weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Menguak open email dari Rana Minang : EGYPTIAN AND WEST SEMITIC WORDS IN SUMATRA'S REJANG CULTURE

Menguak open email dari Rana Minang : EGYPTIAN AND WEST SEMITIC WORDS IN SUMATRA'S REJANG CULTURE

·

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]]On Behalf Of Marven
Sent: Tuesday, August 22, 2000 5:02 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [Rantau-Net] "MINANGKABAU STORY"


Nan kisah sarupo ko pernah juo Ambo baco. Tapi nan jadi tando-tanyo apokah
kisah iko tu ado bukti tertulisnyo samacam batu basurek baitu? Atau hanyolah
sebagai Tambo, carito turun temurun! Padahal Urang Minang lebih mirip urang
Asia dari Urang Macedonia na Eropa tu! Jadi darima sabananyo asal-usul urang
Minang ko dengan adaiknyo yang agak balain dari suku lain di Nusantara ko?
Mungkinkah ado ahli sejarah yang manaliti dan bisa manjawabnyo?
===================================


Dalam membaca bahwa nenek moyang orang Minang keturunan Alexander The Great
sebaiknya kita memposisikan diri seperti membaca cerita-cerita mitos suku
Asmat di pedalaman Irian bahwa nenek moyang mereka adalah dewa-dewa yang
tinggal di tempat-tempat yang tinggi. Atau seperti membaca mitos raja-raja
di negara kuno di Afrika, Birma atu Polinesia dalam memelihara kekuasaan.
Bahkan dalam abad moderen ini masih terdapat klaim bahwa diri mereka adalah
keturunan Dewa matahari atau memegang titah dari dunia gaib untuk menjaga
keamanan dan ketentraman negara. Hal-hal seperti ini amat mudah di temukan
dalam buku-buku sastra kuno sebab klaim keramat dibutuhkan oleh para
pemegang kekuasaan negara kuno sebagai pusat orientasi yang dapat memberikan
rasa identitas kepada mereka.

Ketika kesatuan sosial berubah dari kelompok menjadi, suku atau suku
berkembang berubah jadi masyarakat negara, ketika penduduk tidak lagi
berjumlah puluhan melainkan ratusan atau ribuan dan tersebar dalam wilayah
luas yang sulit dicapai dalam lemparan batu, penguasa negara tradisional
membutuhkan suatu kepemimpinan dimana komponen keabsahan menjadi susuatu
yang sangat penting. Keabsahan itu tak cukup melalui kewibaan yang bersumber
pada keahlian, ketrampilan, dan kepandaian dalam hal-hal tertentu saja.
Disamping itu sebagai manusia biasa amat sulit memenuhi selera semua warga
negara yang jumlahnya beratus-ratus yang tentunya juga mempunyai kebutuhan,
kehendak, serta keyakinan yang berbeda-beda pula. Sebagai jalan ke luarnya
mereka menggunakan konsep-konsep religi guna memaksakan keseragaman
orientasi pada seluruh warga negara. Pusat orientasi yang dikeramatkan ini
kemudian memang bisa menjadi alat yang kuat untuk menyeragamkan banyak
kebutuhan dan kehendak dalam menjaga loyalitas kepada negara yang
buntut-buntutnya kepada sang penguasa.

Tapi kemudian kekuasaan itu harus di turunkan. Didalam banyak negara
tradisional, kesinambungan kepemimpinan kerajaan berdasarkan keabsahan
keturunan, harus di perkuat lagi dengan keyakinan bahwa garis keturunan
dapat ditarik lebih jauh lagi bahkan sampai ke dewa-dewa. Dengan demikian
keabsahan keturunan tidak hanya kuat bahkan juga keramat.

Tampaknya hal yang demikian itu terjadi pula dalam kebudayaan Minangkabau
kuno.Penguasa saat itu membutuhkan legitimasi heroic Alexander yang bernenek
moyang Macedonia dengan hanya 30,000 atau 40,000 tentara mampu menginvasi
Asia Minor, lalu merangsak hampir ke Troy. Setelah mengalahkan Persia ia
meneruskan legendanya kearah timur Syria dan membuat Darius III bertekuk
lutut. Setelah itu ia mengepung Phoenicia dan kembali mengalahkannya.
Dari Syria, Alexander meneruskan barisan penaklukannya sampai ke Mesir,
menyebut dirinya sendiri sebagai Pharaoh dan menerima penyembahan sebagai
putra Amon, dewa yang disembah masyarakat Mesir ketika itu.

Cerita-cerita heroic serupa ini lah-- yang kalu benar sewaktu duduk di SD di
katakan pada kita bahwa nenek moyang orang Indonesia itu datang Asia Minor,
India, china Selatan -- yang bisa di hubungkan kepada nenek moyang orang
Minang. Kalau membaca laporan penelitian Charles Jones yang berjudul
EGYPTIAN AND WEST SEMITIC WORDS IN SUMATRA'S REJANG CULTURE tampaknya ada
lagi sekelompok orang dari Phoenicia dan Mesir yang datang ke Sumatera
dengan membawa bahasa mereka dan memberi pengaruh kebudayaan pada kelompok
bahasa astronesia di mana Minangkabau adalah satu rumpunnya. Dan kalau yang
terakhir benar adanya, tampaknya cerita seputar Alaxander the Great bukanlah
isapan jempol belaka. Setidaknya walau kita bukan keturunan Alexander The
Great kita adalah keturunan orang-orang yang telah ditundukkannya . :>)


Evi

http://www.mail-archive.com/rantau-net@rantaunet.com/msg01642.html







0 comments:

Rejang Land Pal

Support by