dikandungnya untuk kepentingan pengembangan jatidiri dan ketahanan budaya.
b. Membina dan mengembangkan kreativitas kesenian serta mendorong tumbuhnya daya cipta seniman dan budayawan dan pelaku seni lainnya seperti pertukaran seni budaya antar daerah, pertemuan antar seniman dan budayawan festival serta pageleran kesenian dan kebudayaan daerah.
c. Melenggali dan membina kesenian tradisional dan budaya daerah yang di Provinsi Bengkulu.
d. Melengkapi dan menyempurnakan sarana dan prasarana, fisik gedung ulah seni dan taman budaya beserta peralatan.
e. Mendorong dan membantu upaya-upaya pengembangan SDM yang
dapat mendukung pembinaan dan penembangan kesenian tradisional.
f. Mengadakan/mengikuti ferstival atau pagelaran kesenian yang dilaksanakan di dalam dan luar propinsi Bengkulu sebagai upaya memotivasi kreativitas seni
g. Mengangkat kesenian tradisional yang telah menjadi major event nasional seperti festival tabot serta lain-lain kesenian tradisional yang potensial.
h. Dalam rangka rnemperkaya khasanah budaya daerah dan menghormati etnik lain di Bengkulu diperlukan pelestarian, pembinaan, pengembangan tarian adat kebudayan kesenian BengkuIu dapat berlangsung sebagaimana lazimnya. Saling menghargai satu dengan yang lainnya.
9
D. Penutup
Pada dasarnya keberadaan kesenian tradisional tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab kelompok tertentu, tetapi menjadi tanggung yang tak terpisahkan dari semua pihak, dan proses pelestarian kesenian tradisional membutuhkan waktu yang panjang dan berkesinambungan mulai dari pemahaman dan kepedulian dari berbagai pihak termasuk masyarakat lokal serta kesiapan kemampuan masyarakat mengelola dan memanfaatkannya,
Penelitian untuk mendapatkan basis data yang cukup dan akurat sangat panting dan mendesak dilakukan. Diseminasi dan sosialisasi penelitian dalam bentuk yang lebih komunikatif, lebih informatif kepada khalayak luas juga sangat penting. Daya dukung sumber daya manusia, keterlibatan institusi seperti BMA, LSM. dinas diknas dan dinas pariwisata secara sinergis akan sengat signifikan.
;


Bengkulu, 14 Oktober 2003
:: A Tim penyusun Makalah ';JV&1
1. Sarwit Sawono, M,Hum.
2. Ora, Alcara Zamora 3. Drs. Firmansyah
10

... Pustaka Acuan
Ateni. Upacara Tradisional Bekayekan pada Masyarakaf Pasemeh. FKIP Universitas Bengkulu, 2000.

BAPPEDA PROPINSI BENGKULU. Rencana Pembangunan Tahunan Propinsi Bengkulu

Dishareti, Laretna T .A. Pelestarlan PUSARA Bengkulu Vfera Days Mssyarakat Sebagai Pusat Pengelolaan Perubahan

Herdedi, Paisal. Keyiak Beterang pada Masyaraket Serawai di KecamatanTa/o Bengku/u Seletan. FKIP Universitas Bengkulu, 2001.

Herdenson. Nandai Batebah pads Masyaraar Semidang AaJs di Bengkulu Selatan. FKIP Unib, 1997.

Ketetepan Musyawarah Lengkap Ke~1 Badan Musyawarah Adat Bengkulu

Merzanuddin. Rejung dalam Pel1unjukan Tari Adat dalam Bimbang Masyarakat Alas di Bengkulu SeJatan. FKIP Universitas Bengkulu, 1996.

Sarwono Sarwit. Perambak den Rasan Kula pads Masyarakat Serawai. Museum Negeri Bengkulu) 2000.

Suminer, Panji. Integrasi dan Dislntegrasi dalam Prospektif KearJfan Lokal. Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu, 2002.

Tarmizf, Ajulon. Seni Rejang sebags; Sastra Lisen de/am Kultur Mesyarakat Dusun Muara Puyung Kecamaten Seginim Bengkulu Selaten

van Peursen, C.A. Startegi Kebudayaan. Terjemahan Dick Hartoko. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1992.

http://www.kongresbud.budpar.go.id/utusan_bengkulu.htm



1 comments:

Seti@wan Dirgant@Ra ( Who am I? ) said...
August 13, 2009  
Rate this:
2.5

walau tidak mudah upaya-upaya pelestarian budaya kita harus tetap gencar dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pementasan-pementasan seni budaya tradisional di berbagai pusat kebudayaan atau tempat umum yang dilakukan secara berkesinambungan. Upaya pelestarian itu akan berjalan sukses apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan adanya sosialisasi luas dari media massa termasuk televisi. Maka cepat atau lambat, budaya tradisional kembali akan bergairah

Nice posting...
ditunggu kunjungan baliknya terima kasih.

Rejang Land Pal

Support by