weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Jejak Langkah Misi Katolik Propinsi Bengkulu

Jejak Langkah Misi Katolik Propinsi Bengkulu

·

Mendengar kata Bengkulu, ingatan kita akan segera terbawa pada seorang sosok penguasa berkebangsaan Inggris bernama Sir Thomas Stamford Raffles. Bertutur tentang Bengkulu, tidak akan pernah terlupakan untuk berbicara mengenai bangsa Inggris yang pernah menguasai Bengkulu selama lebih kurang 140 tahun (1685-1824). Inggris banyak meninggalkan jejak, termasuk dalam karya misi gereja di daerah Bengkulu.

Rekaman Jejak Awal

Sejarah dimulainya bangsa Inggris menjejak kaki di Bengkulu tepat pada tanggal 24 Juni 1685. Saat itu, tiga orang utusan Inggris yaitu Ralp Ord, Benyamin Bloome, dan Joshua Charlton tiba di Bengkulu untuk menjajaki hubungan perdagangan dengan masyarakat Bengkulu. Pada 16 Agustus 1685, kedua belah pihak menandatangani suatu perjanjian yang mengatur hubungan perdagangan. Pihak Inggris diwakili oleh Charles Baswell Esq, sedangkan pihak Bengkulu diwakili oleh Pangeran Ingalu Raja, dari Silebar. Melalui kesepakatan itu, Inggris pun dapat masuk ke Bengkulu untuk berdagang. Pada pertengahan 1685, Inggris membangun Benteng York di antara laut dan Sungai Serut. Selain itu, pemerintah Inggris juga membangun kantor dan gudang perdagangan di daerah Silebar yang berjarak kira-kira 6 Km sebelah selatan Bengkulu.

Dengan adanya kantor perdagangan ini, maka semakin ramailah daerah Bengkulu. Banyak orang-orang Eropa yang akhirnya menetap di Bengkulu. Dari mereka, ada pula yang beragama katolik. Akhirnya, penguasa East Indie Company (Serikat dagang Inggris) di Madras meminta para misionaris dari Ordo Theatin untuk melayani kehidupan rohani para tentara, dan masyarakat Eropa katolik di Benteng York. Permintaan itu di setujui oleh pemimpin ordo yang mengirim Pastor Martelli yang tiba di Bengkulu pada Desember 1702, dan tinggal di Benteng York. Dalam suratnya tanggal 28 Januari 1703, Pastor Martelli melaporkan, jumlah umat Katolik di Bengkulu mencapai 400 orang Kristen, yang beragamaa Katolik berjumlah 300 orang. Saat itu pos misi di Sumatera hanya ada di Pantai Utara Aceh yang dilayani misionaris Fransiskan dan Bengkulu sendiri. Kedua pos misi ini berada dalam Keuskupan Malaka yang saat itu sedang lowong, karena tidak ada uskupnya. Pastor Martelli mendapat bantuan tenaga dari Pastor Castelli.

Setelah Pastor Martelli dibunuh tahun 1706 saat mengadakan reksa pastoral di daerah pedalaman Kalimantan, Pastor Castelli bekerja seorang diri melayani umat di Bengkulu hingga tahun 1708, saat Pastor Johannes Maria Comini membantu karya misi di Bengkulu. Saat itu konflik antara rakyat Bengkulu dengan bangsa Inggris mulai sering terjadi. Konflik ini pula yang membawa dampak buruk bagi karya misi gereja di Bengkulu. Rumah kediaman Pastor Castelli pernah diserang dan dihancurkan oleh rakyat Bengkulu, benda-benda suci diambil. Karya misi yang sudah bertahun-tahun dilakukan seakan telah hancur dan tidak ada lagi harapan. Akhirnya Pastor Castelli meninggalkan Bengkulu dan menuju ke Kalimantan.

Tugas Pastor Castelli digantikan oleh Pastor John Milton. Namun belum lama ada di Bengkulu, beliau sudah sakit dan akhirnya meninggal pada tanggal 14 September 1714. Pastor Johannes Maria Comini kembali bekerja seorang diri.

Pada tahun 1712 Yoseph Collet diangkat menjadi Deputi Gubernur, ia meminta izin pada EIC (East Indie Company) untuk menggantikan Benteng York dan membangun sebuah benteng baru diatas karang, sebuah bukit kecil yang menghadap ke laut sekitar 2Km dari Benteng York. Pada tahun 1714 dimulailah pembangunannya dan selesai pada tahun 1718. Yoseph Collet menyebutnya Benteng "Marlborough" sebagai penghormatan terhadap Winston Churchill yang mendapatkan gelar Duke Of Marlborough setelah ia memenangkan sejumlah pertempuran melawan Perancis dan musuh-musuh lainnya. Selain itu, Inggris juga mendirikan Benteng Anna di daerah Muko-Muko.

Pastor Comini, setelah bekerja seorang diri, ia ditarik ke Goa India karena diangkat menjadi pimpinan Ordo Theatin Asia. Tugasnya di Bengkulu digantikan oleh Pastor Josef Maria Ricca. Ia berhasil membangun kapel di dekat Benteng Anna. Namun konflik yang terjadi antara Inggris dan masyarakat Bengkulu saat itu sungguh tidak menguntungkan. Terjadi pemberontakan di tahun 1719. Benteng diserang dan dibakar. Semua warga Eropa menyelamatkan diri ke Batavia untuk sampai di Madras. Pastor Ricca menolak untuk melarikan diri, ia memilih tinggal bersama umatnya. Pada saat itu ia juga sedang mengadakan misa Jumat Agung, pada saat penghormatan salib, penduduk pribumi memberontak dan akhirnya membunuh Pastor Ricca. Semenjak peristiwa itu, Bengkulu mengalami kekosongan misionaris, tidak ada pelayanan rohani bagi orang-orang katolik di daerah Bengkulu. Benteng Marlborough dikuasai oleh orang-orang pribumi.

Ayunan langkah yang berat namun penuh harapan

Pada tahun 1721, pasukan Inggris merebut benteng kembali. Usaha mengirim misionaris dari Ordo Theatin tidak berhasil. Tetapi berkat keteguhan Pastor Johanes Maria Comini sebagai pimpinan Ordo Theatin kawasan Asia, 2 orang misionaris dapat dikirim ke Bengkulu. Mereka adalah Pastor Carolus Fideli dan Pastor Alexander Rotigno. Dari laporan yang dikirim oleh Pastor Fideli, tampak bahwa umat katolik dan misionaris dimusuhi oleh penduduk pribumi pesisir yang matoritas telah memeluk agama Islam. Selama pelayanannya, Pastor Fideli dapat membangun kembali kapel yang rusak saat pemberontakan tahun 1719 dan juga membangun kapel di daerah Muko-muko. Tugas Pastor Fideli digantikan oleh Pastor Johanes Fransiscus Rescala karena ia diangkat menjadi pimpinan Ordo Theatin.

Pelayanan yang dilaksanakan tidak lagi terbatas di daerah Bengkulu dan Muko-muko, tetapi juga telah melayani daerah Selebar yang terkanal dengan perdagangan ladanya.

Situasi yang kondusif membuat para pedagang dari Eropa kembali ramai mendatangi Bengkulu. Dengan demikian, semakin banyak umat katolik yang harus dilayani oleh para misionaris. Hal ini menyebabkan pelayanan di daerah pedalaman sedikit terabaikan. Bengkulu mendapat tambahan tenaga misionaris ketika Pastor Johanes Maria Uguccioni datang ke Bengkulu pada tahun 1736.

Konflik yang terjadi antara Inggris dan Prancis di Eropa semakin menghebat. Situasi ini merambat ke Bengkulu dan mempengaruhi karya misi gereja. Bengkulu menjadi daerah rebutan antara keduanya. Pada awal April 1760 benteng Marlborough dapat direbut oleh Prancis. Saat itu Pastor Johanes Maria Uguccioni meninggalkan Bengkulu dan pergi ke Manila yang sudah dikuasai oleh Inggris. Saat ia singgah ke Bengkulu, dia melihat bahwa karya misi yang sudah lama dimulai telah hancur akibat peperangan antara Inggris dan Prancis. Umat katolik di Bengkulu semakin sedikit. Tidak ada lagi misionaris yang melayani karya misi di Bengkulu.

Tahun-tahun sesudahnya, Bengkulu menjadi rebutan antara Inggris dan Belanda. Inggris dapat mempertahankan Bengkulu. Saat Sir Thomas Stamford Raffles menjabat sebagai Gubernur di Bengkulu, ia berusaha melebarkan kekuasaannya ke Palembang. Namun, berdasarkan persetujuan damai antara Belanda dan Inggris di tahun 1824, Inggris akhirnya pergi dari Sumatera, termasuk Bengkulu. Setelah itu, tidak ada rekaman karya misi yang bisa kita peroleh. Apakah di Bengkulu masih ada misionaris yang berkarya, atau masihkah ada umat katolik di Bengkulu saat itu.

Jejak Lama yang Baru

Sebenarnya, dari tahun 1811 sampai tahun 1923, wilayah Bengkulu dan Sumatera Selatan masuk dalam Prefektur Apostolik Sumatera yang berpusat di Padang. Saat itu, yang menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Mgr. Libertus Cluts, OFM Cap. Ordo Kapusin dipercaya untuk mengerjakan karya misi di daerah ini. Namun setelah kepergian Inggris dari Bengkulu, karya misi yang semula dilaksanakan Ordo Theatin tidak dapat diteruskan,.

Pada tanggal 27 Desember 1923, sesuai “breve” dari Tahta Suci daerah Sumatera Selatan dan Bengkulu menjadi Prefektur Apostolik yang terpisah dengan Prefektur Apostolik Sumatera (Padang). Prefektur Apsotolik yang baru ini dinamakan Prefektur Apsotolik Bengkulu yang pos misinya ada di Tanjungsakti.

Pada tanggal 23 September 1924, para misionaris dari Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) tiba pertama kalinya di Tanjungsakti. Mereka adalah Pastor H.J.D. van Oort SCJ, Pastor K. van Steekelenburg SCJ, dan Bruder Felix van Langenberg, SCJ. Ketiga orang ini disambut oleh Pastor Spanjers OFM Cap. Dengan kedatangan para misionaris ini, maka tenaga misi untuk melayani umat di daerah Sumatera Selatan dan Bengkulu bertambah. Pastor van Oort SCJ diberi kepercayaan sebagai kepala misi. Dalam perkembangan yang sangat singkat, Palembang dan Bengkulu ditetapkan sebagai pos misi yang kedua dan ketiga. Dalam perkembangan selanjutnya, Tanjung-Karang dan Jambi menjadi pos misi selanjutnya.

Pada tanggal 28 Mei 1926 Mgr. H.L. Smeets SCJ menjadi Prefektur Apostolik yang pertama walaupun beliau baru tiba bulan September 1925. Jabatan ini tidak berlangsung lama, karena pada tanggal 19 Januari 1927 beliau kembali ke Nederlands. Pastor van Oort, SCJ menggantikan tugas beliau sampai tanggal 19 Januari 1939, saat Pastor H.M. Mekkelholt, SCJ diangkat sebagai Prefek Apostolik.

Pada saat itu, di Bengkulu masih ada sedikit umat katolik. Salah satunya adalah keluarga van der Vossen. Keluarga ini memiliki kedudukan yang amat penting. Dari keluarga ini pulalah maka pada bulan November 1926 dibeli sebuah rumah di Jln. Pasar Melintang (Sekarang menjadi Kantor Dinas Sosial). Rumah ini ditempati oleh Pastor M. Neilen SCJ sebagai pastoran sekaligus tempat ibadat, dan beliau adalah pastor paroki pertama Paroki St. Yohanes Penginjil. Pastor Neilen SCJ mendapat bantuan dari Pastor N. Hoogeboom, SCJ. Dalam tugas pelayanannya, Pastor Neilen, SCJ juga memulai HCS (Hollandsch-Chineesche School) pada tanggal 31 Desember 1926. Untuk itu, ia mengirim surat undangan kepada pimpinan kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB) untuk berkarya di Bengkulu. Undangan itu ditanggapi pemimpin umum para suster dengan mengirim 4 orang suster pada tanggal 21 November 1921, yaitu Sr. Hadeline, Sr. Carolus, Sr. Fabiola – ketiganya berkarya di bidang pendidikan dan Sr. Jacquiline yang berkarya di bidang kesehatan. Dengan kehadiran para suster, maka pendidikan HCS diserahkan secara penuh kepada mereka pada tanggal 6 Januari 1930. Saat ini, sekolah HCS menjadi SD Sint Carolus yang dengan setia masih dilayani oleh para suster CB.

Rumah di Jln. Pasar Melintang tidak lagi memadai untuk digunakan sebagai tempat ibadat karena semakin banyaknya umat. Akhirnya, tahun 1929 dibeli tanah dan rumah di daerah Kampung Cina. Tanah ini terdiri atas dua bagian. Bagian yang lebih dekat dengan laut digunakan untuk susteran dan sekolahan dan bagian lainnya yang lebih tinggi digunakan sebagai pastoran dan asrama putra. Di sebelah pastoran itulah didirikan gereja. Untuk selanjutnya, tidak ada sejarah yang terekam. Namun dari Liber Baptizmorum (Buku Baptis), ada beberapa orang yang dibaptis pada awal gereja Bengkulu, yaitu Corry Rosmini yang dibaptis tanggal 19 Mei 1917, Maria Tjoa Goei Nio (Mariani Tjimantara) dibaptis tahun1930, dan Josephus Lie Hian Soen yang dibaptis tahun 1930.

Pada tanggal 1 Januari 1967, berdirilah paroki lain di daerah Lebong, yaitu Paroki St. Stephanus, Curup. Dalam perkembangan selanjutnya, Pastor Andreas Lukasik (1972-1975) mulai merintis pembukaan daerah selatan. Saat itu, persebaran umat masih terbatas di sekitar gereja dan Kampung Cina. Perayaan ekaristi hanya dilakukan satu kali, pada hari Minggu pagi.

Tahun 1981, saat Pastor Darricau, MEP menjadi pastor paroki (1978-1984), dibangunlah gereja baru di samping gereja lama (saat ini menjadi balai paroki). Pembangunan tidak berjalan dengan lancar karena ada beberapa halangan. Uskup saat itu tidak menyetujui, dan Pemda juga meminta agar bangunan gereja tidak terlalu besar dan megah, agar gedung daerah di depan gereja tidak tersaingi. Walaupun demikian, pembangunan terus dilaksanakan. Pada masa Pastor Nico van Steekelenburg, SCJ pembangunan gereja selesai. Ia juga banyak merintis stasi dan wilayah-wilayah di lingkungan Paroki St. Yohanes Penginjil. Gedung gereja yang baru ini akhirnya diberkati oleh Mgr. J.H. Soudant, SCJ pada Hari Raya Pentakosta, 22 Mei 1983.

Terus Mengayunkan Langkah…

Saat ini, hampir seluruh provinsi Bengkulu menjadi daerah pelayanan dari Paroki St. Yohanes, kecuali Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Paroki St. Yohanes terdiri dari 38 stasi. Kapel stasi paling Selatan adalah kapel St. Benediktus-Kaur yang berjarak + 240 Km, sedangkan kapel stasi paling Utara adalah kapel St. Yosef SP2 Lubuk Pinang-Muko Muko yang berjarak + 305 Km dari Paroki St. Yohanes. Sehingga, jarak dari Utara ke selatan + 545 Km, separuh jalan raya Anyer-Panarukan yang dibangun oleh Daendels.

Saat ini jumlah umat katolik Paroki St. Yohanes Penginjil + 5.7000 jiwa. Dari keseluruhannya itu, 60% tinggal di Kota Bengkulu. Dilihat dari latar belakang budayanya, umat katolik di Bengkulu sungguh beragam seperti Jawa, Tiong-hoa, Batak, Flores dan lain sebagainya. Hal ini juga ingin menunjukkan bahwa Gereja ingin merangkul semuanya untuk sampai pada keselamatan.

Usia 80 tahun merupakan sebuah usia yang seharusnya sudah mencapai pada kematangan. Namun kiranya, kita harus terus berbenah untuk mewujudkan Gereja yang lebih hidup berdasarkan iman dan persaudaraan yang tulus. Masih banyak hal yang harus dilakukan dan dikembangkan. Kiranya, pelayanan yang telah dimulai bertahun-tahun lalu dengan kerja keras dan jatuh bangun, akhirnya mampu berbuah dan menjadi berkat bagi gereja dan Negara. Proficiat untuk Paroki St. Yohanes Penginjil Bengkulu. Tuhan memberkati setiap langkah dan usaha kita.

Bumi Rafflesia, Penghujung April 2008
Ant. Dwi Putranto, SCJ



1 comments:

budiawanhutasoit ( Who am I? ) said...
March 02, 2009  
Rate this:
2.5

terima kasih ya..untuk informasinya..menambah pengetahuan saya..

Rejang Land Pal

Support by