weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: DARI LAMPIK EMPAT MERDIKE DUE, SINDANG MERDIKE KE KOTA PERJUANGAN (Besemah History)

DARI LAMPIK EMPAT MERDIKE DUE, SINDANG MERDIKE KE KOTA PERJUANGAN (Besemah History)

·

Tim Penyusun: Marzuki Bedur, A. Bastari Suan, Eka Pascal, dan Arif Nurhayat Permana


Suku Terpenting di Sumsel

Suku Besemah, yang sering disebut sebagai suku yang suka damai tetapi juga suka perang (Vrijheid lievende en oorlogzuchtige bergbewoners), adalah suku penting yang terdapat di Sumatera Selatan. Pada zaman Sebelum Masehi (SM), pada peta yang dibuat oleh Muhammad Yamin, belum tampak nama suku-suku lain yang tercantum, kecuali suku Besemah.


Local Jenius

Suku Besemah, sebagai salah satu pemilik kebudayaan Megalitikum, disebut suku yang memiliki “local genius”. Tetapi sayang, “tidak diwariskan” kepada anak-cucu (keturunannya).

Asal-usul Suku Besemah

Mengenai asal-usul suku Besemah, hingga saat ini masih diliputi kabut rahasia. Yang ada hanyalah cerita-cerita yang bersifat legenda atau mitos, yaitu mitos Atung Bungsu, yang merupakan salah satu di antara 7 orang anak ratu (= raja) Majapahit, yang melakukan perjalanan menelusuri sungai Lematang, akhirnya memilih tempat bermukim di dusun Benuakeling. Atung Bungsu menikah dengan putri Ratu Benuakeling, bernama Senantan Buih (Kenantan Buih). Melalui keturunannya Bujang Jawe (Puyang Diwate), puyang Mandulike, puyang Sake Semenung, puyang Sake Sepadi, puyang Sake Seghatus, dan puyang Sake Seketi yang menjadikan penduduk Jagat Besemah (Lihat Bagan Alir).

Mitos/Legenda Suku Besemah

Cerita tentang asal-usul suku Besemah sangat mistis, irasional, dan sukar dipercaya kebenarannya. Masalahnya bukan persoalan benar atau salah, dipercaya atau tidak, akan tetapi unsur yang sangat penting dalam mitos atau legenda adalah peran dan fungsinya sebagai pemersatu kehidupan suatu masyarakat (jeme Besemah).

Mitos atau legenda ini dapat menjadi antisipasi disintegrasi kesatuan dan persatuan jeme Besemah di mana pun mereka berada. Hal ini sudah sudah tampak dalam beberapa dekade, terutama setelah pemerintahan marga dihapuskan (UU No.5 Tahun 1979). Perlu selalu ditanamkan perasaan dan keyakinan bahwa jeme Besemah itu (termasuk jeme Semende dan jeme Kisam) berasal dari satu keturunan



BERDIRINYA DUSUN DI JAGAT BESEMAH

Puyang Kunduran membuat dusun Masambulau (Ulu Manak) dan di kemudian hari anak-cucunya membuat dusun Gunungkerte, termasuk Sumbay Besak (Sumbay Besar); Puyang Keriye Beraim membuat dusun Gunungkaye, dan Sumur. Kemudian anak-cucu Keriye Beraim membuat dusun Talangtinggi dan Muarajauh (Ulu Lurah), Puyang Belirang membuat dusun Semahpure dan anak cucunya pindah pula membuat dusun di Ulu Manak. Puyang Raje Nyawe pindah pula membuat dusun Perdipe, Petani dan Pajarbulan. Anak cucunya pindah pula membuat dusun Alundua, Sandarangin, Selibar, Rambaikace, Sukemerindu, Kutaraye, Babatan, Sadan, Nantigiri, Lubuksaung, Serambi, Bendaraji, Ulu Lintang; Bangke, Singapure, Buluhlebar, Gunungliwat, Tanjungberingin, Ayikdingin, Muarasindang, Tebatbenawah, Rempasai, Karanganyar, semuanya masuk Sumbay Besak. Puyang Raje Nyawe pindah ke Semende, membuat dusun Pajarbulan. Puyang Raje Nyawe kembali ke dusun Perdipe menyebarkan agama Islam dan adat istiadat perkawinan secara islami. Dari Semende banyak penduduk yang pindah ke Kisam dan masih banyak cerita mengenai pendirian dusun-dusun di Tanah Besemah ini.

Sistem Pemerintahan Tradisional

Sistem pemerintahan tradisional di daerah Besemah disebut Lampik Empat Merdike Due yang dipimpin oleh kepala-kepala sumbay. Besemah waktu itu merupakan suatu “republik” yang paling demokratis. Tanggung-jawab dan kesetiaan sangat ketat dibina oleh orang Besemah. Rasa solidaritas dan loyalitas yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan prajurit-prajurit Besemah dapat melakukan perlawanan terhadap Kolonialisme. Hal yang mengiringi rasa solidaritas dan loyalitas yang tinggi itu, baik di dalam keluarga batih, keluarga luas virilokal maupun pada suku Besemah secara umum adalah konsep “dimak kepadunye” dan “dide beganti”.

Sindang Merdike dan Si Penjaga Batas

Status “ Sindang Merdike” dan “Si Penjaga Batas” dan sistem pemerintahan tradisional “Lampik Empat Merdike Due” menjadi terancam dan sirna setelah kolonialis Belanda dapat mengalahkan perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II melalui Perang Palembang tahun 1819 dan 1821.

Mengenai hubungan dengan Kesultanan Palembang, suku Besemah selalu menganggap dirinya sebagai orang yang bebas, orang merdike. Hubungan Sultan Palembang dengan suku Besemah lebih bersifat suzereinitas daripada souveriginitas (Hens, 1909:12-15) Kewajiban “milir seba” Bukit Seguntang pada tiap tiga tahun sekali, lebih diartikan sebagai nggaghi kelaway tue, Putri Sindang Biduk. Sultan Palembang cukup menghormati orang-orang Besemah, terbukti dengan status yang diberikannya status “Sindang Merdike” dan “Si Penjaga Batas” (Grensbewakers).

Suku Besemah sering melakukan, yang menurut istilah Belanda membuat “kerusuhan” (onlusten), membuat “huru-hara” (woelingen), atau mengganggu ketenteraman (rustverstoring). Menyadari bahwa pihak Belanda pasti akan melakukan serangan, orang Besemah membuat benteng-benteng pertahanan yang kuat, disebut kute di beberapa dusun. Misalnya Kute Gelungsakti, Kute Penandingan, Kute Tebatseghut, Kute-agung, Kute Menteralam, dan kute-kute lainnya. Pimpinan militer Belanda memutuskan mengirimkan ekspedisi militernya untuk menghancurkan kekuatan orang-orang Besemah, yang dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juni tahun 1866.

Belanda mengalahkan Besemah

Oleh karena persenjataan yang lebih modern, pengalaman perang yang cukup, dan pasukan yang terlatih, akhirnya Belanda dapat menguasai satu persatu kute pertahanan prajurit-prajurit Besemah, yaitu Kute dusun Gelungsakti, Kute Penandingan, Kute Tebatseghut, Kute-agung, Kute Menteralam dan lain-lain. Pada pertempuran di kute-kute tersebut terlihat bahwa prajurit-prajurit Besemah lebih memilih kemungkinan mati daripada menyerah, terutama pada pertempuran di Tebatseghut dan Menteralam. Setelah mengalahkan perlawanan di daerah Besemah Libagh (Besemah Lebar), pasukan Belanda melanjutkan serangannya ke Besemah Ulu Manak untuk menangkap tokoh-tokoh pemimpin Besemah yang bersembunyi di daerah ini.

Kekalahan ini menyebabkan rakyat Besemah harus tunduk kepada peraturan yang dikeluarkan pemerintah Belanda. Misalnya, mereka harus membayar pajak tanah, pajak rumah, menghentikan perdagangan budak, dan menghentikan kebiasaan menyabung ayam. Peraturan dan ketentuan-ketentuan itu merupakan hal baru dan sangat memberatkan bagi orang-orang Besemah yang tidak ada sebelumnya. Hal ini berarti, status “Sindang Merdike” dan “Si Penjaga Batas” menjadi hilang Dengan kekalahan tersebut, mulailah daerah Besemah dijajah Belanda dengan segala penderitaan dan kesulitan ekonomi. Penderitaan ini berlangsung hampir selama 82 tahun.

Perang Pasifik

Kekuasan Belanda yang tampak sangat kuat, dengan mudah dikalahkan oleh balatentara Jepang pada Perang Pasifik di bulan Februari 1942. Pertahanan Sekutu di Laut Jawa dapat dipatahkan. Pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di kepulauan Indonesia. Menyerahnya Belanda kepada Jepang pada tanggal 9 Maret 1942, menyebabkan Belanda kehilangan jajahannya di Indonesia.

Di Bawah Penjajahan Jepang

Mulailah babak baru dalam sejarah Indonesia, yakni Indonesia dijajah oleh bangsa Jepang. Rakyat Indonesia semakin menderita di bawah kekuasaan Jepang. Balatentara Jepang ternyata lebih kejam bila dibandingkan dengan kolonialis Belanda. Jepang yang pada awal Perang Asia Timur Raya sangat opensif, berubah menjadi defensif dan tertekan oleh kekuatan Sekutu, sehingga terdesak di berbagai front pertempuran, termasuk di wilayah Indonesia.

Gyugun Kanbu

Untuk mengatasi kekurangan pasukan, Jepang membentuk satuan militer pribumi, yaitu yang disebut Gyugun Kanbu (Infanteri Gyugun). Angkatan pertama Gyugun dilatih di Kota Pagaralam, tepatnya di Balai Istirahat, di belakang rumah sakit Juliana (Juliana Hospital), di jalan ke arah dusun Pematangbange. Dari pusat latihan Gyugun di Pagaralam dihasilkan prajurit dan perwira-perwira yang cakap dan terampil dalam menggunakan senjata, mengatur strategi perang serta teknik-teknik berperang yang kemudian sangat bermanfaat dalam perang mempertahankan kemerdekaan. Faktor inilah dapat dijadikan sebagai salah satu dasar kriteria untuk menyebut Pagaralam sebagai “Kota Perjuangan”.

Proklamasi Kemerdekaan

Akhirnya Jepang menjerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya (17 Agustus 1945). Tidak semua daerah mengetahuinya pada tanggal tanggal sama, Oleh karena itu pulalah upacara penaikan bendera sang Merah-Putih, tidak sama waktunya antara satu daerah dengan daerah lainnya, termasuk di Kota Pagaralam (tanggal 21-27 Agustus 1945). Upacara penaikan bendera dilaksanakan di halaman toko Datuk Seri Maharajo, ayah Sofjan Rasjad (sekarang Toko Disco). Tokoh-tokoh yang terlibat pada upacara penting itu adalah Kenasin, beberapa orang pemuda Hizbul Wathan, dan Al Munir Rt.

Pendirian KNID/BPKR

Di Pagaralam dibentuk KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah). KNID Pagaralam diketuai oleh M. Siddik Adiem, sedangkan tokoh-tokoh BPKR untuk Kewedanaan Tanah Pasemah, antara lain Harun Sohar, Ruslan, Djarab, Syamsul Bachri Umar, Hamid, Jemair, H. Mansur, Sanaf, dan Yunus.

Pertemuan di Tebat Limau

Sebagai suatu negara yang telah merdeka, Indonesia berusaha mengambil alih kekuasaan politik dan militer, terutama usaha untuk mengambil atau merebut senjata dari tangan Jepang, Mayor Ruslan mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan di Tebatlimau, dekat dusun Pelangkendiday yang dihadiri oleh semua unsur pemerintahan, KNID, wedana, polisi, para pesirah, kepala-kepala sumbay, dan pimpinan TKR/laskar.

Perebutan Senjata

Terjadi pertempuran-pertempuran dengan tentara Jepang di butai-butai Jepang di Gununglilan, Bumiagung, BPM Jerambah Beringin, dan Karangdale. Pada pertempuran-pertempuran di butai-butai Jepang tersebut telah gugur beberapa putera terbaik Besemah, antara lain Mayor Ruslan, Sersan Ansori, Serma Wanar, Musalim, Zainal, Salam, Tulip, Ming, Dung, Marzuki, Zainawi, Jinal, Kamal, Abdullah, Sayit, Kusim, Siakip, dan beberapa orang lainnya yang tidak tercatat. Diharapkan dalam lokakarya yang dilaksanakan hari ini, ada masukan tentang orang-orang yang terlibat.

Setelah balatentara Jepang menyelesaikan tugas yang diberikan Sekutu dan mereka dikembalikan ke tanah airnya, perjuangan rakyat Indonesia belum berakhir. Belanda (NICA) datang kembali ke Indonesia. Terjadi pertempuran dengan pihak Sekutu/Belanda yang mencapai puncaknya pada Pertempuran Lima Hari Lima Malam (PLLM) tanggal 1 Januari sampai dengan 5 Januari 1947, Agresi Militer I ( 21 Juli 1947) dan Agresi Militer II (19 Desember 1948). Rakyat Sumatera Selatan melakukan perlawanan sengit, sangat heroik, dan semangat rela berkorban yang sangat tinggi baik harta maupun nyawa, demi untuk mempertahankan kemerdekaan. Perlawanan yang demikian termasuk juga di Kewedanaan Tanah Pasemah.

Peran Rakyat Besemah dalam PLHLM dan AM I

Pada Agresi Militer I Belanda, rakyat di Kewedanaan Tanah Pasemah belum secara langsung berperang di daerahnya karena Belanda belum berhasil sampai ke sana. Namun mereka telah ikut berperan pada Pertempuran Lima Hari Lima Malam dan Agresi Militer I, yaitu berupa bantuan berupa bantuan personil (prajurit) dan logistik (beras dan sayur-sayuran). Memang sudah ada usaha Belanda untuk melakukan serangan ke Pagaralam (ibukota Kewedanaan Tanah Pasemah), tetapi niat ini tidak terjadi karena sudah ada Persetujuan Renville tanggal 27 Januari 1948. Berdasarkan persetujuan itu, ditetapkan garis demarkasi ditentukan dusun Tanjungtebat.

Perlawanan Rakyat di Tanah Besemah pada AM II

Pada Agresi Militer II Belanda (Desember 1948), ada tiga daerah yang menjadi target sasaran, yaitu Muaradua (sekarang OKU Selatan), Tebingtinggi, dan Pagaralam.Pertahanan Kota Pagaralam dibebankan kepada Batalyon XVI STP (Sub Teritorium Palembang) yang berkekuatan enam kompi, yaitu Kompi I Kapten Satar, Kompi II Lettu Ichsan, Kompi III Lettu Yahya Bahar, Kompi IV Lettu Nahwi, Kompi V Lettu Adenan Ibrahim, dan Kompi VI Vandrig H.S. Simanjuntak.

Untuk mempertahankan kota Pagaralam ini, dibentuk tiga front, yaitu Front Mingkik untuk menghadapi pasukan Belanda di luang Ndikat, Front Selangis untuk menghadapi pasukan Belanda yang akan masuk lewat simpang Rantau-unji, dan Front Padangkaghit (Onderneming kopi yang dulunya milik Belanda). Front Padangkaghit dipimpin Lettu Yahya Bahar. Untuk menghambat pasukan Belanda yang akan masuk lewat Tanjungtebat, Jerambah Ndikat terpaksa dihancurkan. Penghancuran ini dilakukan oleh prajurit Agam dan kawan-kawan.

Pimpinan pasukan Belanda yang sejak awal memperkirakan bahwa luang Ndikat sukar ditembus, juga melakukan pengiriman pasukan melalui jalan Jepang, yang bisa tembus ke Simpang Rantau-unji, Front Selangis, Front Padangkaghit, Kota Pagaralam, dan terus ke daerah Impit Bukit . Pasukan TNI, lasykar pejuang, dan rakyat, melakukan perlawanan sengit di Front Selangis Besar. Namun, karena persenjataan yang tidak seimbang, perlawanan ini dapat dipatahkan oleh Belanda. Pasukan TNI, lasykar, dan rakyat pejuang terpaksa melakukan gerakan mundur ke hutan-hutan, untuk selanjutnya melakukan perang gurilah (gerilya), melakukan penghadangan-penghadangan di tempat-tempat strategis dengan memasang landsmijn (ranjau darat).

Politik Bumi Hangus

Pihak TNI, lasykar, dan rakyat pejuang melakukan politik bumi hangus, terutama terhadap bangunan-bangunan milik Belanda, agar tidak dapat dipergunakan lagi oleh pasukan Belanda. Misalnya, pembumihanguskan bangunan di kompleks BPM Jerambah Beringin, Demperiokan, kantor wedana, tangsi polisi, dan bangunan-bangunan di Perkebunan Teh Gunung Dempo.

Peran Tanjungsakti

Tanjungsakti mempunyai peranan yang sangat besar, terutama setelah pimpinan teras TNI, yang sebelumnya bermarkas di Lubuklinggau, dipindahkan ke Curup, ke Muara-aman, dan akhirnya ke Tanjungsakti. Pimpinan teras TNI ini dipimpin oleh Kolonel Bambang Utoyo dan Kepala Stafnya adalah Kapten M. Yunus. Tanjungsakti juga menjadi pusat pemerintahan sipil Keresidenan Palembang yang dipimpin Residen Abdul Rozak. Demikian pula Bupati Amaluddin, Wedana Wani, Wedana Ibrahim, Wedana Abdullah Sani, Sidik Adiem (kepala penerangan), dan lain-lain berada di Tanjungsakti. Dari kepolisian Keresidenan Palembang terdapat nama-nama Komisaris Polisi Sugondo, Inspektur Polisi Taslim Ibrahim, Inspektur Polisi Abdullah Amaluddin. Inspektur Polisi Palma, Yasin, dan Cek Umar. Kepala penerangan dan kepala kesehatan juga berada di Tanjungsakti, serta masih banyak tokoh pejuang lainnya, misalnya Rasyad Nawawi, Satar, Nurdin, Syamsul Bachri Umar (Tatung), Idham, Djarab, Nurdin Ibrahim, Bachrun Umar, Basri, Ali Syarif, Sahid, Munir, Cek Asim, dan lain-lainnya. Dari Tanjungsakti dikendalikan pemerintahan dan pengaturan taktik dan strategi melawan Belanda. Untuk mengatasi kesulitan alat tukar, dicetak uang kertas “OERIP” (Oeang Repoeblik Indonesia Perdjoeangan).

Pasukan Belanda mengetahui tentang keberadaan pemerintahan sipil dan kekuatan militer di Tanjungsakti. Oleh karena itu, mereka melakukan serangan-serangan dengan menjatuhkan bom di beberapa tempat. Beberapa di antaranya meluluhlantakkan beberapa rumah. Tetapi banyak juga yang tidak meledak, yang kemudian digunakan oleh TNI sebagi bahan untuk merakit senjata guna melawan pasukan Belanda. Dapat dikatakan, bahwa Tanjungsakti tidak pernah diinjak oleh kaki tentara Belanda yang ingin menjajah kembali dan Tanjungsakti merupakan satu-satunya pertahanan di Kabupaten Lahat yang mampu bertahan sampai penyerahan kedaulatan bulan November 1949 (mendahului penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949).

Demikianlah kilas balik perjuangan rakyat di Kewedanaan Tanah Pasemah, mulai dari zaman “Lampik Empat Merdike Due”, “Sindang Merdike”, dan “Si Penjaga Batas”, hingga penyerahan kedaulatan, yang karena perlawanan gigih, ulet, dan pantang menyerah dari TNI, Lasykar, Tentara Pelajar, Pemuda Putri Besemah di Pagaralam di sekitarnya, serta rakyat pejuang pada umumnya, tanpa berlebihan dan tanpa perasaan chauvinisme, kita dapat menyebut Kota Pagaralam sebagai “Kota Perjuangan”. Sejarah yang sangat heroik ini perlu selalu dikenang dan dijadikan pedoman dalam mengisi kemerdekaan, juga tidak lupa akan selalu menghormati jasa para pahlawan, khususnya yang gugur di. Tanah Besemah.


METODOLOGI

1. Latar Belakang

Asal-usul suku Besemah yang ditulis oleh Belanda sebagai suku yang “aneh” (merkwaadgste stammen), baik berdasarkan pendekatan kebudayaan (arkeologis) maupun berdasarkan legenda atau mitos Puyang Atung Bungsu, Puyang Diwate, Puyang Singe Bekurung, Puyang Pedane, Puyang Tanjung Lematang, Puyang Riye Lasam, dan puyang lain-lain; serta hubungannya dengan Semende, Kisam, Kikim, Ogan (Semidang Alundua), Semidang Gumay dan Semidang Alas di Bengkulu Selatan dan Palas Besemah di Lampung Selatan, serta terbentuknya/berdirinya dusun-dusun di Besemah.

- Mengapa ada sebutan Besemah yang berbeda-beda, misalnya: ada Besemah Libagh, Besemah Ayik-keghuh, Besemah Ulu Lintang, dan Besemah Ulu Manak dan sebagainya.

- Sebab-sebab terjadinya gerak menyebar suku-suku Besemah.

- Apa yang dimaksud dengan sistem pemerintahan “Lampik Empat Merdike Due”.

- Apa yang dimaksud dengan tugas dan peran orang Besemah sebagai “Sindang Mardike” dan “si Penjaga Batas” dalam hubungannya dengan Kesultanan Palembang.

- Sampai sejauh mana efektivitas pemerintahan Kesultanan Palembang di daerah Besemah dengan sistem pengangkatan raban dan jenang, yang kemudian digantikan dengan kepala-kepala divisi oleh pemerintah Belanda.

- Bagaimana gigihnya perjuangan prajurit-prajurit Besemah dalam mempertahankan daerahnya, seperti yang diperlihatkan dalam perang di Kute Penandingan, Kute Menteralam, Kute-agung, Kute Tebatseghut, dan lain-lain.

- Apakah dasar atau argumentasi sehingga Kota Pagaralam disebut “Kota Perjuangan”.

Berdasarkan uraian di atas, penyusunan sejarah Besemah akan dibuat menjadi beberapa bab. Mudah-mudahan, terbitnya tulisan ini menjadi buku dapat memberikan gambaran yang agak utuh mengenai sejarah asal-usul suku Besemah dan bagaimana perjuangannya dalam mengusir kekuasaan asing (Belanda, Jepang, dan Inggris).

2. Ruang Lingkup Waktu

Ruang lingkup waktu meliputi kurun waktu 1828-1949. Tahun 1828 ditetapkan sebagai awal perjuangan berdasarkan peristiwa orang-orang Besemah, Kisam, Semende, dan Mengkakaw melakukan serangan ke beberapa dusun yang dikuasai Belanda sampai mendekati Gelumbang, sedangkan tahun 1949 ditentukan berdasarkan terjadinya penyerahan kedaulatan atas Indonesia oleh Belanda.

3. Ruang Lingkup Geografis

Wilayah yang menjadi sasaran penelitian adalah eks Kewedanaan Tanah Pasemah yang meliputi empat kecamatan tempo doeloe, yaitu Kecamatan Kota Pagaralam, Kecamatan Kute-agung, Kecamatan Jaray (termasuk Lintang Empat Lawang), dan Kecamatan Tanjungsakti; atau meliputi wilayah utama: Sumbay Besak (Sumbay Besar), Sumbay Ulu Rurah (Sumbay Ulu Lurah), Sumbay Pangkal Lurah yang disebut juga Sumbay Tanjung Ghaye (Sumbay Tanjung Raya), Sumbay Mangku Anum, , Sumbay Penjalang dan Sumbay Semidang. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk menyebut beberapa daerah di luar eks Kewedanaan Tanah Pasemah, asal ada relevansinya dengan peristiwa sejarah perjuangan rakyat Besemah, terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi di Kabupaten Lahat atau dari struktur hirarki organisasi militer dengan ibukota Provinsi Sumatera Selatan (Palembang), misalnya dalam pembentukan badan-badan perjuangan, seperti Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR), Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

4. Tujuan Penelitian

1) Sejarah suku Besemah pada masa lampau yang ditulis oleh penulis-penulis Belanda sebagai suku yang “aneh’ hampir tidak diketahui oleh masyarakat Besemah sekarang. Oleh karena itu, perlu diungkapkan, meliputi: asal-usul, sifat, watak, dan perilaku, serta daerah geografisnya.

2) Untuk mengetahui mengapa terdapat beberapa sebutan Besemah, seperti Besemah Libagh, Besemah Ulu Manak, Besemah Ulu Lintang, Besemah Ayik Keghuh dan lain-lain.

3) Untuk mengetahui hubungan suku Besemah dengan Kesultanan Palembang, misalnya tentang ketaatannya. Apa yang dimaksud dengan “Sindang Merdike” dan si “Penjaga Batas” yang diberikan kepada suku Besemah.

4) Untuk mengetahui bagaimana heroiknya perlawanan rakyat Besemah pada kurun waktu 1828-1866 yang hanya bersenjata sederhana sanggup melawan Belanda yang bersenjata lebih modern, lebih berpengalaman, dan merupakan tentara reguler.

5) Untuk mengetahui bagaimana penderitaan orang Besemah pada masa pendudukan Jepang, arti penting pendidikan militer Gyugun di Pagaralam, perebutan senjata di Asano Butai Bumiagung, di Gununglilan, di kompleks BPM (Bataafsche Petroleum Maatschapij) Jerambah Beringin, dan Karangdale.

6) Untuk mengetahui bagaimana peranan dan perjuangan rakyat di eks Kewedanan Tanah Besemah, terutama pada waktu Agresi Militer II Belanda yang banyak memakan korban baik jiwa maupun harta. Pada waktu Agresi Militer I, Belanda baru dapat menguasai kota Lahat dan sekitarnya.

5. Manfaat Penelitian

1) Berguna bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang agar mereka menyadari bahwa suku-suku dan sumbay-sumbay Besemah berasal dari keturunan yang sama. Kesadaran ini dapat menghindari pertengkaran atau permusuhan sesama mereka yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

2) Berguna sebagai pewarisan budaya (cultural transmission) yang dapat menjadi perekat guna menghindari disintegrasi eksistensi suku-suku Besemah.

3) Berguna untuk mewariskan jiwa dan nilai patriotisme yang dimiliki masyarakat Besemah yang berjuang pada kurun waktu 1828-1949.

4) Berguna sebagai bahan bahan pengajaran muatan lokal dalam proses belajar-mengajar dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, terutama di Kota Pagaralam dan di Kabupaten Lahat.

6. Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk menyusun buku ini adalah metode historis. Metode ini berupa pengumpulan data-data atau sumber-sumber sejarah (sources) yang disebut heuristik. Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Museum Nasional di Jakarta, ada beberapa sumber yang sangat berguna, yaitu, antara lain:

1) Piagam yang dikeluarkan oleh Sultan Palembang pada abad ke-17 yang ditujukan kepada pengiran-pengiran (pangeran) di Tanah Besemah, seperti kepada Pengiran Tanjungkurung, Pengiran Petani, dan lain-lain, yang ditulis di atas lempengan perak.

2) Manuskrip “Soerat Assal Oerang Mendjadikan Djagat Passoemah” di Museum Pusat dengan nomor kode ML 608 CBR 157 VIII.

3) Manuskrip “Sejarah Pasemah”, dengan nomor kode ML 234.

4) “De Expedetie Tegen de Pasoemah Landen”: Een Uitverige Bechrijving dezer Expedetie.

5) Een Woord over de Pasoemah Expedetie.

6) Lets Betreffende de Verhouding der Pasoemah Landen tot de Sulthans van Palembang, dalam TBB, 1855.

7) R.M. Hens, Het Grandbezit in Zuid Sumatera.

8) Catalougs van Eene Verzameling van Kunstinverheid uit de Hoofdstad Palembang een De Landstreek Pasemah Lebar.

9) Simboer Tjahaja dan Adatrecht Bundel.

10) Oendang-oendang of Verzameling van Voorschriften in de Lematang

Oeloe en Ilir en Pasemah Landen.

11) J.S.G. Gramberg, “Pasemah”.

12) H. Visser, Lets over het Landschap de Pasemah Oloe Manna.

13) Kamil Mahruf, Nanang S. Soetadji, dan Djohan Hanafiah, Sumatera Selatan Melawan Penjajah Abad 19 dan Pasemah Sindang Merdika 1821-1866.

14) Dan lain-lain (Lihat Daftar Pustaka).


Selain itu, digunakan juga sumber-sumber lokal yang ditulis oleh para pejuang setempat yang menulis semacam memoir, catatan-catatan perjuangan atau buku kenang-kenangan yang jumlahnya cukup banyak, misalnya yang ditulis oleh Depati M. Hasyim dusun Pagargading, Agam, Djarab dusun Pelangkendiday, Sjamsoel Bachri Umar (Tatung), Prof. Bakry Hamid, M. Samiri dusun Jentik-an, Hasan Azhari Pagarkaye, Usman Nangtjik, dan lain-lain. Tidak kalah pentingnya apa yang telah ditulis oleh M. Saman Loear, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk guritan, dan juga sangat penting artinya apa yang telah diusahakan oleh Kapten (purn) Sanaf dusun Karangtanding (Jaray) dan kawan-kawan yang telah menghasilkan 14 jilid buku hasil wawancara dengan tokoh-tokoh pejuang dari berbagai daerah di Sumatera Bagian Selatan (360 tokoh , di antaranya ada yang menyangkut mengenai perjuangan di Kota Pagaralam. Dokumen ini ada di Perpustakaan Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat) di Palembang. Khusus untuk Kota Pagaralam dan sekitarnya dilakukan inventarisasi pelaku-pelaku dan saksi-saksi sejarah, kemudian dilakukan interview secara mendalam dengan mendatangi dusun-dusun yang dianggap berperan penting. Jika pelaku dan saksi sejarah telah meninggal, interview dilakukan terhadap keluarga terdekat, sekaligus meminta dokumentasi foto-foto. Interview dilakukan secara simultan melalui pertemuan/rapat atau semacam lokakarya yang diselenggarakan pemerintah Kota dan Legiun Veteran Kota Pagaralam. Selain itu, dibuat dokumentasi berupa foto-foto di tempat-tempat bersejarah dan foto-foto para pelaku atau saksi sejarah.

7. Landasan Pendekatan dan Teori yang Dipergunakan

Pendekatan yang digunakan adalah adalah pendekatan multidimensional (antropologis, sosiologis, dan politis). Pendekatan antropologis, terutama antropologi budaya, dapat digolongkan menurut pendekatan-pendekatan khusus yang ada dalam sub-sub disiplin dari antropologi, misalnya: (1) antropologi prasejarah; (2) antropologi bahasa, dan (3) etnologi yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu pendekatan diakronik dan pendekatan sinkronik (Beals, 1953:173-176). Pendekatan diakronik bertujuan untuk mencapai pengertian mengenai kebudayaan suatu suku bangsa atau bangsa dengan meneliti asal mulanya, sejarah persebarannya, dan perkembangannya. Sedangkan pendekatan sinkronik dipakai untuk melihat mitos asal-usul suku Besemah. Untuk mengetahui asal-usul dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, yang tidak terdapat dalam sumber-sumber tertulis, digunakan metode wawancara geneologis (Koentjaraningrat, 1984:6).

Selain pendekatan antropologis, tulisan ini juga mempergunakan pendekatan sosiologis dan politis. Pendekatan sosiologi yang menggunakan konsep-konsep atau teori-teori sosiologis diperlukan, terutama dalam kaitannya dengan analisis mengenai perubahan struktur dan fungsi suatu sistem sosial (Garne, 1977:19; Appelbaum, 1970:49) yang diakibatkan oleh masuknya pengaruh Belanda di daerah pedalaman Besemah (Malinowski, 1966:11-12). Bersama-sama dengan pendekatan politis dicoba pula untuk mengetahui sampai sejauh mana kekuasaan yang dimiliki oleh elit tradisionalnya (kepala sumbay).

Perubahan struktur masyarakat menyangkut perubahan status golongan sosial, menimbulkan pergeseran peran, serta fungsi dari lembaga-lembaga lama ke lembaga-lembaga yang baru. Elit tradisional merasa terancam perannya dalam masyarakat. Lembaga-lembaga lama semakin tidak berfungsi. Status “Sindang Merdike” yang sejak lama dimiliki oleh orang-orang Besemah menjadi terancam. Padahal status ini menyangkut harga diri mereka yang sangat mendalam, terutama bagi elit tradisionalnya. Beberapa besarkah power atau authority (Soemardi, 1962:359-360) yang dimiliki oleh raja/sultan dari Kesultanan Palembang terhadap kepala-kepala sumbay di Besemah.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik. 1974. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,

Agus, Ali. 1978. “Batalion XVI STP”. Catatan Pribadi. Palembang

Alam, Asnawi Mangku. 1997. Kesan dan Pesan. Jakarta: Indah Mas

_______. 1985. Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang. Jakarta: PT Grapitas

_______. 1992. Pasca Perang Kota Palembang. Jakarta: PT. Inspirasi

_______. 1999. Buku Putih Mengenai Kemurnian Perjuangan Kemerdekaan di Sumatera Selatan. Jakarta: Tanpa Nama Penerbit.

Amin, Ali. 1998. Kesan-Kesan Dalam Kehidupan Dan Dalam Berkarya : Pengalaman Pegawai Tiga Zaman. Palembang: Pemda Sumsel.

As’ad Djamiri. 1979. Ikhtisar Sejarah Perjuangan ABRI (1945-sekarang). Jakarta: Departeman Pertahanan-keamanan Pusat Sjarah ABRI.

Bos, F.R. dan J.F. Niermeyer.1947. Schoolatlas der Gehele Aarde. Groningen, Batavia: J.B. Wolters’ Uitgeversmaatschappij N.V

Bangun, Payung dan RZ Leirissa. 1996. Berbagai Tanggapan dan Komentar Mass Media Tantang Kolonel M. Simbolon. Jakarta: Yayasan Bina Bangsa Indonesia.

_______. 1996. Kolonel Maludin Simbolon Liku-liku Perjuangannya dalam Membangun Bangsa. Pustaka Sinar Harapan.

Disjarah TNI-AL. 1970. Sejarah TNI-AL 1945-1950. Jakarta: Disjarah TNI-AL.

Dim. Moehammad. 2001. Kronologis BPKR-TKR-TRI-TNI dai Lahat (II)., (Catatan Pribadi).

Dim. Ali Kasim, dkk. “Pagaralam di Lembah Gunung Dempo dan Lahat di Hamparan Bukit Serelo adalah Kota Embrio dan Cikal Bakal Angkatan Perang Republik Indonesia Dengan Kobar Juangnya”. Lahat, 1992, (Catatan Pribadi)

Djarab, Hendarmin. 1999. Lima Puluh Tahun Perkawinan Emas Kol. Purn H. Djarab dan Ibu Hj. Rosminah. Jakarta: Tanpa Nama Penerbit,

Djusse M. 2001. “Sejarah Perjuangan TNI dan Rakyat didaerah Pagar Gunung Lahat pada Tahun 1945 dan Gerilya Tahun 1949”. Lahat, (Catatan Pribadi).

Effendi, Danny. 1973. Gema Perang Rakyat di Sumatera Selatan 1945-1949. Jakarta Tanpa Nama Penerbit.

Emmerson, Donnald K. 1976. Indonesia Elite. London : Cornell University Press.

Fredrick, William H. dan Soeri Soerato. 1982. Pemahaman Sejarah Indonesia. Jakarta: PT Djaya Pirusa.

Gani, Ruslan Abdul. 1963.Penggunaan Ilmu Sejarah. Bandung: Prapanca.

Garrdinner, Patrick, 1965. The Nature of Historical Explanation. London :Oxford Unipersity Press,

Gde Agung, Ide Anak Agung. 1983. Renville, Jakarta: Sinar Harapan.

Hugiono dan RK Peorwantana. 1993. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ismail, Hatta. Berdayung di Tegah Riak Gelombang kehidupan. Palembang: Unanti Press, 2001.

______. 2002. “Pelajar Pejuang /Tentara Pelajar Sumatera Bagian Selatan Tahun 1948 di Tanjung Karang. Palembang” (Catatan Pribadi).

Karma, Mara. 2001. Ibnu Sitowo Mengemban Missi Revolusi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,

Kamal, Murni. 1986. Historis Lembaga Pendidikan Taruna Opsir Muda Dari Sumatera Bagian Selatan di Palembang. Palembang ( Catatan Pribadi).

Kartodirdjo, Sartono. Beberapa Masalah Teori dan Metodoliogi sejarah, jilid 7. Yogyakarta Fakultas Sastra Kebudayaan Universitas gajah Mada, 1970.

_______. Pemikiran dan Pengembangan Hostoriografi Indonesia Skala Alternatif. Jakarta: PT Gramedia, 1982

Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yokyakarta, Rineka Cipta, 1995.

Pemerintah Kota Pagaralam. 2003. Selayang Pandang Pembangunan Kota Pagaralam

Mahruff, Kamil, dkk. Pasemah Sindang Merdika. 1921-1966. Jakarta : Pustaka Asri, 1999.

Mayerhoff, Hans. (Ed), The Philosophy of History in Our Time. New York:Alfred A Knooft,1950,

Nahwi, Ahmad. Perjuangan Sub Komandemen Sumatera Selatan (Subkoss) Garuda Srwijaya. Lubuk Linggau, Perwakilan Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya, 1992.

Nangtjik,Oesman dan iskandar Gani. dr AK. Gani Pejuang yang Berwawasan Sipil dan Militer. Jakarat: PT. Multi Harun, 1990.

Nasution, abdul Haris. Tentara Nasional Indonesia. Bandung: Ganaco NV, 1963.

Pokok-pokok Gerilya dan Pertahanan RI di Masa Yang Lalu dan Yang Akan Datang. Bandung: Angkasa, 1980.

Ratu Perwiranegara, Alamsyah. Perjuangan Kemerdikaan di Sumatera Selatan 1945-1950. Jakarta: Tanpa Nama Penerbit,1987.

Said, Abi Hasan.Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah. Jakarta: PT. Mampang Indah Pratama. Yayasan Krama Yudha,1991.

Loear, M. Saman, Guritan Jagat Besemah. Pagaralam: Elca, 1972.

Sardjono, V DAN GL Marsadji. Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)

Penyelamat Negara dan Bangsa Indonesia. Jakarta: Tintamas Indonisia 1982.

Sidik, Jafri. Sekelumit Pengalaman Perjuangaan Kemerdekaan Repubelik Indonesia di Sumbagsel. Bengkulu, 2001(Catatan Pribadi ).

Suetardji, Nanang S. Sumatra Selatan Melawan Penjajah abad 19. Jakarta: Millenium Publisher PT. Dyatama Millenia, 2000.

Suparman, dkk. H.Alamsah Ratu Perwira Negara Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu. Jakarta: Sinar Harapan, 1995.

Suwondo, S. Purbo, dkk. Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa dan Sumatera 1942-1945. Jakarta: Pustaka Sinar harapan, 1996.

Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Invertarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional,

1992. Team Kodam IV/Srwijaya. Sejarah Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang Tanggal I – 5 Januari 1947. Pelembang: Komando Wilayah Pertahanan I Kodam IV Sriwijaya, 1982.

Umar, Sjamsul Bachri. Gugurnya Seorang Pahlawan di Kaki Gunung Dempo Pada Waktu Merebut Kekuasaan Dengan Tentara Jepang. Palembang:, 1965b(Catatan Pribadi).

______. Tanjung Sakti Salah Satu Daerah RI Yang Tidak Dimasuki Oleh Tentara Belanda. Palembang, 2000. ( Catatan Pribadi).

______. Sejarah Singkat Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1950. Lahat, 2002.(Catatan Pribadi).

Veeger J Karel. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993.

Walsh, W. H. Meaning in History dalam Patrick Gardener Theories of History. New York: The Freee Press, 1959.

Anoname. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949 di Kabupaten Lahat. Lahat: Pemerintahan Kabupaten Lahat, 2000.

______. Sejarah Perjuangan Rakyat Sumatera Bagian Selatan Pada Masa Revolusi

Kemerdekaan Tahun 1945-1950. Palembang; Pemerintah I Sumatera Selatan, 1986.

______. Pesan dan Kesan dalam Mempringati Hari Jadi I Yayasan Pejuangan

Subkoss Garuda Sriwijaya. Musi Rawas: Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda 1989.

______. Sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera 1945-1950. Jakarta: dinas Sejarah TNI Angkatan Darat 1972.

______. Mengenang Perjuangan SUBKOSS Garuda dalam Membela Kemerdekaan. Lubuk Linggau : Yayasan Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya, 1988.

______. Sejarah perang Kemerdekaan di Sumatera 1945-1950. Medan : Dinas Sejarah Kodam II Bikit Barisan, 1994.

______. Kenangan Tiaga Puluh Komando Militer IV Sriwijaya. Palembang;sejarah Militer IV Sriwijaya 1975.

______. Republik Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. Palembang: Jawatan Penerangan, 1954.

______. Data Perjuangan Rakyat Sumbangsel. Palembang: Yayasan Bhakti Pejuang 1986.

______. Sejarah Perkembangan Pemerintah di Daerah Sumatera Selatan. Palembang : Pemda TK. I. Sumsel, 1996.

______. Undang-undang Simbur Tjahaja. Palembang : Badan Penerbit Suara Rakyat. 1970.




Sumber :
http://jrputra.multiply.com

0 comments:

Rejang Land Pal

Support by