weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Sejarah Rejang : Asal usul orang Sekayun, Bengkulu

Sejarah Rejang : Asal usul orang Sekayun, Bengkulu

·

Asal usul orang Sekayun, Bengkulu
Marga (Bang) Ajia



Halaman pertama naskah asli Tambo Bangkahoeloe
(koleksi -admin)


VII

Tatkala baginda Ario Bago semayam menjadi raja di Sungai Lemau, datanglah pada suatu hari dua orang laki isteri dari Rupit mempersembahkan diri mohon mendapat tanah bumi untuk bertani, tetapi dengan pengharapan jangan di bawah pemerintahan 4 pasirah (Rejang 4 petulai-admin). Permintaan dua laki isteri itu hendak tinggal di bawah pemerintahan baginda Ario Bago, sebab keturunan mereka itu Rupit adalah Pasirah juga.

Permintaan kedua mereka itu dikabulkan oleh baginda serta diberi pula sebuah marga (clan-admin) yang di beri nama Marga Bangajia (ajia = raja, bahasa Rejang-admin), tiadalah di bawah pengaruh Rejang empat petulai, melainkan setegak seduduk dengan pasirah empat. Menurut cerita itulah keturunan orang Sekayun sekarang.

******ooOoo******


Dari manuscript ini dapat di simpulkan bahwa nenek moyang orang Sekayun di Bengkulu berasal dari daerah Rupit. Dan mereka di pimpin oleh orang sekayun sendiri dan bukan oleh pasirah Rejang empat petulai. Marga yang di maksud di sini menurut saya adalah subclan, mengapa saya sebut subclan karena clan utama mereka adalah di Rupit, dan kata bangajia dalah dari kata bang ajia, bang di sini berarti marga setara dengan istilah seperti bang mego pada desertasi Prof. Hazairin, yang berjudul De Redjang. Jadi orang sekayun ini bisa di sebut punya marga ajia atau bang ajia atau subclan ajia, atau dalam bahasa Indonesia marga raja.


Orang Sekayun hingga saat ini masih bisa di jumpai di propinsi Bengkulu. Komunitas orang Sekayun sendiri bermukim di daerah Sekayun. Kini putra putri Sekayun sudah banyak yang mengenyam pendidikan tinggi, meskipun 20 puluh tahun lampau orang sekayun di anggap masih terbelakang oleh karena eratnya tradisi yang mereka pegang. Dialek bahasa yang khas Melayu orang Kampung Sekayun, dulu jadi rumor di Bengkulu. Bila ada orang berbahasa Melayu dengan logat yang totok dan mendayu dayu, orang tersebut sering di perumpamakan dengan sebutan "Orang Sekayun". Namun kini semuanya telah berubah, istilah Orang Sekayun yang di artikan orang kampung yang terbelakang hanya tinggal istilah saja. Yang masih ada sekarang mungkin istilah Sundu (dari kata dusun yang di balik katanya), yaitu sebutan untuk orang kampung yang berbahasa melayu totok dan kampungan, ha ha ha, siapa orang Bengkulu yang masih merasa sundu? (Tun Jang, 2011)


Note :
Demikian saduran dari isi Tambo Bangkahoeloe pasal 7 yang di tulis oleh tuan H. Delais dan Tuan J Hassan. Cerita saduran ini dalam bentuk tulis tangan di simpan di Museum Bataviaasch Genootchap yaitu pada Naskah Melayu dengan kode no. 143 dan 148. Sebuah salinan lagi berbentuk saduran juga di tulis oleh tuan St. Takdir Alisyahbana, seorang budayawan dan sastrawan Melayu yang sangat terkenal di saat itu.

Dengan membaca sendiri ke tiga naskah tersebut, akhirnya saya (admin) baru berani menulis salinan naskah ini di blog oleh karena ke tiga naskah itu pada intinya sama, namun semuanya bersumber dari naskah Tambo Bangkahoeloe yang asli yang di tulis tangan dengan huruf arab melayu oleh salah seorang pangeran dari Kerajaan Sungai Lemau.

Tambo asli terdiri dari 41 halaman manuscript, di tulis tangan dengan tinta pada sebuah buku berbahan kertas. Keadaan naskah saat ini dalam keadaan rusak di makan usia, dimana halaman halamanya robek di sana sini. Saya mencoba untuk membuka beberapa halaman yang masih utuh, tapi sangat beresiko bila tertekuk maka kertas akan patah, sehingga saya mengurungkan melanjutkan membukanya. Di dalam hati saya sedih sekali, satu naskah penting tentang Bengkulu belum ada upaya agar dilakukan restorasi dengan melapisi naskah tersebut dengan tisu jepang dengan segera, berbeda halnya yang saya lihat terhadap naskah dari propinsi lain, naskah mereka kebanyakan telah di restorasi. Jujur saya iri karena manuscript propinsi lain terawat dengan baik. Menurut petugas, sangat sedikit sekali orang yang berminat membuka naskah kuno asal Bengkulu tersebut, mereka memprioritaskan merestorasi naskah yang sangat sering di minta untuk di lihat seperti naskah dari Sumatra Barat, Sumatra Utara atau Aceh. Bila di bandingkan dengan manuscript manuscript dari pulau sumatra keadaan ini sangat memprihatinkan. Saya mencoba mencari tahu apakah ada duplikat dalam bentuk film yang pernah di buat, ternyata ada, dan akhirnya saya mendapatkan duplikat tersebut, satu duplikat yang di buat lebih dari 20 tahun silam, saya memutuskan untuk mencetaknya meskipun mesti membayar mahal. Halaman pertama tambo setelah di edit warnanya agar bisa di baca seperti terlihat di atas.


0 comments:

Rejang Land Pal

Support by