weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Rejung : Nasieb - The fate

Rejung : Nasieb - The fate

·

 - theThis is one of the rejang traditional poem,and called as rejung and accompanied with single guitar humming string rythm by Yulisman.


Nasieb


* Uku alew mai Sadei perbo,
* Temeu punguk nak pengea dalen,
* lang ke malang nasieb ku iyo,
* Awei ba punguk indeu ngen bulen,
* lang ke malang nasieb ku iyo,
* Awei ba punguk indeu ngen bulen,

* Uku terus mai Sadie saweak,
* Temeu ku sawei nak bioa musei,
* men ku namen etun temegea’,
* Nemak ku anduk gen plap bioa matei,
* Amen ku namen etun temegea’
* Nemak ku anduk gen plap bioa matei,

* Uku terus mai taba renea’,
* Singea’ uku nak sipang epat,
* Men ku namen eko lak nikea’,
* Kunyeu ba uku idup melarat,
* Men ku namen eko lak nikea’,
* Kunyeu ba uku idup melarat,

* Uku belek mai bioa ambei,
* Mlitas uku kak Sadie cu’up,
* men ku namen eko bi jijei,
* Baik ba uku dakmi ba idup,
* men ku namen eko bi jijei,
* Baik ba uku dakmi ba idup,

* Mai Sambe mai sukarajo
* Tengea tengea ne si jamben besei
* Belo o ko madeak cito
* Sapie ba uyo, ko tinget cigei
* Belo o ko madeak cito

* Sapie ba uyo, ko tinget cigei
* Karang anyar be sipang-sipang
* Sipang ite aleu mai dukew
* Keme begitar dang madeak riang
* Elak ba mapus sedingen edew
* Keme begitar dang madeak riang
* Elak ba mapus sedingen edew

* Epei iyo epei ku nien
* Epei bekembung si benang ijo
* Bagei iyo bagei ku nien
* Bagei menangung dalem dunio
* Bagei iyo bagei ku nien
* Bagei menangung dalem dunio

  • Sung by: Ice Trisnawati
  • Gitar By : Yulisman
  • Lyric by : Curup Kami
  • Publish by : Tun Jang




Rejung

Sesuai dengan alam yang berada di pelosok-pelosok bukit barisan, menyebabkan anak-anak Rejang dekat dengan kehidupan alam, sehingga tidak mengherankan jikalaupun mereka sudah jauh pergi merantau tetap saja kencenderungan ingat kepada alam yang indah di dataran tinggi sumatra, meski kadang menjadikan angan-angan untuk pulang. Sejalan dengan keadaan seperti itu terkadang tidak mengherankan apabila dalam kesendirian di dalam belantara sambil mengumpulkan hasil hutan mereka menembangkan lagu-lagu yang memiliki muatan budaya yang tinggi, dan apa yang keluar dari hati mereka biasanya sangatlah erat dengan situasi, dimana tidak ada politik, ataupun intervensi dari pihak manapun melainkan murni guratan suara hati, yang terkadang terdengar lirih, sedih dan sendu. Sya’ir beserta irama itulah yang disebut dengan rejung, adapun sya’ir di sini berupa pantun yang terdiri dari empat bait, dimana dua bait adalah sampiran dan dua bait lagi merupakan isi dari pantun tersebut.

Di dataran tinggi sumatra, seni sastra diturunkan secara lisan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk) adalah bentuk sastra lisan tersebut. Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggong (Ginggung) tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya.

Seni rejung ini banyak berkembang pada suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Rejang, Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu). (Anak semende dan gitar tunggal blog)

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by