weblogUpdates.ping Taneak Jang, Rejang Land, Tanah Rejang http://rejang-lebong.blogspot.com Taneak Jang, Rejang land, Tanah Rejang: Kuburan PKI di Bengkulu

Kuburan PKI di Bengkulu

·



Oleh : Wilson


08 Nov 2004 - Dari tanggal 5 s/d 10 Oktober lalu aku sempat jalan-jalan ke Bengkulu dalam rangka penelitian "Dokumentasi Gerakan Sosial-Politik Bengkulu" yang dikerjakan oleh Praxis dengan dukungan dari kawan-kawan Perhimpunan Kantor Bantuan Hukum Bengkulu (KBHB).

Hal yang paling luar biasa, tanpa gembar-gembor di' Jakarta' adalah pembangunan gerakan sosial yang massif dan teroganisir baik disana berbasiskan petani dan nelayan. Gerakan sosial ini di wadahi dalam Serikat Tani Bengkulu (STAB) dan Serikat Nelayan Bengkulu (SNEB).

Kekuatan gerakan sosial ini diungkapkan oleh mereka dengan kalimat "dikota kita memang kalah, tapi digunung-gunung, kami berkuasa".
Ungkapan ini betul-betul nyata dalam pemilihan anggota DPD secara langsung dimana STAB dan SNEB mencalonkan Muspani SH, direktur KBHB sebagai calon DPD. Dan hasilnya sudah kita tahu, Muspani menang dan sekarang hadir disenayan, mungkin satu-satunya wakil dari rakyat, dicalonkan oleh tani dan nelayan. Di kota-kota, Muspani kalah, tapi di basis-basis STAB dan SNEB di pantai dan di gunung-gunung Muspani tidak terkalahkan.


Dari sinilah aku menemukan satu fakta yang unik, suatu kebetulan yang tidak sengaja ditemukan dalam penelitian di Kecamatan Curup, Kab.Rejang Lebong dan Kecamatan Seginim di Kab. Bengkulu Selatan, dua wilayah pengorganisiran tani, dimana Muspani mendapatkan suara yang signifikan.

Dari ngobrol dengan pimpinan gerakan tani disana dan beberapa saksi mata didapat kenyataan bahwa kedua kecamatan tersebut dulunya adalah basis terkuat BTI di Bengkulu. Lalu aku menanyakan apa yang terjadi dengan orang-orang BTI itu sekarang dan ditahun 1965 dahulu?

Dari pak Hamdan, Ketua STAB kec. Curup, yang sekarang sedang memimpin perlawanan petani melawan PT Agroteh yang di backup pemerintah daerah, didapat sebuah tempat yang menjadi 'rahasia umum' disana dengan sebutan "KUBURAN PKI". AKu kaget, " jadi kuburan itu ada dua jenis tokh di Curup, kuburan PKI dan kuburan non PKI,"........mereka Cuma ketawa.

Nama 'kuburan PKI' ternyata diberikan oleh penduduk di Curup untuk sebuah 'jurang' di desa Tabarenah yang diakui oleh penduduk sebagai tempat pembantaian massal atas anggota BTI dan PKI di tahun 1965.

Menurut mereka, setelah kejadian 65, tentara dan milisi sipil menangkapi para aktivis BTI dan PKI lalu di bawa ke jurang di desa Tabarenah. Di tepi jurang itu mereka dibunuh dengan cara ditembak atau dengan senjata tajam (pedang, golok). Setelah itu mayatnya dimasukan dalam karung goni. Lalu para eksekutor menggali lubang dangkal dan memasukan karung tersebut, lalu ditutup seadanya. Ketika aku tanya berapa jumlah yang dieksekusi. Mereka tidak dapat menjawabnya, kecuali dengan kata ratusan. Karena digali dengan dangkal, menurut pak Hamdan, kuburan masal tersebut menjadi tempat favorit anjing-anjing kampung. Banyak tulang-tulang yang digali oleh anjing dan dibawa sampai kekampung ditahun-tahun awal setelah pembantaian. Beberapa penduduk yang sudah sepuh/tua masih hidup dan menjadi saksi mata yang dapat menunjukan dengan persis kuburan tersebut, termasuk beberapa mantan BTI yang selamat dan masih hidup, juga orang yang mengaku terlibat dalam pembantaian tersebut.

Dari keterangan tersebut aku dan kawan-kawan KBHB lalu menuju jurang yang disebut oleh penduduk dengan sebutan "Kuburan PKI' tersebut. Tidak mudah untuk mencarinya sebab disepanjang jalan desa tersebut memang curam dan banyak jurang dan ditumbuhi pohon besar.

Untuk mengecek apakah benar penduduk mengetahui tempatnya, kami bertanya pada seorang ibu berumur sekitar 40 tahunan yang sedang sibuk membantu membuat batu-bata ditepi jalan dengan pertanyaan. "Apakah benar ada Kuburan PKI disekitar sini". Ibu itu terkejut sebentar lalu mengiyakan dan memberikan petunjuk arah yang harus kami ambil. Artinya ibu ini tahu soal kuburan PKI tersebut dan tahu juga lokasinya. Kami lalu berjalan keatas dan menemui tiga orang penebang kayu, yang berumur 40-an tahun dan menanyakan tentang lokasi 'kuburan PKI' tersebut. Seorang tukang kayu dengan kaus PNI Marhaen berbaik hati mengantarkan kami kelokasi yang dikenal oleh penduduk setempat dengan ' Kuburan PKI tersebut.'

Lokasi kuburan massal tersebut memang dahulunya sebuah jurang, tapi sekarang oleh penduduk sebagian ditanami dengan pohon kopi. Menurut bpk tukang kayu tersebut, kuburan massal tersebut berada disekitar pohon besar yang ditandai dengan beberapa pohon 'berdaun merah' disekitarnya. Memang aku perhatikan dijurang disekitar pohon besar tersebut terdapat sejenis pohon berdaun merah disekitarnya.
Bapak itu sendiri tidak tahu siapa yang menanam pohon-pohon berdaun merah tersebut. Namun aku menduga, ada orang yang menanamnya sebagai semacam 'penanda' bahwa disana terdapat semacam kuburan massal.
Secara kebetulan aku menemukan suatu fakta yang mungkin semacam simbol yang membenarkan asumsiku bahwa pohon berdaun merah itu adalah 'penanda' kuburan masal 65. Ketika melewati beberapa kuburan penduduk di Curup, aku kaget, banyak sekali pohon berdaun merah yang memenuhi kuburan-kuburan penduduk setempat. Ternyata pohon sejenis itu, menurut asumsiku adalah semacan pohon yang menjadi simbol atau penanda kuburan, semacam pohon kamboja kalau di pulau Jawa sini.

[Menurut Mbak Sylvia Tiwon "Daun2 merah itu memang tanaman penanda. Kalau nggak salah, sejenis handeleum. Kalau di Sunda banyak dipakai untuk penanda sawah (kalau jalan2 ke arah Tasik, coba perhatikan). Ada muatan magisnya, dan merah selalu berkaitan dengan darah: ada persembahan darah yang menyuburkan bumi, ada yang membuat bumi menjadi haram."]

Kami lalu mengambil beberapa foto dilokasi 'kuburan PKI' tersebut.
Selepas dari 'kuburan PKI ' kami lalu pulang dengan mobil carteran menuruni gunung menjelang magrib. Tiba-tiba saja, seperti kisah misteri, hujan turun dengan lebatnya sehingga jalan licin dan berkabut. Di sebuah tikungan yang curam secara mendadak, dua ban mobil carteran kami pecah secara bersamaan, ban kanan depan dan ban kanan belakang. Kami dalam mobil terhenyak, kok bisa ban pecah dua sekaligus, depan-belakang? Ini kejadian yang tidak normal, tidak biasa dan sulit dipercaya kata sopir kami. Aku jelas tidak percaya dengan soal-soal magis, tapi kejadian ini seolah mengingatkanku sebagai suatu pesan kepada kami, agar berbuat sesuatu, jangan pulang begitu saja.......... "jangan lupakan kami". Akhirnya setelah mengirim seorang kawan turun gunung kami berhasil mendapatkan dua ban serep dan kembali ke Bengkulu.

Pada tanggal 8 Oktober kami mengadakan perjalanan ke Kecamatan Seginim di Bengkulu Selatan. Kecamatan ini dikenal sebagai sentra produksi padi di Bengkulu. Di kiri kanan jalan dapat kita temui areal sawah dan tambak ikan penduduk. Pokoknya kalau dilihat sepintas desa ini terlihat indah, damai, tentram dan penduduknya tampak giat bekerja, persis seperti dalam buku teks SD.

Di tengah kecamatan tersebut membelah sebuah sungai yang jernih dengan batu-batu kali berukuran besar. Penduduk menggunakan kali tersebut untuk mandi, mencuci, memasak dan berenang. Sementara anak-anak kecil tampak tertawa-tawa berenang di tepi kali jernih tersebut.

Namun, ditahun 1965, sungai bening ini menurut saksi mata dipenuhi mayat-mayat mengapung yang dibunuh dengan cara disembelih atau ditembak. Sebelum pembantaian kecamatan ini dikenal sebagai basis BTI.
Seperti gurauan Rudi, Ketua STAB disini, "para petani itu bukan PKI, tapi BTI". Menurut seorang saksi, berumur sekitar 75 tahun, orang-orang BTI tersebut ditangkapi dirumah-rumah oleh tentara dan milisi sipil lalu dipisah menjadi dua rombongan. Rombongan laki-laki dikumpulkan dan di bawa ketepi sungai. Rombongan wanita dikumpulkan dan di bawa kesebuah danau/rawa.

Aku bertanya lalu apa yang dilakukan setelah mereka dipisah dan dibawa kelokasi yang berbeda. "Disembelih oleh tentara dan penduduk lalu mayatnya langsung diceburkan kedalam sungai", kata bapak tua yang mengetahui kejadian tersebut. Mayat-mayat itu bahkan menurut ceritanya menjadi pemandangan 'menyeramkan' bagi penduduk di pantai dan muara sungai, karena tiba-tiba saja ratusan mayat mengapung seperti tidak ada habisnya dari arah hulu.

Bila rombongan laki-laki disembelih dan mayatnya dibuang kesungai, maka rombongan perempuan yang dituduh angota Gerwani, BTI dan PKI ini dibawa kesebuah rawa/danau ditepi hutan desa. Di danau/rawa ini mereka satu persatu dibunuh dengan cara ditembak atau 'disembelih' dengan senjata tajam. Mayatnya lalu diceburkan kedalam danau/rawa tersebut, yang biasanya tempat penduduk mencari ikan. Setelah kejadian tersebut, penduduk menghentikan 'pencarian ikan' untuk waktu yang lama.

Para anggota keluarga lainya seperti orangtua, anak, adik, kakak, suami atau istri dari korban pembantaian tersebut juga mengalami teror dari tentara, pemerintah dan dari para pemuka agama . Di tengah suasana teror tersebut datanglah pihak gereja memberikan bantuan logistik, perlindungan, pendampingan, doa dan perhatian untuk melewati masa-masa berdarah, penuh teror dan ketidak pastian. Suatu perlakuan yang sebaliknya dari kebanyakan para pemuka agama saat itu.

Secara berangsur akhirnya keluarga para korban 65 ini berpindah agama dari islam menjadi kristen. Lalu komunitas kristen di 'tengah' desa ini mendirikan sebuah gereja ditepi desa sebagai tempat beribadah, berkumpul dan bersosialiasi. Letak gereja ini agak jauh kepedalaman, sekitar 7 km dari pusat kecamatan. ( mungkin akan terasa aneh bagi orang yang baru berkunjung, kok ada gereja dipedalaman ditengah penduduk yang mayoritas islam). Sayangnya waktu sudah magrib ketika aku selesai wawancara, masih ada beberapa pimpinan serikat tani yang harus ditemui dan diwawancarai malam itu, jadi aku tak sempat mengambil foto gereja tersebut. Tapi aku sempat mengambil foto sungai yang menurut pengakuan menjadi lokasi pembantaian masal ditahun 1965 tersebut.

( Dan kejadian seperti di Curup kembali terjadi, ban mobil carteran kami pecah ....)

Apa yang terjadi di Bengkulu adalah sebuah tragedi kemanusian yang juga dialami oleh jutaan rakyat di Indonesia pada masa-masa transisi berdarah dari kekuasaan presiden Soekarno kepada kediktatoran militer Soeharto. Hanya saja, cerita dari Bengkulu, tanah kelahiran Fatmawati, Ibunda dari mantan presiden Megawati Soekarnoputri itu memang jarang terdengar. Selagi berkuasa Megawati hanya mengganti nama bandara di Bengkulu.
***

http://www.progind.net/modules/smartsection/item.php?itemid=186






0 comments:

Rejang Land Pal

Support by